First Kiss

First Kiss
Nonton film



Saat ini Aldi dan Karin sedang makan siang bersama di salah satu kafe biasa setelah tadi menumpahkan segala kenangan masa kecil mereka. Bahkan Aldi yang selalu bersama Karin hampir setiap hari setelah mengetahui kebenaran akan Karin adalah Nana yang di carinya.


Aldi selalu menemani Karin bahkan selalu menyempatkan waktunya untuk menemui gadis itu. Apa lagi ingatan Karin yang sempat bermasalah, namun tanpa di ketahui oleh pemuda itu sendiri kalau ternyata gadis itu sudah ingat kembali bahkan sudah tahu tentang dirinya yang merupakan Didi nya.


Hingga akhirnya semuanya terungkap juga saat ini dan sekarang semakin bahagialah perasaan mereka. Bahkan Aldi memperlakukan Karin dengan semakin manis saja, juga jangan lupakan sikap perhatiannya yang membuat Karin sangat merasa tersanjung.


Hal hal kecil sangat di perhatikan oleh Aldi. Sampai saat ada salah satu pelayan kafe yang tidak sengaja tersandung dan menumpahkan minuman yang di bawanya ke arah Karin tanpa di sadari gadis itu sendiri.


Aldi langsung saja menarik Karin yang memang baru akan duduk kepelukannya. Hingga minuman yang tadinya akan menyiram Karin beralih menyiram kursi dan pengunjung yang tidak jauh dari tempat kejadian.


Hingga akhirnya Aldi dan Karin mendapat tempat yang privat dari pemilik kafe sebagai permintaan maaf mereka yang lalai. Aldi tentu saja marah namun tidak meledak-ledak. Pemuda itu hanya meminta pertanggung jawaban pemilik atas kenyamanan mereka yang sudah terganggu saja.


"Tempat ini lumayan juga, bisa ngeliat jalan di luar sana padahal privat room" ucap Karin semabari melihat pemandangan jalan dari lantai dua yang masih memberi pemandangan keluar karena ada bagian kafe yang berdinding kaca.


"Yah kalau mereka tidak mau memberi kita tempat yang baik maka aku akan membeli kafe ini" sahut Aldi santai sembari menatap Karin dengan pandangan lembutnya.


Karin yang tadinya menatap jalan kini beralih pada pemuda di hadapannya yang ternyata menatapnya juga.


"Kenapa gitu?" tanya Karin heran karena ucapan Aldi yang tidak ada nyambungnya sama sekali anatara tempat yang baik dan membeli kafe.


"Bukannya kalo mereka gak mau tanggung jawab harusnya di tutup ya kafenya! atau kafe ini di blokir supaya gak ada lagi pelanggannya! atau hal lainnya yang bisa aja orang lain buat bahkan di hancurkan mungkin!" ucap Karin lagi.


Aldi tersenyum mendengar ucapan Karin lalu meraih tangan gadis itu yang ada di meja untuk dia genggam dengan lembut.


"Ya gak bisa langsung di gituin dong sayang, kan kafe ini bukan punya kita, jadi supaya bisa di wujudkan apa yang kamu bilang tadi ya kafe ini harus jadi punya kita dulu" ucap Aldi menatap Karin yang masih nampak berpikir.


"Iya juga ya! kalo kita langsung hancurin atau blokir kafe ini yang ada nanti malah kita yang repot karena harus berurusan sama hukum, pasti nanti mereka juga bakalan laporin kita ya" gumam Karin pelan tapi masih dapat di dengar Aldi dengan baik karena memang hanya ada mereka berdua saja di ruangan itu.


Aldi mengangkat tangannya dan mencubit pelan pipi Karin dengan gemasnya.


"Aku gak mau berurusan sama polisi, maunya berurusan sama penghulu aja" ucap Aldi dengan pandangan penuh cintanya pada Karin.


Gadis di hadapan Aldi itu mengerutkan keningnya menatap Aldi tidak mengerti.


"Kok gitu! memangnya kamu punya salah apa sampe haris berurusan sama penghulu?" tanya Karin dengan wajah polosnya yang membuat Ladi benar-benar gemas.


"Salahnya karena aku mau nikahin anak orang jadi haris berurusan sama pak penghulu"


"Kamu mau nikah? sama siapa?" kaget Karin tidak percaya namu juga ada sedikit rasa kecewa di hatinya mendengar prianya akan menikah. Apa dia di jodohkan sama om tante sama perempuan lain pikir Karin.


Aldi menahan senyumnya melihat ekspresi Karin yang berubah ubah. Tadi kaget lalu kecewa dan sekarang sendu. Pemuda itu memajukan sedikit tubuhnya mendekat Karin hingga wajahnya tepat di samping wajah Karin dan berbisik di telinga gadis itu.


Apa lagi pemuda itu bukan hanya berbisik saja namun juga meniup telinganya pelan hingga membuatnya merinding.


"Jangan tiup tiup memangnha telingan aku panas apa harus di tiup tiup biar dingin" cemberut Karin lalu menatap ke luar lagi untuk menutupi kegugupannya.


Aldi terkekeh pelan akan respon Karin yang gugup itu dan terlihat sangat jelas, bahkan telinga gadis itu terlihat memerah akibat malu dan gugupnya. Saat akan memulai aksinya lagi menjahili Karin, tiba- tiba datang pelayan mengantarkan pesanan mereka hingga membuat Aldi urung untuk mengerjai Karin.


Setelah makanan terhidang keduanya langsung makan dengan lahap dan sesekali juga bersenda gurau. Aldi juga terkadang membersihkan bibi Karin kalau ada sisa makanan yang tertinggal. Tidak biasanya Karin makan belepotan begitu, mungkin karena ada Aldi dan supaya di perhatikan jadi kali ini makannya sedikit berantakan.


Selesai makan siang keduanya tidak langsung pulang melainkan pergi ke satu tempat lagi. Tempat yang ingin Aldi kunjungi bersama Karin, setelah tiba di sana mereka langsung masuk dan menuju tempat pembelian tiket saat sudah menentukan film yang akan di tonton.


Saat masih dalam antrian yang lumayan panjang, mata Karin tidak sengaja melihat sebuah poster film yang sangat menarik untuknya. Hingga tanpa aba-aba apapun Karin menarik tangan Aldi untuk berpindah tempat dan langsung tepat di depan kasir karena sudah tidak ada antrian lagi.


"Tiketnya 2 ya kak" ucap Karin penuh antusias dan semangat memesan tiket nonton mereka.


Aldi yang masih menetralkan rasa kagetnya akibat di tarik tiba-tiba kini masih menenangkan perasaan kagetnya. Hingga Karin kembali menarik dirinya untuk membeli cemilan yang biasanya di nikmati sambil nonton.


"Kamu yang bayar ya!" ucap Karin menatap Aldi yang sudah mulai sadar dari kagetnya dan sudah tidak terlihat cengo lagi.


Setelah menghela napasnya panjang barulah Aldi menarik dompetnya untuk membayar pesanan Karin itu.


"Ayo kita masuk 30 menit lagi filmnya di putar loh" ajak Karin sudah tidak sabar lagi.


"Sebetar" setelah selesai membayar Aldi mengambil dua gelas minuman di tangan Karin dan membiarkan gadis itu membawa satu cup popcorn ukuran sedang.


Karena Karin yang belum terlalu di ijinkan banyak makan cemilan oleh orang tuanya. Dan tentunya Aldi akan melarang keras Karin jika makan terlalu banyak cemilan.


"Ini film apa sih sampe kamu begitu antusiasnya mau nonton?" tanya Aldi saat mereka sudah dudum manis di dalam dan menanti film di putar.


"Film action komedi, udah kamu lihat aja nanti juga tahu" ucap Karin seraya meraih gals minuman yang di sodorkan Aldi padanya.


Aldi hanya mengangguk saja lalu mulai ikut makan popcorn yang ada di antata keduanya. Sampai akhirnya film yang mereka nantikan di putar juga. Aldi sampai membuka sedikit mulutnya saat melihat film itu.


Film yang awalnya dalam bayangannya akan sangat menyenangkan karena Karin mengatakan bergenre action komedi. Namun kenyataan membuatnya tidak habis pikir dan menatap Karin yang masih menonton dengan sangat hikmatnya.


Bahkan Karin terlihat serius dan sesekali terkekeh atau tertawa akibat film yang di putar itu. Aldi menghela napas lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pantas saja pengunjungnya lebih dominan para orang tua dan anak-anak mereka kalau ternyata film yang sedang tayang itu justru kartun movie.


Aldi tidak percaya kalau Karin masih sangat menyukai kartun seperti itu setelah sekian lama. Padahal tadinya mereka akan menonton film romantis tapi malah jadi film yang menguras air mata akibat tawa yang sesekali di selingi ketegangan.


Ya sudahlah, mau romantisan juga gak mungkin banyak anak kecil, kalau tiba-tiba lihat bisa dewasa duluan nanti pikir Aldi dan justru ikut menikmati film di hadapannya.