
Saat masuk ke dalam kamar rawat Karin, Banu dapat melihat beberapa alat medis yang menempel pada anaknya itu. Banu maju mendekati Karin yang masih terbaring, saat memegang kaki bagian kiri Bamu dapat merasakan seauatu yang menyangka kaki Kaein agar keretakan tulangnya tidak semakin parah.
Mata Banu kembali meneteskan air matanya, hati ayah mana yang tidak akan sakit melihat buah hatinya terbaring koma seperti ini. Bahkan rasanya baru saja Banu melihat senyuman manis putrinya saat makan malam, sianh ini ia sudah melihat anaknya yang masih berjuang untuk sadar dari komanya.
"Karin putri papa sayang, kamu harus cepat sadar ya nak, papa mama sama abang Kara nungguin kamu disini, cepat bangun ya anak papa yang cantik" bisik Banu di telingan Karin.
"Kamu tahu nak, abang kamu di ruangan sebelah lagi nangis tadi nyariin kamu, dia pengen ketemu sama kamu bahkan waktu papa bilang mau lihat kamu abang juga mau kesini tapi belum bisa karena belum pulih jadi mama masih nemenin abang, sekarang papa yang nemenin kamu disini ya sayang"
Banu mengecup kening Karin bersamaan dengan air matanya yang menetes.
"Tidurlah kalo kamu masih capek ya nak, tapi jangan lama-lama papa kangen sama kamu mama abanh juga kangen sama kamu, kami semua kangen kamu dan pengen kamu cepet bangun, nanti kalo kamu bangun kita pergi jalan-jalan deh ya"
Banu terus bercerita pada Karin tentang segala hal yang ingin dia sampaikan pada putrinya itu. Bahkan Banu juga menceritakan masa kecil Karin saat mereka jalan-jalan dulu. Semua kenangan masa kecil Karin di ceritakan oleh Banu sembari terkekh sendiri karena geli mengingat bagaimana lucunya putri kecilnya itu.
Pintu terbuka bersama masuknya seorang wanita dan pria tua yang tidak lain kakek nenek Karin yang sudah tiba.
"Astaga cucuku!, apa yang terjadi padamu sayang" sesih nenek melihat keadaan Karin yang terbaring lemah.
"Ayah ibu kapan sampe?" tanya Banu menyalami kedua orang tuanya.
"Baru aja, tadi pagi begitu mas mu bilang kalo Kara sama Karin kecelakaan kita langsung berangkat" ucap kakek yang di angguki Banu.
"Sayangnya nenek, bangun nak ini nenek dateng sama kakek, kamu gak kangen nenek sama kakek hm?" ucap nenek menangis.
"Karin, kakek bawain mangga kesukaan kamu loh, bangun yok sayang kita makan mangga bareng" ucap kakek pula turut bersedih.
Kakek dan nenek terus berbagi cerita pada Karin yang terpejam, mereka seakan menumpahkan kerinduan pada cucu perempuan mereka itu yanh sudah lama tidak bertemu sejak di bawa ke kota.
Beberapa saat kemudian kakek dan nenek duduk di sofa yang ada di ruangan itu untuk istirahat. Sejak tiba di kota mereka memang langsung menuju rumah sakit karena sudah tidak sabar ingin melihat kedua cucunya.
"Mas Beni ikut yah?" tanya Banu pada kakek.
"Iyalah, memangnya ayahmu ini masih sanggup bawa mobil sampe sejauh ini apa?" ucap kakek bercanda untuk mencairkan suasana karena istrinya masih sedih melihat Karin.
"Nanyak doang yah, siapa tahu ayah nekat bawa ibu dari desa kekota berdua aja"
"Gundulmu itu, ibu ya gak mau kalo di boncengi ayahmu naik mobil kekota cuma berdua, ngeri banyak mobil juga yang ada ayahmu kaget duluan waktu di klakson mobil lain sebelum jalan jadi malah lebih bahaya" ucap nenek.
"Eleh si ibu sok nolak di boncengin ayah, padahal kalo di desa nempel terus kalo di bonceng naik motor" kata kakek.
"Itu kan naik motor di desa yah, kendaraan di sana gak sebanyak di sini, gak ada yang ugal-ugalan juga, lah disinikan beda toh" ucap nenek dengan logat jawanya.
"Iya beda bu, apa lagi boncengannya naik motor tua kita ya, walaupun tua motornya tapi masih ajeb" kata kakek yang malah di acuhkan nenek.
Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Tati juga Beni dan istrinya.
"Mbak Isa ikut juga" ucap Banu.
"Ya iyalah, nanti mas mu ini di gondol orang lagi kalo mbakmu gak ikut" canda Beni pada adiknya tapi dapat cubitan kecil dari istrinya.
"Becanda terus dari tadi ayah ini, orang lagi pada sedih juga" gerutu Isa pada suaminya.
"Namanya juga usaha bun supaya mereka gak terlalu sedih" Isa tidak mempersulikan ucapan suaminya dan lebih memilih mendekati keponakannya bersama Tati.
"Karin sayang ini mama nak, kamu kapan bangun hm, mama kangen" ucap Tati menangis melihat kondisi anaknya yang penuh luka dan alat medis.
"Karin, ini bude sayang, kamu kok malah tidur sih waktu bude dateng, gak kangen bude ya" ucap Isa pula.
Isa memang menyayangi Karin seperti putrinya sendiri karena ia yang tidak punya anak perempuan. Beni memiliki tiga anak laki-laki, jadi sewaktu Karin tinggal di desa mereka sangat menyayanginya dan memanjakannya.
Kalau bersama dengan ketiga anak Beni dan Isa maka Karin akan iku kegiatan mereka yang menarik menurutnya. Ketiga sepupu Karin itupun sangat menyayangi Karin dan menjaganya juga.
"Karin jangan lama-lama tidurnya ya, bude pakde sama yang lainnya kangen kamu sayang"
"Banunlah nak, kami semua di sini nunggu kamu" ucap Tati mengelus pipi anaknya pelan karena ada luka goresan di sana bekas kecelakaan.
Semua yang melihat dan mendengar ucapan kedua wanita itu hanya diam saja. Suasana yang tadinya sudah mulai mencair kembali sendu kala dua orang ibu mencurahkan kerinduan mereka.
"Banu, Tati, lebih baik kalian berdua istirahat dulu, ibu lihat kalian kelelahan banget" ucap nenek yang memang melihat raut lelah dan hampa di wajah kedua anaknya itu.
"Gak bu, Tati masih mau nemenin Karin" tolak Tati yang masih memandangi putrinya.
"Istirahat Tati, pulanglah dulu nanti kesini lagi sore, kalian butuh tidur" ucap Isa pula.
"Iya, kaliaan haris tetap sehat untuk kedua anak kalian, jadi pulanglah trus tidur biar Safril yang mengantar" ucap Beni.
"Safril ikut?" tanya Banu yang memang belum melihat keponakannya karena keluarga Beni tadi keruangan Kara dulu sedangkan kakek dan nenek langsung ke ruangan Karin.
"Iya mereka bertiga ikut, sekarang lagi nemenin Kara, kamu panggil aja Safril suruh anterin kami yang jaga Kara sama Karin di sini" ucap Beni lagi supaya adiknya pulang lebih dulu untuk istirahat.
"Pergilah nak" ucap kakek tegas supaya anak dan menantunya itu menurut.
Walau enggan Banu dan Tati tetap pulang di antar anak sulung Beni. Mereka memang sangat lelah dan butuh istirahat karena semalam tidak bisa tidur akibat memikirkan kedua buah hati mereka.
Setelah Tati dan Beni pulang, nenek dan kakek pindah ke ruangan Kara untuk melihat cucu mereka satu lagi. Sedangkan Beni dan Isa menjaga Karin di ruangan itu, mereka memang harus bergantian menjaga keduanya.