First Kiss

First Kiss
Aldi Gunawan Prasetya



"Anak bapak dan ibu su..."


"Panggil kami tuan dan nyonya karena kami bukan bapak ibu kalian" ucap mama Sisi menghentikan ucapan bu Sari.


Bu Sari hanya menghela napas saja, menghadapi orang kaya yang sombong dan arogan memang butuh kesabaran ekstra pikirnya.


"Sisi sudah banyak melakukan ke salahan, dia sering membuly bahkan menyakiti yang lain dengan kasar dan sangat kejam, dia tidak segan-segan memukul bahkan mengurung orang yang tidak di sukainya, mempermalukan yang lain juga merupakan salah satu keahliannya" jelas Aldi angkat bicara.


"Itu bagus, siapapun yang berani melawan pada Sisi memang harus di perlakukan begitu" sahut mama Sisi santai seakan perbuatan anaknya bukan masalah besar.


"Itu bagus juga untuk dia angkat kaki dari sekolah ini, karena sepertinya anda sebagai orang tua justru membenarkan sikap buruk anak anda, jadi tidak perlu pilihan lain lagi" ucap Aldi membuat papa Sisi menatap tajam dan tidak suka pada Aldi.


"Hey bocah kunyuk, siapa kamu bisa bicara seperti itu, kamu tidak ada hak untuk mengeluarkan anakku dari sekolah ini" marah papanya Sisi.


"Asal kamu tahu saja ya! anakku Sisi itu calon menantu dari pemilik sekolah ini, bahkan sekali aku melakukan panggilan kamu akan keluar dari sini" ucap mama Sisi arogan.


Aldi mengangkat alisnya tinggi, sedangkan kepala sekolah dan bu Sari melongo tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Masa iya tuan besar mau punya menantu danbesan yang buruk begini pikir mereka.


"Memangnya seistimewa apa putri kalian itu sampai pemilik yayasan ini mau menjadikannya menantu" ucap Aldi dengan wajah datarnya.


"Putri kami itu sangat cantik, bahkan anak pemilik yayasan ini sangat tergila-gila pada Sisi kami sampai-sampai datang kerumah dengan mengemis-ngemis agar Sisi mau menerima cintanya juga lamarannya" kata mama Sisi percaya diri.


"Jadi kamu bocah tidak usah banyak bicara, lebih baik pergi dari sini sebelum aku memanggil menantuku untuk menghajarmu dan mengusirmu" gertak papa Sisi menatap remeh pada Aldi.


"Silahkan panggil" ucap Aldi santai.


Orang tua Sisi menatap marah dan tidak suka pada Aldi yang berani menantang mereka. Sebagai orang kaya mereka merasa bahwa segalanya bisa di kendalikan dengan uang dan sikap Sisi yang suka menindas bahkan menyakiti siswa lain juga di anggap wajar sebagai anak orang kaya.


Sedangkan Karin yang juga ada di ruangan itu merasa tidak perlu ikut campur dengan perdebatan tidak bermutu. Apa lagi kedatangannya yang tadinya di panggil justru tidak ada apa-apa yang membutuhkan kehadirannya.


"Maaf bu Sari saya permisi ketoilet dulu" ucap Karin yang di angguki oleh yang punya nama.


Karin keluar dari ruangan kepala sekolah lalu menuju toilet sebentar sebelum nantinya ia akan ke perpustakaan. Lebih baik menghabiskan waktu dengan buku dari pada melihat perdebatan antara orang kaya gumam Karin dalam hati.


"Tidak perlu di panggil, menantu kami itu orang berkelas dan sibuk jadi tidak ada waktu untuk meladeni orang sepertimu"ucap papa Sisi menutupi kegugupannya.


"Besar mulut" ucap Aldi membuat orang tua Sisi marah.


"Hey bocah tengik, jangan sembarangan bicara kamu ya, kami bisa mengusirmu dari sini dengan mudah"


"Maaf ibu, ini di sekolah harap anda lebih memperhatikan ucapan anda" ucap kepala sekolah sopan karena bagaimanapun juga ia tidak boleh terpancing amarah.


"Kalau kalian memang seberkuasa itu, itu artinya kalian pasti mampu menyekolahkan anak kalian di tempat lainkan!" ucap Aldi menatap kedua orang tua Sisi.


"Tentu saja, bahkan kami mampu menyekolahkan Sisi di luar negeri dengan fasilitas terbaik di sana dan juga sekolah paling berkelas" sombong mama Sisi yang di angguki papanya Sisi.


"Baiklah, kalau begitu bawa pulang anak kalian itu dan sekolahkan di tempat yang lebih berkelas dengan fasilitas terbaik pula, karena sekolah ini tidak butuh siswa yang tidak bisa menghargai orang lain apa lagi berkelakuan sangat buruk" ucap Aldi santai meski wajahnya terlihat datar.


"Apa hak mu mengeluarkan anak kami dari sekolah ini hah? kamu hanyalah or..."


"Perkenalkan namaku Aldi Gunawan Prasetya"


Bungkam sudah kedua orang tua Sisi saat mendengar nama remaja yang sejak tadi berdebat dengan mereka. Siapa yang tidak mengenal keluarga Gunawan Prasetya, mereka adalah orang berpengaruh yang sangat di segani juga kaya raya.


Kalau hanya perusahaan milik papa Sisi dan butik milik mamanya Sisi saja tidak ada apa-apanya dengan milik keluarga Aldi. Dengan tubuh yang bergetar dan juga takut kedua orang tua itu menunduk lalu keluar dari ruangan kepala sekolah begitu saja.


Ini kali pertamanya bagi Aldi melakukan tindakan demikian, biasanya kalau ada masalah apapun Aldi hanya akan duduk diam melihat. Lalu menyetujui kalau baik, karena Aldi memang belum mau berurusan dengan segala usaha milik papanya sampai selesai sekolah nanti.


Dan itupun hanya terjadi kalau ayahnya Aldi tidak bisa datang ke sekolah, maka Aldi yang akan menggantikannya. Entah itu rapat atau segala hal yang berurusan dengan sekolah untuk kemajuan dan taraf pendidikan.


Tapi kali ini berbeda, karena sejak awal Aldi yang memberikan hukuman dan teguran maka Aldi juga yang harus menyelesaikan semuanya sampai tuntas.


Aldi menghembuskan napasnya lelah, bukan maksudnya ingin sombong dan pamer. Apa lagi bersikap tidak sopan pada orang yang lebih tua, jika bundanya tahu sudah pasti Aldi akan di marahi.


Tapi balik lagi dengan siapa yang di hadapi, Aldi merasa orang modelan seperti orang tuanya Sisi memang tidak perlu terlalu di sopani. Apa lagi sikap dan cara bicara keduanya yang sangat sombong dan angkuh.


Membenarkan sikap anak mereka yang berbuat salah, sungguh Aldi tidak menyangka kalau akan ada orang tua yang seperti itu. Membenarkan yang salah dan semakin menindas yang benar, kearoganan yang sangat keterlaluan pikirnya.


Aldi pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah untuk mencari di mana keberadaan Karin yang keluar sejak tadi tapi tidak kembali. Aldi takut kalau akan ada orang yang menindasnya lagi, apa lagi Aldi sangat tahu betapa terobsesinya para perempuan di sekolah itu dengannya.


Dan berita skornya Jes dan teman-temannya, juga keluarnya Sisi dari sekolah ini pasti akan cepat tersebar. Segala cara bisa saja di lakukan demi mencapai tujuan bukan!.


"Kemana dia?" gumam Aldi melihat ke sana sini mencari sosok Karin yang tidak terlihat.


Sampai akhirnya mata tajam Aldi melihat yang du carinya berjalan menuju perpustakaan dengan santainya. Aldi mengikuti langkah kaki Karin kemana perempuan itu akan pergi.


Masuk ke dalam perpustakaan Karin menyunggingkan senyum kecil, ia sangat suka melihat buku-buku berjajar rapi di setiap rak. Dengan cepat ia mencari buku yang ingin di bacanya.


Setelah mendapatkan satu buku untuk di bacanya, Karin berjalan ketempat duduk yang sudah di sediakan. Tanpa perduli dengan siapa yang duduk di sampingnya Karin asik membaca buku.


Tapi tanpa sengaja matanya melirik ke samping dan mendapati laki-laki yang sepertinya selalu terlihat di depan matanya akhir-akhir ini. Karin menghela napas mencoba tidak perduli, lagiankan di sekolah wajar kalau dia ada di sini juga batinnya.