
"Kenapa kamu gak minta orang tuamu aja? mereka orang terpandang dan memiliki segalanya bukan!" ucap Kara yang masih ingin tahu tentang wanita yang di cintainya itu.
Pada hal tangannya sudah bergerak lincah melakukan sesuatu dengan ponselnya.
Salsa mamanya Kiko menunduk mendengar pertanyaan dari Kara. Pemuda yang dulu menjadi sahabat sekaligus cinta pertamanya sewaktu masa putih abu-abu. Mereka terpisah karena orang tua Salsa yang pindah keluar negeri dan tidak merestui hubungan keduanya.
Bahkan hingga saat inipun perasaan Salsa pada pemuda di depannya ini masih sama. Meski selama ini ia sudah mencoba untuk melupakan bayangan Kara dengan cara mencoba membuka hatinya untuk papamya Kiko. Laki-laki yang menikahinya karena perjodohan bisnis, namun perasaan tidak dapat di sembunyikan kalau sesungguhnya dalam hati Salsa terdalam hanya ada nama Kara saja.
Dan pertemua mereka yang tidak terduga ini sungguh membuat hati Salsa sangat bergejolak hebat dengan segala kerinduan. Tapi sadar dengan kondisinya yang sudah berbeda status menjadi janda satu anak. Salsa sudah merasa tidak pantas lagi mendapatkan ataupun mengharapkan kalau Kara masih mencintainya.
Salsa cukup sadar diri kalau dulu ia yang pergi meninggalkan cintanya ini begitu saja tanpa pesan dan kabar. Tidak ingin egois dan tidak ingin memaksakan kehendak untuk kembali meraih cinta dari Kara. Salsa hanya ingin bantuan dari pemuda itu untuk mendapatkan keadilan bagi anaknya. Juga untuk membuktikan siapa yang telah melukai anaknya hingga seprah itu.
"Orang tuaku sudah lama meninggal, aku hanya tinggal berdua dengan Kiko, tapi semalam papanya datang ke rumah dan mengatakan merindukan anaknya, aku gak mau menghalangi dia ketemu anaknya karena gimanapun juga Kiko darah dagingnya walau gak pernah di anggap apa lagi di inginkan" terdengar helaan napas sedih dari wanita tersebut.
"Gak ada pemikiran kalo dia bakalan biarkan anaknya sampe kayak gitu, aku pikir dia datang karena masih punya rasa peduli sama anaknya setelah dua tahun kami pisah, rapi nyatanya dia biarkan anaknya dalam kesakitan itu bahkan tanpa mencari anaknya ada di mana, aku benar-benar menyesal kasih dia ijin bawa Kiko" tanpa sadar air mata Salsa menetes tapi ia langsung menghapusnya secepat mungkin.
Demi anaknya Kiko, Salsa tidak ingin terlihat lemah. Ia ingin tetap kuat menjalani takdir hidupnya demi sang buah hati yang maish membutuhkan dirinya.
"Aku mohon Kara, tolonglah aku sekali ini saja! aku tahu aku egois karena udah maksa kamu, tapi aku gak tahu lagi harus minta bantuan sama siapa, aku janji setelah ini aku gak akan minta tolong lagi sama kamu" mohon Salsa sungguh-sungguh.
Demi anaknya ia rela merendahkan harga dirinya sebagai wanita demi mebdapatkan bantuan untuk mencaritahu siapa pelaku penyiksa anaknya. Bahkan jika harus matipun Salsa siap demi menjaga anaknya dari segala macam bahaya.
Kara menghela napas sejenak, hatinya sangat skait mendengar kalimat memohon dari wanita tercintanya ini. Meski banyak sekali pertanyaan yang bersarang di pikirannta tentang kenapa ia bis aberpisah dengan papanya Kiko atau kemana kekuatan yang dulunya dimiliki oleh keluarga Salsa sampai ia tidak bisa menyelidiki sendiri masalah anaknya.
Setahu Kara, Salsa adalah anak salah satu konglomerat yang sangat di segani. Sedangkan keluarga Kara dulunya masih merintis usaha yang sudah mulai maju, itu sebabnya keluarga Salsa tidak ada yang menyetujui hubungan mereka.
Tapi sekarang, setelah berpisah sekian lama kenapa hidup wanita itu terlihat begitu sengsara bersama putranya. Kemana perginya semua usaha bisnis milik orang tuanya yang sangat banyak itu. Bahkan Kara masih ingat saat dulu mamanya Salsa mengatakana kalau harta keluarganya tidak akan habis hingga 7 turunan saking kayanya.
Lalu kemana perginya semua harta itu hingga satu keturunan saja sudah menderita begini. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? gumam Kara dalam hati.
"Besok aku kesini lagi bawa hasilnya" ucap Kara kemudian berlalu pergi begitu saja.
Tidak ingin semakin mendengar kesedihan wanita tercintanya yang malah akan semakin membuat hatinya sakit nanti. Sebelum tahu semua kenyataan yang sesungguhnya terjadi pada Salsa dan keluarganya, Kara tidak ingin terlalu berharap atau ia hanya akan mendapatkan kesakitan akibat di tinggalkan lagi seperti dulu.
"Maafkan aku Kara" gumam Salsa dengan derai air mata saat pemuda itu telah menutup pintu ruangannya. Untung saja sudah sore dan tidak ada lagi pasien karena Salsa biasa mengambil pasien hanya sampai jam 3 saja.
Kini pandangan wanita itu beralih pada sang anak yang masih terbaring lelap di tempatnya. Salsa jadi bertekat dalam hati kalau ia akan tinggal di kliniknya saja mulai saat ini. Biarlah apartemennya di jual saja supaya mantan suaminya itu tidak bisa lagi menemukan tenpat tinggalnya.
Karin yang baru saja keluar kamar melihat abangnya lewat begitu saja dengan wajah lesu. Biasanya abangya pasti akan menyapanya atau mengelus kepalanya kalau bertemu. Tapi malam ini berbeda, hanya wajah yang tidak bisa di artikan ekspresinya saja yang terlihat di sana.
"Bang abang!" panggil Karin tapi tidak di gubris oleh Kara.
Mata Karin memicing melihat abangnya yang tidak merespon panggilannya. Hingga...
BUGH
Kara tersentak kaget di depan pintu kamarnya saat merasakan sesuatu menimpa kepalanya. Kara melihat apa yang mengenai kepalanya dan menemukan sendal rumah milik Karin ada di bawahnya.
Dengan berdecak kesal Kara mengambil sendal itu, tanpa melihat pelakunya pun Kara sudah tahu siapa tersangka yang berani melakukan itu padanya.
"Karin apa yang.. kemana dia?" Kara melihat learah pintu yang tertutup rapat karena tidak menemukam keberadaan Karin di sana.
Dengan langkah lebarnya Kara menhampiri pintu kamar adiknya dan menggedornya secara kasar.
"Karin buka pintunya.."
"Ayo buka pintunya hadapi abang langsung jangan beraninya main timpuk trus lari" teriak Kara masih dengan tangannya yang memukuli pintu.
"Karina buka pintunya"
Karin yangjadi tersangka penimpukan malah tertawa puas di dapur karena berhasil membuat abangnya tidak galau lagi. Tadi setelah melemparkan sendal rumahannya Karin langsung lari turun dan kedapur bukan masuk kamar.
Kara yang salah alamat dan mengira adiknya masuk ke dalam kamar. Tidak mendapat respon apa lagi jawaban Kara membukan pintu dan masuk dengan wajah kesalnya. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kemana dia?" heran Kara lalu keluar lagi dan turun ke lantai satu.
"Karina.." teriak Kara lagi hingga suaranya menggema di lantai bawah.
Banu yang masiih menonton acara berita langsung melihat kearah tangga dimana anak sulungnya turun sambil memegang sendak anak bungsunya. Sepertinya keributan akan dimulai lagi di rumahnya.
"Jangan teriak-teriak bang! ini rumah bukan hutan" ucap Banu yang hanya di angguki saja oleh Kara yang masih melanjutkan misinya mencari adiknya.