First Kiss

First Kiss
Kecelakaan



Kejadian tiga hari yang lalu..


Saat pulang dari mall Kara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, apa lagi Karin yang terlihat mulai ngantuk membuat Kara tidak mau tidur adiknya terganggu dengan kecepatan mobil yang kencang.


Seperti kebiasaan bagi Karin yang selalu tertidur kalau sudah kenyang habis jalan-jalan malam begini.


Jalanan yang cukup lenggang itu membuat Kara bisa sangat santai membawa mobilnya namun tetap fokus mengemudi. Tapi tiba-tiba ada satu mobil yang mendekati mobil Kara dengan kaca mobil yang terbuka.


"Sayang aku di sini" teriak perempuan yang membuat Kara kaget sekaligus malas.


"Eh buset! ngapain tuh anak pake muncul-muncul segala? mana teriak-teriak lagi kaya di hutan" gumam Kara lalu melihat Karin yang masih tidur lelap.


Tangan Kara mengelus kepala Karin sejenak tanpa melihat adiknya.


"Kara aku di sini" teriak Beby lagi tanpa menyerah.


Bahkan kali ini perempuan itu sudah mulai mendekatkan mobilnya pada mobil Kara yang masih melaju dengan tenang.


"Kara sayang"


Kara yang takut terjadi sesuatu langsung membuka kaca mobilmya juga dan melihat sekejap pada Beby yang masih tersenyum dan melihat Kara sesekali.


"Fokus sama kemudimu jangan lengah" teriak Kara melihat sejenak perempuan di samping mobilnya.


"Apa? aku gak denger" teriak Beby lagi.


"Lihat jalan"


"Jalan-jalan! aku gak jalan-jalan kok, aku ngikutin kamu"


"Fokus sama jalan"


Keduanya terus berteriak, Kara mengingatkan Beby untuk fokus sedangkan Beby salah pendengaran yang berakhir jawaban gak nyambung darinya.


Karin yang terganggu dengan suara teriakan membuka matanya dan melihat kesamping di mana ada abangnya yang sedang saling lirik dan berteriak dengan perempuan yang ribut dengan mereka tadi di kafe.


Sorot lampu terang dari depan membuat Karin melihatnya dan langsung berteriak.


"ABANG AWAS"


Kara yang melihat sorot lampu dari depan langsung repleks banting stir ke kiri pembatas jalan. Karena di kanannya ada mobil Beby yang semakin mendekati mobil Kara, sedangkan ada mobil besar di depan yang sudah masuk kejalur mereka.


Mau tidak mau Kara melakukan itu, meski sudah banting stirpun mobil yang di naiki Kara dan Karin masih bisa senggolan dengan mobil besar yang oleng itu. Akibatnya bagian kiri mobil Kara bergesekan dengan pembatas jalan.


Kara mencoba berbagai cara untuk tetap menyeimbangkan mobilnya yang bergesekan itu dan menginjak remnya karena mobil malah melaju cepat akibat senggolan tadi.


Pada akhirnya mobil Kara berhenti setelah menerobos pembatas dan menggantung di sisi Karin. Karin yang sejak kejadian sudah ketakutan dan menutup matanya sembari memanggil orang tuanya justru jatuh pingsan saat ini.


Posisi Karin juga menggantung karena tali pengaman kursi yang masih mengikat tubuhnya. Kara yang melihat keadaan adiknya sangat bahaya jadi khawatir, apa lagi mobil yang menggantung bisa saja jatuh dan bisa di pastikan kalau Karin yang akan jatuh lebih dulu.


"Karin, bertahanlah dek" ucap Kara lirih sembari membuka tali pengaman di tubuhnya dengan sisa tenaganya akibat tubuhnya yang bergetar karena kejadian tadi.


Kara meraih tali pengaman yang masih menahan tubuh Karin.


"Bertahanlah dek, abang mohon" lirih Kara masih berusaha menggapai tubuh Karin yang miring dan hampir lepas dari mobil.


Terlihat beberapa orang datang menolong mereka dan menghubungi pihak kepolisian untuk datang membantu. Mereka tidak berani bertindak dengan mobil Kara yang sudah nyaris jatuh itu.


"Ayo mas sini bahaya" ucapnya orang itu.


"Karin, adikku" teriak Kara yang sudah di keluarkan.


"Tolong adikku, tolong adikku, Karinn" teriak Kara pada orang-orang yang ada di sana.


"Ayo kita pegangin mobilnya, coba tahan ada selamatkan orang yang udah ngantung itu"


"Tapi kalo gak berhasil orang itu bisa aja jatuh kebawah"


"Kita coba aja dari pada gak, mudah-mudahan berhasil, polisi bentar lagi sampe"


Semua orang mencoba menarik mobil karena tidak tega melihat Kara yang terus berteriak dan mencoba mendekati mobil itu. Ada yang manahan mobil dengan berbagai cara dan satu orang yang mencoba masuk perlahan supaya mobil tidak semakin merosot.


"Karin adikku Karin, tolong adikku tolong selamatkan dia, dia adikku tolong" teriak Kara masih berusaha melepaskan pegangan dua orang pria yang menahannya.


"Sabar mas, kita lagi usaha"


"Karin, selamatkan adikku" isak Kara menangis bagaimana posisi adiknya tadi yang bahkan hampir jatuh.


Seberapapun usaha orang menahan mobil Kara tetap saja tidak membuahkan hasil, mobil itu oleng dan jatuh begitu saja kedasar jurang di pinggir jalan tol itu.


Orang yang masuk kedalam mobil tadipun jika tidak di tarik yang lain akan ikut jatuh bersama mobilnya. Sedangkan yang memegangi mobil langsung melepaskan pegangan mereka dna mobil meluncur kebawah.


"KARRRIIIINNN" teriak Kara histeris kala melihat mobilnya jatuh dan langsung meledak di bawah.


Kobaran api bahkan menerangi bagian bawah tol itu karena api yang cukup besar. Orang-orang yang di dekat sana sedikit mundur dan menahan tubuh Kara yang ingin melompat ke bawah.


"Lepaskan aku lepaskan, aku mau cari adikku lepaskan aku, Karin Karin" histeris Kara mencoba melepaskan pegangan orang-orang.


"Istigfar mas jangan nekat" ucap mereka.


"Karin jangan tinggalin abang dek, Kariiinnnn"


Akhirnya tubuh Kara ambruk karena pingsan, ia tidak sanggup lagi menahan gejolak perasaannya menyaksikan bagaimana kobaran api itu bisa menerangi daerah dimana mobil jatuh. Lalu bagaimana dengan adiknya yang ada di dalam sana.


Polisi langsung bergerak membereskan kecelakaan itu dengan ambulan yang membawa korban kerumah sakit. Kara juga dua orang pengemudi mobil besar yang menyenggol tadi.


Sedangkan mobil Beby tidak terjadi apa-apa karena saat perempuan itu kaget dan banting stir juga, keadaan di kanannya sepi dan jalan cukup luas untuk bisa menghindari kecelakaan. Dan perempuan itu selamat, tapi saat itu juga ia langsung melaju pergi karena merasa takut melihat mobil besar yang oleng itu tanpa tahu lagi apa yang terjadi.


Banu dan Tati yang mendapat kabar anak merekaa mengalami kecelakaan langsung mendatangi rumah sakit dimana Kara berada. Tati bahkan tidak sanggup berjalan begitu mendengar kabar tentang anaknya.


Wanita paruh baya itu juga pingsan saat polisi memberi penjelasan kalau ternyata anak bungsu mereka jatuh bersama mobil yang meledak itu. Banu juga merasa sangat sedih dan hampir jatuh karena kakinya terasa lemah dan tidak snaggup berpijak lagi, putri kesayangannya jatuh bersama mobil meledak dan keadaannya belum di ketahui.


Antara hidup dan mati, keadaan Karin masih belum bisa di pastikan dan polisi masih berusaha memadamkan api yang besar itu. Tati menangis histeris mengetahui anak perempuannya yang masih belum pasti hidupnya.


Banu pergi ke tempat di mana mobil jatuh dan meledak untuk ikut mencari putrinya dan memastikan sendiri keadaan anaknya. Tati yang ingin ikut tidak di ijinkan oleh Banu dan di minta tetap di rumah sakit menjaga Kaea yang masih di tangani dokter.


Mata Banu melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di lokasi kecelakaan. Bahkan sudah satu jam tapi api belum padam sepenuhnya, ada tiga mobil pemadam di sana yang masih mencoba memadamkan api.


Tubuh Banu kembali limbung saat memikirkan anaknya ada di dalam mobil terbakar itu dengan kobaran api besar. Apa tubuh putrinya sudah matang karena terbakar?.


"Karin putriku" sedih Banu dengan air mata yang menetes tapi langsung di hapusnya.