First Kiss

First Kiss
Nambal pakaian



Aldi menatap kertas di tangannya dengan tidak semangat, pandangannya terangkat pada orang yanh ada di depannya.


"Bapak yakin ngasih ini sama saya?" tanya Aldi meyakinkan sekali lagi.


"Iya, tentu bapak yakin kamu yang pantas mendapatkannya" ucap pria itu.


"Lebih baik di alihkan ke yang lain aja pak kalo sayakan memang anak yang lunya yayasan, saya juga bisa kuliah jalur mandiri jadi lebih baik ini di kasihkan sama yang lebih butuh supaya bermanfaat sama orang itu" ucap Aldi.


"Tapi siapa yang butuh Al? kamu tahu sendiri di sekolah ini semuanya anak orang berada gak bakalan ada yang mau juga sekalipun bea siswa pintar yang di kasih, mereka pasti merasa diri mereka miskin kalo nerima itu" ucap kepala sekolah.


"Kalo benerapa tahun lalu memang ada yang dapet bea siswa dia nerima dengan senang karena dia memang pengen kuliah tapi gak punya biaya lah kalo sekarang bapak gak yakin ada yang mau" lanjutnya.


Aldi berpikir sejenak mencoba mencari siapa orang yang bisa menerima bea siswa itu. Bukannya Aldi menolak karena sombong atau karena dia kaya tapi Aldi lebih tidak bisa meninggalkan gadis pujaannya sendirian.


Karena bea siswa itu yang mengharuskan siswanya keluar negeri sesuai kampus yang memang di tunjuk oleh pihak sekolah. Aldi merasa tidak akan bisa lagi meninggalkan Karin sendirian seperti dulu.


Baru saja mereka bertemu dan sudah harus berpisah lagi, kalau hanya beberapa jam saja Aldi masih sanggup tapi kalau harus menahun mana tahan pikirnya. Apa lagi keadaan Karin yang masih masa pemulihan amnesia jadi tidak mungkin Aldi meninggalkannya, walaupun nanti kembali lagi.


"Apa bapak udah periksa catatan bea siswa yang di kasih sekolah ini untuk siswa?" tanya Aldi karena biasanya ada satu atau dua murid yang sekolah gratis di situ karena prestasinya.


"Ah iya bapak inget, ada di kelas 12F, dia itu anak yang pinter dua tahun lalu dia masih dapet bea siswa tapi karena sejak naik kelas 12 ini dia jarang sekolah tanpa alasan jadi bea siswanya di cabut, tapi prestasinya masih tetap sama bahkan sama temanmu yang lain di kelas unggulan dia lebih unggul malah" ucap kepala sekolah.


"Ya udah pak kasih dia aja ini, bapak bisa tanyak-tanyak dulu sama dia alasan dia gak masuk sekolah dan pastikan dia rajin belajar nanti di sana" ucap Aldi.


"Ya sudah kalo gitu, tapi kamu gak menyesalkan nanti ini di alihkan?"


"Gak pak, saya keluar dulu" ucap Aldi yang di angguki kepala sekolah.


Aldi cepat-cepat kembali ke kelasnya karena akan ada pembahasan tenntang perjalanan mereka ke puncak yang sempat di tunda karena faktor cuaca yang sedang musim hujan dan tempat yang di tutup sementara.


Kali ini Aldi tidak duduk sendirian karena ada Karin yang ikut bersamanya ke sekolah. Tadinya Karin tidak di ijinkan Tati untuk ke sekolah karena kakinya yang masih harus banyak istirahat.


Tapi karena alasan 'ada Aldi' jadilah Karin di ijinkan dengan syarat jangan jauh-jauh dari Aldi. Karin yang merasa rindu suasana sekolah awalnya ingin keliling karena mereka pun sudah tidak belajar lagi.


Tapi Aldi mengatakan untuk menunda kelilingnya sampai nanti urusannya dengan kepala sekolah selesai. Bertepatan dengan kedatangan mereka Aldi memang mendapat panggilan ke ruang kepala sekolah untuk membahas masalah bea siswa itu.


"Kok lama?" tanya Karin saat Aldi duduk di sampingnya.


"Iya tadi ada sedikit masalah soalnya, kamu gak ada yang gangguinkan!"


"Gak ada" Karin tersenyum pada Aldi yang di balas laki-laki itu tipis.


Karin tidak menggunakan kacamatanya lagi bahkan sejak ia keluar dari rumah sakit. Kacamatanya itu juga entah ada dimana letaknya karena Karin tidak pernah melihatnya.


"Kapan gurunya dateng? aku udah gak sabar pengen lihat-lihat sekolah lagi sebelum nanti kita tinggalkan" seru Karin semangat.


"Kamu yakin mau keliling? kaki kamu gak sakit emangnya!"


"Kan ada kamu! kalo sakit tinggal minta gendong" Karin tersenyum manis pada Aldi dengan mata yang berbinar bahagia.


Aldi ikut tersenyum manis juga karenanya, sejak Karin lupa ingatan gadis itu memang jarang tersenyum manis begini. Paling hanya senyuman tipis saja yang di berikannya, tapi sejak pulang cek terakhir kali Karin jadi terlihat lebih bersemangat dan lebih ceria lagi.


Tentu saja keluarga Karin sangat melihat hal itu, di tambah dengan kedekatan keduanya para ibu bahkan sudah merencanakan pernikahan untuk Karin dan Aldi. Memang terkesan berlebihan tapi Desi dan Tati ingin segalanya sempurna kalau bisa secepatnya.


"Aldi" panggil Neli yang datang dengan berlari mentel, apa lagi pakaiannya yang tidak pantas di pakai di sekolah.


Walaupun angkatan Aldi sudah tidak memakai pakaian seragam sekolah lagi tapi tetap saja menjaga kesopanan dengan berpakaian tertutup itu penting. Namun itu tidak berlaku bagi Neli yang malah memakai pakaian terbuka.


Dengan hanya atasan tangtop yang di lapisi blajer pendek tipis juga rok pendeknya yang menampakkan pahanya.


"Al kamu lihat nih tangan aku luka-luka sama pipi aku nih sakit gara-gara Sopia" rengek Neli melihat Aldi dengan wajah sedihnya.


Aldi melihat Neli dari atas sampai bawah lalu geleng kepala. Neli yang di lihat sangat senang dan mengira Aldi tergoda dengan penampilannya itu.


"Kamu harus marahin Sopia, gara-gara dia kulit mulus aku jadi cacat" rengeknya lagi mencoba memegang lengan Aldi tapi di tepis.


"Aku bakalan pergi tapi sama kamu ya, aku takut nanti Sopia sakitin aku lagi" manjanya.


"Pergi" bentak Aldi yang sudah risih dengan Neli yang malah bergelayut manja memegangi tangannya.


"Kamu kok jahat sih Al" sedih Neli.


Aldi melihat Karin di sampingnya yang terlihat acuh dengan keberadaan Neli.


"Kamu mau ke taman gak?" tanya Aldi yang di angguki Karin.


"Kita kesana yuk" Aldi berdiri lalu membantu Karin dengan memegangi kedua tangannya.


Melihat itu Neli tidak terima dan mendorong Karin hingga terbentur dinding.


"Apa yang kamu lakukan hah!" marah Aldi pada Neli lalu membantu Karin berdiri lagi.


"Mana yang sakit?" tanya Aldi.


"Gak ada kok, tenang aja" sahut Karin membuat Aldi tersenyum tipis.


Karin menarik Aldi menyingkir dari kursi lalu menggandeng lengan Aldi lalu berjalan keluar. Saat melewati Neli, Karin berhenti sebentar tepat di sampingnya lalu mengatakan seauatu yang menohok.


"Di tukang jahit banyak kain bekas buat nambal pakaian mbak yang kurang bahan itu" ucapnya.


Neli melotot lalu mengeram marah melihat kepergian Karin dan Aldi. Lalu apa tadi? mbak? Karin memanggilnya mbak?.


"Cupu sialan! aku masih muda dan bukan mbak mu" teriaknya marah.


Teman-teman yang ada di kelas menertawakan Neli yang di panggil mbak, apa lagi di suruh ketukang jahit buat nambal baju.


"Ya tuhan malunya" ucap salah satunya.


"Kalian punya karung gak? Neli butuh tuh"


"Buat apa karungnya sama Neli?"


"Buat ngarungin mukanya yang malu itu"


"Memangnya dia punya malu?"


"Gak sih kayaknya"


Tawa yang lainnya kembali berdera mengejek Neli, yang di ejek langsung berlari keluar karena malu yang tidak tertahankan lagi.


"Kurang ajar, semua ini gara-gara Karin sialan itu, awas aja nanti" marahnya.


Neli melewati adik kelas di lorong lantai bawah yang memang berisi kelas 10 dan 11.


"Kak awas apemnya jatuh" celetuk adik kelas laki-laki yang di lewati Neli.


Neli balik badan dan melihat di bawahnya yang tidak ada apa-apa.


"Apem apa? aku gak bawa makanan jalanan itu ya, gak level" ucap Neli bersungut marah.


"Kakak jalannya kaya sumo apemnya gak di bungkus rapi nanti jatuh" ucapnya lagi.


"Aku gak punya apem" kesalnya.


"Kalo gak punya trus yang di tutup kain pink itu apa?" gelak laki-laki itu bersama temannya yang langsung lari.


Neli yang bari tahu arah maksud adik kelas itu langsung memegangi roknya dan berlari cepat.