
Tidak terasa beberapa bulan sudah berlalu sejak Karin masuk kesekolah itu. Sekarang sudah semakin dekat dengan masa-masa ujian nasional.
Sekitar seminggu lagi ujian akan di laksanakan dan setelah ujian nanti mereka berencana akan pergi refresing atau jalan-jalan.
"Jadi anak-anak, kemana kita mau pergi nanti?" tanya bu Sari menuruti keinginan siswanya yang ingin jalan-jalan.
"Kita ke Bali aja buk" seru seorang siswa.
"Raja Ampat aja buk"
"Luar negeri lah buk, percumakan sekolah kita tingkat nasional kalo jalan-jalan aja cuma di dalem negeri" ucap Neli.
"Ibu kurang setuju kalau ke luar negeri, mungkin kamu bisa keluar uang berapapun buat pergi, tapi kita juga harus pikirkan yang lainnya" ujar bu Sari menatap seluruh anak didiknya.
"Ya elah buk, mereka semua pati bisalah keluar uang berapapun buat keluar negeri, di kelas ini kan semua anak orang kaya, berapapun yang di minta sama orang tua pasti di kasih" Neli melirik Karin yang terlihat santai dan hanya mendengarkan saja bersama Aldi.
Hal itu membuat Neli merasa semakin marah pada Karin, ia sangat ingin mendapatkan perhatian Aldi. Walau hanya sekedar di pandang saja.
"Ibu gak setuju keluar negeri, karena tanggung jawab ibu buat jagain kalian nanti lebih susah" kata bu Sari yang memikirkan segala kemungkinannya juga jika pergi keluar.
"Kita kan udah besar buk, jadi gak perlu di jagain sama ibu, memangnya kita anak TK apa" gerutu Neli kesal karena sarannya tidak di terima.
"Siapa yang bilang kalian anak kecil? itukan kata kamu sendiri bukan ibu" sarkas bu Sari yang juga ikutan kesal akan ucapan Neli yang semaunya sendiri.
"Kalo kamu mau keluar negeri pergi sendiri, kami liburan di dalam negeri aja, siapa yang setuju sama ibu angkat tangan, yang setuju sama Neli merapat sana sama Neli, kali aja dia mau modalin kalian tiket"
Seluruh siswa angkat tangan dan lebih menyetujui usulan bu Sari. Sedangkan Neli merengut kesal juga marah karena tidak ada yang mendukungnya untuk peegi keluar negeri.
"Jadi kemana kita mau pergi?" tanya bu Sari untuk ke dua kalinya.
"Raja ampat bu"
"Bali bu"
"Museum"
"Perpustakaan kota"
Seluruh siswa diam menatap Karin heran, bagaimana tidak heran kalau yang lainnya mengusulkan tempat yang seru sedangkan Karin tempat yang membosankan bagi mereka. Peepustakaan kota? di sana bahkan hanya ada buku saja.
Meski banyak koleksi buku di sana tapi bagi mereka yang kurang suka membaca akan merasa sangat bosan bila berada di perpustakaan lama-lama.
"Cih, kamu saja sendiri kalo mau ketempat itu, orang cupu dan bermata empat kayak kamu itu memang cocok di asingkan di sana sama buku" ejek Neli menatap rendah Karin.
"Neli! jaga ucapan kamu kalo masih mau ikut ujian dan lulus dari sini" sentak bu Sari yang tidak suka dengan ucapan Neli.
"Kenapa sih buk? yang ku bilangkan benar, lagian siapa juga yang mau ke perpustakaan kota, pilihan orang susah ya gitu"
"Diam atau kamu benar-benar gak akan ujian sama sekali" marha bu Sari melotot galak pada Neli yang keterlaluan.
"Apapun pendapat teman kamu, gak seharusnya kamu hina dan remehkan gitu, semua usulan kalian bakalan kita jadikan satu trus di rundingkan mana yang lebih cocok dan di setujui buat kita datangi, kalo kamu gak suka sama cara kami terserah aja, tapi diam dan jangan bicara" lanjut bu Sari.
Neli memutar bola matanya malas karena sejak tadi dia saja yang kena marah bu Sari, sedangkan yang lainnya tidak.
"Jadi tempat mana yang kalian setujui dari semua usulan tadi?" tanya bu Sari.
"Menurut saya lebih baik kita cari tempat yang dekat aja buk, kalo terlalu jauh takutnya ada teman kita gak bisa ikut karena beberapa hal di keuangan walaupun di sini semua anak orang berada" usul ketua kelas.
"Saya setuju" sahut Aldi membuat semua siswa menatap laki-laki yang jarang bicara itu.
Bu Sari berpikir sejenak.
"Boleh juga tuh, gimana yang lainnya? setuju?"
"Setuju buk"
"Ok, jadi kemana tempat rekomendasi kamu itu?" tanya bu Sari menatap ketua kelas.
"Puncak atau hutan kota, kita bisa kemah disana satu atau dua hari, itu lebih menyenangkan dan berkesan, gak kalah berkesanlah sama jalan-jalan keluar negeri" ucapnya menyindirk Neli yang memang selalu suka membanggakan luar negeri.
"Kita ke puncak aja bu, di sana ada penginapan tempat pamanku kerja, nanti kita bisa minta kompensasi harganya supaya lebih hemat"
"Yang lain setuju?" tanya bu Sari menatap seluruh siswanya.
"Setuju buk" serentak semuanya kecuali Neli yang masih terlihat marah dan kesal.
"Ok jadi kita pergi semua ya! 35 orang" kata bu Sari.
"Kasian banget si cupu gak ikut" gumam Neli yang mengira Karin tidak ikut karena akan tinggal satu orang.
"Yang tinggal itu kamu Nel, kan kamu maunya keluar negeri" ucap seorang siswa yang duduk di depan Neli.
"Apa? kenapa aku? aku punya duit kali buat pergi, apa lagi cuma ke puncak doang penginapan paling mahalpun bisa ku dapatkan dengan mudah" kata Neli sombong.
"Jadi kamu juga mau ikut sama yang lain? gak mau keluar negeri aja? nanti kalah famous lagi sama kelas lain" sindir bu Sari yang sangat tahu sikap Neli yang suka pamer dengan yang lainnya.
"Ya ikutlah bu, tapi aku gak mau naik bus sama yang lain, aku naik mobil sendiri aja di anterin supirku, aku juga mau pisah penginapan" kata Neli percaya diri.
"Ya sudah terserah, semua teman kamu jadi saksi kalau kamu gak mau gabung sama kami di penginapan sama perjalanan, jadi kalau ada apa-apa kami gak tanggung jawab dan jang menyalahkan siapapun" tegas bu Sari.
"Siapa takut, aku juga udah dewasa kali bu"
"Terserah lah, anak orang kaya" ucap bu Sari lalu kembali membahas hal lainnya.
Setelah semua pembahasan selesai dna waktu istirahat sudah tiba. Karin makan siang bersama Aldi seperti biasanya, tapi kali ini bekalnya dari Aldi.
Karena sudah jadi kebiasaan mereka gantian membawa bekal. Aldi semakin merasa nyaman dengan kedekatan mereka, begitupun dengan Karin yang sudah terbiasa dengan keberadaan Aldii di sekitarnya.
Juga sikap Aldi yang sering berubah-ubah dengan mudahnya. Apa lagi ucapan Aldi yang hanya tiga kata saja paling banyak.
"Nanti kita ke perpustakaan ya!" ucap Karin sembari mengunyah makanannya.
"Hm" sahut Aldi seadanya.
Aldi juga masih gencar mencari perempuan dengan luka di bahu belakang, akhir-akhir ini Aldi sering di mimpiin oleh teman kecilnya itu. Aldi semakin merasa kalau teman kecilnya itu pasti masih mengingatnya dan juga mencarinya.
Itulah sebabnya Aldi semakin mencari dan mencoba mengingat apa saja hal yang ia lupakan. Karena tidak semua ingatan masa kecilnya dapat di ingat dengan baik, Aldi jadi melupakan beberapa hal yang lebih memudahkannya menemukan teman kecilnya itu.---