
Aldi membaringkan tubuhnya menghadap foto besar di dinding kamarnya, pikirannya menerawang pada kejadian di pasar malam tadi.
"Apa kamu ada di kota ini juga Na? kalau iya dimana kamu sekarang?" gumam Aldi.
"Apa yang ku dengar tadi nyata? apa aku salah mengenali senyuman Nana lagi? tapi gak mungkin, aku masih ingat betul gimana senyuman manis Nana juga binaran matanya yang indah itu"
"Tapi kenapa Karin juga punya senyuman yang sama kaya Nana?" Aldi terus mencoba untuk terus menyamakan senyuman Karin yang masih ia ingat dengan jelas dengan senyuman Nana.
"Apa mungkin ada orang lain yang bisa nyamain senyuman orang lain ya? tapi gak mungkin identikkan! pasti ada sela yang gak miripnya" gumam Aldi terus berpikir.
Hingga satu ingatannya tentang Nana yang masih sangat ia ingat membuatnya terlonjak.
"Ah aku ingat! Nana punya bekas luka di bahu kanan belakangnya karena dulu jatuh"
"Aha iya, itu dia! aku harus cari siapa perempuan yang punya bekas luka di bahu kanan belakangnya" semangat Aldi saat mendapatkan ide itu, tapi ia terdiam kemudian.
"Tapi gimana caranya? bisa-bisa aku di bilang mesum lagi atau paling parahnya malah di tempelin sama perempuan-perempuan itu, akh gimana nih?" Aldi menggigit bibir bawahnya berpikir lagi.
"Ck, perhatiin aja kalau ada perempuan yang pake baju kurang bahan yang bahunya kebuka, nanti juga ketemu".
Akhirnya Aldi memutuskan untuk tidur setelah berpikir tentang apa yang sudah di alaminya tadi.
Keesokan paginya, Aldi yang sudah siap dengan seragam sekolahnya langsung turun kebawah untuk sarapan bersama orang tuanya.
Selesai sarapan Aldi langsung meluncur ke sekolah menggunakan motor miliknyà yang di beli dari tabungan sendiri. Saat melewati halte dekat sekolah Aldi melihat ada seorang perempuan dengan seragam yang sama dengannya berjalan mendekati gerbang sekolah.
Aldi memarkirkan motornya dan menatap gerbang yang sudah di lewati beberapa siswa. Dansalah satunya yang Aldi lihat berjalan dari arah halte tadi. Anak orang kaya kok malah naik bus pikir Aldi.
Karina berjalan dengan santainya memasuki gerbang sekolah tanpa perduli dengan tatapan para murid terutama kaum cewek yang tidak menyikainya. Karina kini sudah sangat terbiasa dengan tatapan mereka itu, bahkan ada yang terang-terangan membicarakannya dengan suara keras.
Tapi Karina tetap tidak perduli, gadis remaja itu cuek saja dengan semua ucapan para cewek gila ketampanan dan popularitas itu.
"Heh! kamu yang namanya Karin? yang udah buat Sisi di keluarin dari sekolah ini, trus Jes sama gengnya di skors sebulan!" ucap seorang perempuan menghentikan langkah kaki Karin.
"Namaku memang Karin, tapi masalah orang-orang yang kamu sebutkan itu bukan salahku mereka mendapatkan hal itu" jawab Karin cuek karena ia memang cuek dengan lingkungan sekolahnya, lain halnya kalau di rumah.
"Hebat ya kamu bisa dapet pembelaan begitu dari Aldi, trik apa yang kamu mainkan sampe Aldi belain kamu?" sinis cewek itu.
"Gak ada"
"Halah bilang aja kamu guna-guna Aldi supaya tunduk sama cabe kaya kamu itu" sahut cewek satunya lagi.
"Ck, licik ya kamu, gak bisa dapetin Aldi dengan kecantikan tapi main guna-guna cabe beneran rupaya" kata satunya lagi.
Karin menatap malas ketiganya yang mencari ulah dengannya. Baru juga mau tenang udah ada aja masalah batin Karin.
"Kayaknya kalian ngaca dulu deh sebelum ngomongin orang, memangnya kalian lebih baik dari pada cabe" kata Karin menatap penampilan ketiganya dari bawah sampai atas.
"Pakaian ketat, rok terlalu pendek, sempit lagi, gak begah tuh paha sama dada di bungkus ketat kayak lontong" ejek Karin dengan smirknya.
"Heh dengar ya culu! kita itu cantik dan manis kaya permen yang di bungkus semenarik mungkin"
"Kamu culun mana tahu fasion, dandanannya aja udah mirip penghuni perpustakaan yang suka pekek kaca mata gitu"
"Tahu luh cabe yang adanya di pasar"
Ketiganya menghina Karin dengan suara keras hingga menarik perhatian banyak mata murid yang datang.
"Kalian makan sehari-hari juga gak lepas dari yang namanya cabe, dan asal kalian tahu cabe itu lebih mahal dan berharga dari permen yang cuma 500 dapet 3" ucap Karin sarkas membungkam ketiga perempuan itu.
Karin berjalan melewati ketiganya yang menahan malu, lalu kembali mengatakan sesuatu yang semakin membuat malu ketiganya.
"Oh iya, jangan lupa ganti bungkus susunya ya takutnya tumpah karena bungkusnya kecil" dengan sengaka Karin menarik salah satu kerah baju perempuan yang dadanya paling besar sampai kancingnya lepas satu.
Sontak saja yang punya baju buru-buru memegangi bagian bajunya yang kancingnya lepas itu dan berlari pergi dari sana. Selain merasa di telanjangi di depan umum, ketiganya juga malu karena sudah jadi bahan tertawaan yang lain yang menyaksikan adegan mereka.
"Lumayan cuci mata pagi-pagi" ucap seorang siswa laki-laki.
"Iya lagian di sekolah pakek baju begitu"
"Kayak mau ke klub aja ya"
"Di kiranya ada acara fasion show kali"
Bisik-bisik para laki-laki di sana terdengar juga kekehan yang lainnya akibat kejadian langka tadi.
Tangguh juga batin Aldi yang sejak tadi memang menyaksikan keributan itu. Aldi tidak mencenghentikan keributan mereka karena ingin melihat bagaimana cara Karin menghadapi mereka.
Kalau di rasa Karin tidak mampu barulah Aldi akan membantu, tapi yang di lihatnya malah di luar ekspektasi. Karin begitu berani melontarkan kalimat yang sedikit vulgar dan melakukan hal nekat seperti itu.
BRUK
Tas Aldi yang mendarat di meja mengagetkan Karin yang sedang duduk membaca buku. Hanya sekilas Karin melihatnya kemudian kembali membaca buku di tangannya.
Hal itu membuat Aldi sedikit bingung karena baru tadi malam gadis remaja itu memberikannya senyuman yang begitu manis. Bahkan Aldi sampai tidak bisa melupakannya karena terus teringat akan hal itu.
Tapi sekarang lihatlah gadis ini, dia bahkan kembali ke sifat asalnya yang cuek dan tidak perdulian. Aldi berpikir akan bagaimana ia bisa melihat senyuman Karin lagi.
Jujur saja Aldi ingin melihat lagi senyuman yang bisa mengingatkannya pada teman kecilnya itu. Aldi merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang sama ketika melihat senyuman Karin dengan senyuman teman kecilnya dulu.
Remaja itu juga melirik bahu belakang Karin yang tertutup baju dan almamater sekolah, di tambah lagi rambut kucir dua Karin di belakang. Mana mungkin kelihatan Aldi kalau orangnya pakek baju tertutup gitu gerutu Aldi dalam hati.
Diam-diam Alldi terus mencuri-curi pandang pada Karin yang memakai kaca matanya dan penampilan culunnya. Seingatnya tadi malam Karin tidak memakai kacamata dengan rambut yang di kuncir kuda.
Untuk apa dia berpenampilan begitu kalau bisa tanpa kacamata pikir Aldi.
Remaja itu menghela napasnya merasa bodoh dengan apa yang di lakukannya, banyak hal yang lebih menarik di lakukan dari pada menatapnya, tidur misalnya. Aldi langsung meletakkan kepalanya di atas tas sekolahnya untuk mengarungi dunia mimpi. Pada hal masih pagi juga Al, udah ngantuk.