
"Jadi kalian berdua tinggal di vila ini" ucap Bagas melihat sekelilingnya.
Sore ini teman-teman Aldi memang ikut mereka ke vila yang di tinggali oleh Aldi dan Karin. Mereka masih ingin mengahbiskan waktu bersama. Lebih tepatnya Karin yang masih ingin bersama ketiga teman barunya itu.
Bukan baru sebenarnya, hanya saja mereka baru bisa slaing mengobrol bersama saat ini. Karena waktu di sekolah mereka memiliki kegiatan masing-masing dan baru bertemu saat jam pelajaran di mulai.
"Kamar kamu di mana Karin?" tanya Mona yang sangat ingin melihat kamar Karin.
"Di sana, yang pintunya sebelah kanan" tunjuk Karin kearah di mana ada dua pintu yang slaing berdampingan tidak jauh.
"Yang sebelahnya kamarnya Aldi ya" kata Mona lagi yanh di jawab anggukan oleh Karin serta senyum tipisnya.
Mereka sedang duduk di ruang tengah dengan banyaknya cemilan dan minuman yang sudah di sediakan oleh pelayan di sana.
"Ngapain kamu nanyak-nanyak kamar Karin sama Aldi? kurnag kerjaan ya!" celetuk Boby yang sedang menikmati kuacinya.
Mona melirik sinis pada Boby yang selalu saja menyahuti setiap ucapannya.
"Berisik banget sih kamu Boby! gak bisa apa diem aja kalo aku lagi ngomong" sungut Mona.
"Ya gak bisa lah aku diem aja, mulut ada di kasih sama tuhan masa harus di anggurin sih" kekeh Boby pelan di ikuti Bagas dan Rudi.
Mona merampas bungkus kuaci di tangan Boby dan membawanya menjauh. Mona yang awalnya duduk di dekat Boby dan hanya berbatas oleh Bagas kini pindah ke samping Karin yang duduk dekat Aldi tentunya.
"Eh cebol! balikin gak tuh kuaci ku" kata Boby kesal karena kesukaannya di ambil.
"Gak! salah sendiri ngeselin" ketus Mona yang malah dia sendiri yang makan kuacinya.
"Cih, dasar tukang rampas" ejek Boby yang tidak di perdulikan sama sekali oleh Mona.
Teman-teman mereka hanya diam saja tidak mau ikut campur dengan apa di lakukan ke dua orang itu. Sudah biasa mereka melihat pemandangan keributan itu.
"Oh iya Al, besok pagi kita semua mau jalan pagi sama-sama, habis itu baru bebas mau kemana aja terserah, asalkan jam makan siang udah kumpul lagi di vila" ucap Rudi.
"Mau jalan pagi ke mana?" tanya Aldi dengan wajah datar miliknya yang biasa ia tunjukkan pada orang lain, kecuali Karin pastinya.
"Menurut gosip yang beredar kita mau jalan menyusuri tempat ini aja, sekalian olah raga sama cuci mata" sahut Bagas.
"Cuci tuh mata kamu pake sabun bubuk, biar bersih kalo masih kurang pake aja pemutih biar makin kinclong tuh mata" kata Risti menyahut.
"Mata kamu aja cuci pake sianida, biar lebih cerah" ucap Bagas pula menyahuti kalimat Risti.
"Kalo pake sianida bukan tambah cerah Gas, burem yang ada" kata Rudi pula lalu mereka tertawa.
Karin hanya tersenyum manis saja melihat kelakuan teman-temannya itu. Sedangkan Aldi hanya tipis dan nyaris tidak terlihat.
"Ya ampun Karin, senyuman kamu tuh manis banget sih" puji Devi yang tidak sengaja melihat ke arah Karin yang sedang tersenyum.
Karin yang mendengar itu hanya mengulum senyum saja. Sedangkan yang lainnya langsung melihat ke arah Karin.
"Karin sih memang cantik walau pakek kacamata" ucap Risti juga.
"Iya benar Rin, kenapa setiap kali si nenek lampir itu ngejek kamu, kamu justru diem aja sih? aku malah greget sendiri denger ocehannya" kata Devi.
Karin terenyum pada ketiga temannya itu yang malah menarik tangan besar menutupi wajahnya. Kening Karin mengkerut lalu menoleh ke arah sampingnya di mana Aldi sedang melihat ke arah lainnya.
Karin memegang tangan Aldi lalu menariknya turun. Tapi yang ada malah Aldi kembali menutupi wajah Karin dengan tangan besarnya lagi.
"Didi tangannya jangan ngalangin, gak bisa ngelihat tahu" ucap Karin kesal karena Aldi terus melakukan hal itu berulang kali.
Mendengar ucapan Karin yang memanggilnya Didi dengan suara lembutnya membuat Aldi menoleh cepat. Dengan sangat posesifnya Aldi malah memeluk pinggang Karin erat sebagai ganti wajahnya yang tidak di tutupi.
Karin hanya menghela napas saja akan kelakuan Aldi itu. Sedangkan teman-teman mereka tersenyum geli melihat sikap Aldi yang biasanya datar kini jadi malah jadi sangat posesif pada Karin.
Pada hal di ruangan itu hanya ada mereka saja tapi kenapa Aldi harus melakukan hal itu. Tidak akan ada juga yang akan mengambil Karin kalau pawangnya seperti Aldi itu.
"Aku punya satu abang, bang Kara namanya, dia pernah jemput aku di sekolah kok, papa juga pernah tapi mungkin gak pernah ada aja yang lihat" ucap Karin melihat ketiga temannya dan membiarkan Aldi yang nemplok di sampingnya.
"Waktu itu kamu pernah di gosipkan jadi simpenannya om-om kaya, sampe di bilang punya sugar daddy demi bisa naik mobil mewah ke sekolah, itu bener gak sih!" penasaran Mona yang ingin mendengar langsung jawaban dari Karin.
"Atau yang nganterin kamu waktu itu memang papa kamu" ucap Risti juga.
"Iya, itu papa aku karena waktu itu ada sedikit problem jadinya papa anterin sampe depan gerbang piket" jelas Karin mengkonfirmasi pada temannya yang sangat penasaran akan kehidupan Karin.
"Hm sudah kudungan" celetuk Devi membuat teman-temannya menatap heran pada perempuan berbaju biru itu.
"Hah! siapa yang pakek kerudung?" tanya Risti dengan wajah cengonya.
"Apa? mengandung? siapa?" tanya Mona pula yang lebih tidak nyambung lagi.
Devi melihat satu persatu temannya yang melihatnya heran hanya berdecak kesal.
"Ck, maksudku itu sudah ku duga, gosip-gosip yang tersebar itu cuma akal-akalan si nenek lampir itu aja karena dia sumber pertamanya" jelas Devi yang langsung di sahutin 'oh' oleh teman-temannya.
"Gitu aja gak paham, dasar lemot kalian" ejek Devi kemudian mengambil cemilan di meja dan memakannya.
"Bahasamu yang gagal di pahami orang lain" ucap Bagas angkat suara setelah sejak tadi diam menjadi pendengar.
"Tahu, bilang aja langsung sudah ku dugong jangan kudungan, kan ku kira ada yang ber kerudung" kata Boby pula.
"Kamu juga sama aja, dugong itu hewan laut" sarkas Mona melotot pada Boby.
Boby hanya mengangkat bahunya acuh dengan protes Mona itu dan memilih minum jus yang tersedia di meja.
"Eh Karin, nama papa kamu siapa sih? aku kepo nih" ucap Risti kembali ke topik semula membahas tentang siapa Karin yang sebenarnya.
"Buat apa kamu tahu Karin anak siapa? memangnya kamu mau ngelamar dia apa?" kata Bagas yang langsung mendapat lemparan bantal sofa.
"Diem aja deh Bagas, jangan suka nyela jawaban punya orang lain" kesal Risti.
Bagas hanya terkekeh melihat kekesalan Risti itu.