First Kiss

First Kiss
Dokter modus



Setelah menemyi dokter yang menangani masalah amnesia Karin. Kini Aldi kembali mendorong kursi roda Karin pelan menuju tempat terapi tulang sekaligus akan memeriksakan kaki Karin.


Di dokter sebelumnya Karin di nyatakan mulai membaik dan ingatannya juga sudah mulai bermunculan pelan-pelan. Meski begitu pihak keluarga dan orang terdekat tetap di minta untuk membantunya mengingat secara perlahan saja.


"Permisi dokter" ucap Tati yang memang masuk lebih dulu bersama Desi.


"Iya silahkan masuk" sahut dokter itu tersenyum kecil menyambut calon pasiennya.


"Silahkan duduk" Tati dan Desi duduk du kursi di depan dokter muda itu, sedangkan Karin bersama Aldi di belakang mereka.


"Ada keluhan apa ya ibu-ibu?" tanya si dokter pria itu.


"Saya mau memeriksakan keadaan kaki anak saya dokter sekaliann terapi" sahut Tati.


Dokter itu tersenyum menatap kedua ibu yang malah jadi seperti pasien karena mereka yang duduk tepat di hadapan dokter.


"Maaf ibu-ibu, anaknya mana ya" Tati dan Desi saling pandang lalu menyadari keadaan.


"Ah iya maaf dokter" seru keduanya lalu berdiri bersama dan melihat Karin.


"Ini Karin dokter yang mau periksa" kata Tati menunjuk anaknya yang hanya diam bersama Aldi.


Dokter itu tersenyum manis saat melihat Karin, gadis remaja cantik yang sudah beberapa kali jadi pasiennya dan melakukan terapi bersamanya. Aldi yang melihat tatapan dan senyuman si dokter untuk Karin jadi merasa kesal sendiri.


"Ekhem, maaf dokter apa busa kita periksa sekarang?" seru Aldi karena sejak tadi si dokter hanya melihat Karin saja tanpa bicara.


"Oh iya tentu, mari Karin ikut saya" ajak si dokter muda hendak mengambil alih kursi roda Karin untuk di dorongnya.


"Maaf dokter, saya saja yang dorong, silahkan duluan tunjukkan tempatnya" datar Aldi menepis tangan yang sudah akan menyentuh bagian dorongan belakang.


Melihat sikap Aldi yang datar dan tidak mengijinkannya mendorong Karin membuat Dokter itu akhirnya berjalan lebih dulu.


"Kalau begitu silahkan kesini mas" ucapnya.


Aldi melihat kedua ibu yang hanya menatap mereka.


"Kami kesana dulu, bunda, tante, Karin biar Aldi yang jagain" setelah mendapat anggukan dari kedua ibu itu, Aldi mendorong kursi roda Karin kearah ruangan yang di tuju si dokter.


Setelah masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, dokter mendekati Karin lagi dan sedikit menunduk tapi kembali di tahan oleh Aldi.


"Maaf dokter, anda mau apa?" nada kesal nan datar Aldi itu membuat si dokter kurang nyaman.


"Saya mau memindahkan pasien ke bed itu mas supaya bisaa di periksa kakinya"


"Biar saya saja yang mindahkan" Aldi langsung mengangkat tubuh Karin dengan mudahnya dan di dudukkan di bed yang di maksud si dokter.


Dasar dokter modus, enak aja dia mau cari kesempetan pegang-pegang Nana dumel Aldi dalam hati dengan kesalnya. Karena sejak tadi si dokter yang terus berusaha mendekati dan memegang Karin.


Karin yang di perebutkan keduanya juga cuma menatap Aldi saja dan sesekali melihat dokter muda itu, lalu pandangannya beralih pada Aldi lagi yang terlihat begitu posesif padanya.


"Silahkan di periksa pak dokter" ketus Aldi sedikit mundur.


Dokter itu menghela napas lalu melakukan beberapa prosedur pemeriksaan pada kaki kiri Karin.


"Mari kita ke depan mas untuk melihat hasilnya" ajak si dokter.


Aldi mengangguk lalu kembali mengangkat Karin untuk di pindahkan ke kursi roda.


Tati dan Desi sudah duduk kembali di depan si dokter yang melihat sesuatu di tangannya.


"Bagaimana dokter? apa sudah ada kemajuan?" tanya Tati tidak sabar.


Melihat itu Aldi jadi semakin tidak menyukai si dokter yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Karin. Tidak akan ku biarkan siapapun mengambil Nana batinnya.


"Syukurlah akhirnya putriku bisa jalan lagi" senang Tati tersenyum sumringah.


"Iya syukurlah yang kita harapkan kesampean" ucap Desi pula.


"Apa penyangganya sudah bisa di lepas dokter?" tanya Tati lagi.


"Sudah bu, saya susah melepasnya sekalian tadi" sahutnya, biasanya kalau habis melepaskan penyangga itu, penyangga yang baru akan di pasang setelah terapi tapi sekarang tidak peelu lagi.


Karin juga tersenyum senang mendengar kabar bahagia itu. Tidak perlu lagi ia duduk di kursi roda dan di dorong-dorong, Karin tidak ingin terus menyusahkan orang dengan terus mendorongnya.


"Sekarang kita terapi ya dek Karin" ucap dokter itu menatap Karin senyum juga.


"Apa terapi itu masih di perlukan juga dok?" tanya Aldi yang semakin tidak suka pada dokter modus itu.


"Perlu mas, ini terapi terakhirnya"


Aldi menghela napas panjang.


"Di mana terapinya?"


"Ayo ke sana"


Kembali Aldi mendorong kursi roda Karin mengikuti dokter itu. Walaupun satu detik Aldi tidak akan mengijinkan dokter itu atau pria lainnya mendekati Karin, selain Banu dan Kara tentunya.


Di ruangann yang memang di khususkan untuk terapi ada beberapa orang yang berada di sana. Karin di terapi oleh ahli yang memang sudah biasa melakukannya. Kemudian Karin di minta untuk coba berdiri pelan-pelan.


Aldi sudah siap sedia di samping Karin dan membantu gadis itu berdiri kemudian berjalan pelan. Aldi sesekali melepaskan pegangannya pada Karin tapi tetap sedia tangannya dan badannya di dekat gadis itu.


Dokter muda yang sebenarnya ingin melakukan hal itu pada Karin jadi merasa kesal. Biasanya jika Karin datang untuk terapi lalu berlajar berjalan untuk membiasakan kakinya maka dokter itu lah yang akan membantu Karin. Tapi sekarnag tidak bisa karena ada Aldi yang terus menghalanginya.


Siapa sih dia? posesif amat gumamnya dalam hati menatap kesal pada pasangan yang masih melangkah pelan-pelan itu.


Rasain! jangan harap bisa nyentuh Nanaku, nih lihat cocokkan kami gumam Aldi dalam hati sembari memegangi Karin yang berjalan pelan. Senyum licik Aldi semakin kentara saat Karin justru memegangi tangannya dan menyandarkan tubuh di badan Aldi.


Si dokter semakin seperti kebakaran jenggot melihat hal itu tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Beberapa saat kemudian Karin menyudahi kegiatannya dan mengajak pulang. Aldi yang sudah tidak betah di sanapun langsung saja membawa kedua ibu dan Karin pulang.


"Terimakasih dokter, saya harap kita tidak bertemu lagi" ketus Aldi dengan wajah datarnya.


Tiga wanita yang bersama Aldi itu menatap heran padanya yang mengatakan hal demikian. Apa lagi Karin yang memang tidak paham akan situasi Aldi saat ini walau ia sejak tadi teris menatap laki-laki itu.


Bagi Karin kehadiran Aldi sudah sangat membuatnya senang.


Di dalam mobil Desi menatap anak mudanya yang masih fokus menyetir itu. Ada rasa ingin bertanyaa sesuatu tapi di tahannya, nanti sajalah pikirnya.


"Di, kita caari makan siang dulu ya" ucap Karin dengan suara lembutnya yang langsung membuat hati Aldi bergetar.


"Kamu mau makan apa Nana?" tanya Aldi melirik Karin dari spion di atasnya dengan tersenyum manis karena sejak tadi laki-laki itu hanya berwajah masam.


"Seafood"


Aldi tersenyum dan mengangguk semangat.


"Ok" sahutnya membawa laju mobil mencari rumah makan seafood.