First Kiss

First Kiss
Niatan Neli



"Jadi jangan menggangguku dan mendekatiku mulai sekarang kalo masih sayang kepala" ancam Karin yang benar-benar sudah merasa bosan dengan semua ocehan buruk dari mereka.


Bahkan Neli merupakan orang yang paling suka menggosipinya dengan yang lainnya. Bagaikan radio berjalan Neli bisa menceritakan segala tentang Karin pada siswa lainnya hingga menyebar kemana-mana.


Itulah sebabnya Karin memberi peringatan keras pada Neli yang sudah sangat keterlaluan.


"Dan untuk kalian, jangan menilai orang lain dari apa yang kalian dengar aja, apa lagi kalo kalian sendiri gak tahu siapa dan gimana orangnya, saring dan cermati berita yang kalian dengar lebih dulu trus lihat langsung kenyataan yang ada baru bicara, jangan jadi tong kosong nyaring bunyinya" ucap Karin melirik tajam pada semua perempuan yang menatapnya.


Setelahnya Karin meninggalkan Neli dan orang yang berkerumun itu untuk duduk kembali ke kekursinya. Ternyata marah butuh tenaga dan butuh minum juga, Karin meminum habis air dalam botil miliknya ketika mendengar seseorang berseru.


"Apa kalian mau seperti Sisi atau Jes?" ucap Aldi yang menarik perhatian Karin untuk melihat.


Ternyata laki-laki itu berdiri di depan pintu dengan memegang botol minuman, tatapan tajamnya mengarah pada perempuan yang ada di dalam kelas yang tadi mengelilingi Karin.


"Jangan Aldi, apa salah kami? justru kami korban disini" ucap Neli dengan wajah memelas dan sedihnya yang sudah mengeluarkan air mata.


"Apa perlu aku menunjukkannya padamu?" ucap Aldi dingin yang semakin membuat Neli dan yang lainnya ketakutan karena Aldi bisa saja melakukan apapun pada merekaa.


"Menunjukkan apa? kami memang gak salah Al, justru si cupu itu yang udah sakitin aku, sia cekik aku Al, sakit banget leher aku" Neli memegangi lehernya masih dengan tangisan yang di buat semakin sedih untuk menarik perhatian dan rasa simpati Aldi.


"Mau aku putuskan sekalian" tawar Aldi membuat mata Neli melotot dan mundur beberapa langkah.


"Gak Al, a aku.. aku cuma mau ketoilet, iya ketoilet" ucap Neli yang sudah ketakutan sekali hingga tidak tahu lagi apa yang di ucapkannya.


Aldi semakin menatapnya mengerikan lalu masuk begitu saja kedalam kelas dan menghampiri Karin yang sedang memasukkan sesuatu kedalam tasnya. Apa tadi dia lihat apa yang ku lakukan? gawat kalo sampe dia ngadu ke mama nanti pikir Karin was-was.


Masalahnya orang tua Karin tidak tahu kalau anak mereka itu sebenarnya sesikit bar-bar dan nekatan. Siapapun yang mengganggu ketenangannya sampai kelewat batas, maka Karin akan memberinya pelajaran dengan sangat mengerikan.


Aldi yang sudah duduk menyodorkan botol yang di pegangnya pada Karin, membuat gadis remaja itu bingung.


"Untuk?" tanya Karin.


"Hati panas, kepala panas, minum dingin" sahut Aldi.


Alis Karin menyatu dengan pandangan yang maish tidak mengeri maksud Aldi.


"Minum" Aldi menyodorkan botol di tangannya dengan sedikit paksa ke arah Karin hingga mau tidak mau Karin menerimanya.


"Dingin!" ucap Karin setelah memegang botol dari Aldi.


Sejenak berpikir barulah Karin mengerti maksud Aldi.


"Hey kamu kira aku kepanasan sampe harus minum dingin" ucap Karin.


"Marah hawanya panas" ucap Aldi santai meletakkan kepalanya di tas untuk tidur.


"Huh, dekat sama kamu lebih panas serasa di neraka"


"Tahu aja penghuni neraka"


"Ish"


Karin membuka botol yang ternyata belum di buka karena masih ada perekatnya. Karena kesal Karin meminum air dingin itu sampai tinggal setengah botol dan mengembalikannya pada Aldi.


TAKK


"Terimakasih sekali ya bunglon tukang tidur" ucap Karin lalu mengambil bukunya untuk di baca.


"Gak dengar" kata Karin.


"Tuli"


"Terserah"


Perdebatan keduanya selesai dengan Aldi yang tidak menyahuti lagi ucapan Karin. Kalau sampai di sahuti sampai pulang nanti tidak akan selesai perkara pikir Aldi.


Jam pelajaran kembali di mulai beberapa waktu setelah kejadian itu, dan karena guru sedang rapat tadi jadi tidak ada satupun pihak sekolah yang mengetahui hal tersebut.


Hanya bu Sari mengetahui hal itu karena Neli yang mengadu pada beliau dan mengatakan hal yang bahkan di lebih-lebihkan. Neli juga mengajak beberapa teman kelasnya yang tadi ada di sana ikut menyaksikan aksi Karin.


Tapi hasil yang di dapatkan justru nihil karena bu Sari tidak percaya begitu saja dengan apa yang di ucapkan Neli. Terlebih Neli sudah pernah punya cacatan merah di buku dosanya saat kelas dua dulu.


Saksi yang di bawa Neli juga tidak membenarkan ucapan Neli karena takut akan berakibat seperti beberapa teman mereka yang berlibur lama akibat di skor. Dan Sisi yang keluar dari sekolah ini, kalau saja Sisi bukan anak orang kaya pasti akan sulit baginya untuk bisa bersekolah lagi, bahkan walaupun sekolah Sisi melanjutkannya di luar negeri.


Mata Neli sibuk melirik Karin dan Aldi yang sedang fokus belajar, tempat duduk Neli yang berada di pojokan baris ketiga membuatnya bisa melihat Karin dengan jelas karena sama-sama di belakang.


Apa lagi guru jarang melihat kearah sana yang berada di belakang. Kalau dengan cara terang-terangan gak bisaa itu artinya harus main halus, tunggu pembalasanku cupu gumam Neli dalam hati.


Tangannya menggenggam erat dengan penuh emosi dan pandangan yang berkilat akan dendam.


"Neli! maju kedepan" ucap guru tiba-tiba.


Neli yang di panggil langsung kaget ddan sontak melihat kedepan.


"Ibu manggil aku!" tunjuk Neli pada dirinya sendiri.


"Iya kamu, cepat maju dan selesaikan soal di papan tulis" ucap guru dengan wajah galaknya.


"Kenapa saya buk?"


"Suka saya dong, saya gurunya bukan kamu, cepat maju" sarkas si guru membuat Neli mengeram kesal dalam hati.


Tentu saja ia kesal, bukan karena disuruh tapi lebih kepada Neli yang tidak tahu apapun tentang soal di depan. Dengan malas Neli bangkit dari duduknya maju kedepan dan berdiri di dekat papan tulis.


"Ayo kerjakan"


"Iya buk"


Neli melihat papan tulis yang terdapat beberapa soal penyelesaian rumus IPA. Melihatnya saja Neli sudah pusing, gimana ngerjakannya kalau dia sama sekali tidak tahu apapun.


"Kenapa? gak bisa?" Neli menggeleng sembari nyengir melihat guru di sampingnya.


"Makanya kalau saya nerangkan kamu perhatikan ke depan dan apa yang saya jelaskan, jangan malah disaat saya menjelaskan dan memberi kalian ilmu kamu malah ngelihatin ke arah Aldi terus" sarkas guru yang membuat Neli malu karena apa yang di perhatikannya sejak tadi di ketahui orang.


"Kalau kamu mau suka sama orang jenius dan sejenisnya, kamu juga harus bisa membuktikan diri kalau kamu sepadan dengannya, itu baru perjuangan cinta yang sehat dan hebat bukan cuma sekedar pandangan aja sama usaha dengan cara merugikan diri sendiri" lanjut guru yang membuat Neli menunduk kesal karena malu.


"Sudah duduk sana" dengan langkah cepat Neli melangkah ke kursinya.


Malu dan kesal semua jadi satu dalam hati Neli, apa lagi secara tidak langsung guru itu sudah menjelekkan dirinya yang kurang pandai dan suka melakukan apapun demi mendapat perhatian Aldi.


Cih, aku akan buktikan diriku, kalo aku gak bisa miliki dia siapapun gak akan bisa gumam Neli dalam hati dengan senyum mengerikannya.