
Sebelum ke kantor Kara menyempatkan diri untuk menuju ke sebuah klinik tempat semalam ia meninggalkan anak kecil imut bernama Kiko yang ternyata anak dari salah satu dokter disana.
"Permisi, bisa saya bertemu dengan dokter Salsa?" ucap Kara pada seorang perawat jaga.
Melihat ketampanan Kara yang menawan membuat perawat itu menatapnya kagum. Bahkan tanpa berkedip hingga akhirnya Kara bertanya untuk kedua kalinya.
"Permisi mbak! bisa saya bertemu dokter Salsa?" ucap Kara lagi.
Terlihat perawat itu salah tingkah dan gugup karena bukannya menjawab ucapan Kara malah asik memandangi ciptaan tuhan di hadapannya dengan penuh kagum.
"Eh maaf mas, mau ketemu sama dokter Salsa ya! apa udah ada janji sebelumnya?" tanya perawat itu mebcoba basa basi supaya Kara bisa lebih lama lagi di hadapannya.
"Belum" sahut Kara singkat dengan wajah datarnya.
"Kalo belum ada janji harus ngantri mas, karena dokter Salsa masih sibuk kalo pagi gini" kata perawat itu dengan senyum manisnya berharap bisa memikat Kara.
"Bisa tanyakan padanya kapan saya bisa bertemu, ini masalah penting" ucap Kara lagi yang tidak ingin membuang-buang waktunya lebih lama lagi di sana.
"Gak bisa mas, dokter Salsa lagi sibuk sama pasiennya jadi gak bisa di ganggu, kalo mau ketemu ya kayak yang saya bilang tadi harus ngantri" jelas perawat itu lagi yang masih mencoba menahan Kara.
Malas berlama-lama di sana dan meladeni perawat yang malah terlihat terlihat tebar pesona dan menggodanya itu. Kara langsung saja berbalik badan dan meninggalkan tempat itu.
"Eh mas mau kemana? gak jadi ketemu sama dokter Salsa nya?" tanya perawat itu dengan suara sedikit keras karena langkah kaki Kara yang lebar dan cepat.
"Yah hilang deh pemandangan indah pagi hari" gumam perawat itu dengan wajah cemberut.
Kara tidak memperdulikan panggilan dari perawat di dalam dan memilih untuk terus berjalan menjauh. Sampai di parkiran saat akan masuk ke dalam mobilnya, Kara melihat seseorang yang ingin di temuinya tadi baru saja keluar dari mobilnya sembari menggendong Kiko di lengan kanannya.
Nampak pula oleh Kara bagaimana Salsa yang membuka pintu tengah untuk mengambil belanjaannya yang terlihat cukup berat. Dengan belanjaan banyak di tangan kiri yang juga menyandang tas selempang, dan di tangan kanan yang menggendong tubuh Kiko yang cukup montok.
Wanita muda yang berprofesi sebagai dokter itu mampu melakukan semuanya tanpa merasa kesulitan sekalipun. Meskipun harus membawa banyak barang dan sang anak. Menakjubkan kemampuan seorang ibu yang bisa melakukan pekerjaan yang cukup menyulitkan itu untuk di angkut bersamaan.
Kara tidak jadi membuka pintu mobilnya dan lebih memilih untuk melangkah mendekati kedua orang yang sedang menuju ke suatu arah di bagian belakang klinik.
"Salsa" panggil Kara akhirnya saat wanita itu hendak menghilang di lorong jalan setapak.
Salsa yang memang tidak mengetahui kedatangan Kara jadi sangat terkejut saat mendengar panggilan yang sangat di rindukannya ini. Suara yang dulu selalu memanggil namanya dengan suara lembut dan penuh kasih kini kembali di dengarnya.
Walau tidak ada kelembutan di dalam suara itu, tapi Salsa sudah sangat senang mendengarnya. Bahkan langkahnya langsung terhenti dan tubuhnya terasa membeku, tapi Salsa segera menyadarkan dirinya kalau perasaannya itu terlalu berlebihan.
Mana mungkin pemuda tampan yang sedang berjalan mendekat kepadanya itu mau kembali merajut kasih dengannya setelah apa yang terjadi dan dia lakukan di masa lalu.
Setelah menghela napas panjang dan menguatkan hatinya dengan membangun tembok tinggi sebagai pertahanannya untuk tidak kembali terpesona oleh pemuda tampan yang sangat sulit di tolak pesonanya itu.
"Oh kamu! kenapa?" tanya Salsa setelah ia membalik badanya dan melihat Kara yang sudah ada di belakangnya.
"O oh kalo gitu kerumahku dulu sebentar supanya nyaman ngomongnya, gak enak kalo di sini" ucap Salsa menahan gugupnya.
Kara tidak menjawab selain anggukan kepala sajaa menyetujui ucapan wanita itu. Tanpa di duga Kara langsung saja mengambil tubuh Kiko dari gendongan Salsa. Karena anak montok itu sudah sejak tadi melihatnya sudah melambaikan tangannya meminta di gendong.
Tapi Salsa tidak serta merta memberikan Kiko pada Kara karena merasa tidak enak hati. Namun siapa sangka kalau pemuda itu sangat peka dan tidak keberatan menggendong anaknya yang terlihat sangat nyaman dan senang di gendongannya.
Senyuman manis Kiko juga mengembang begitu berpindah gendongan pada Kara yang langsung merubah raut wajahnya jadi melembut dan penuh kasih saat menatap Kiko. Dan Salsa yang melihat ekspresi itu jadi berdebar sendiri, dulu ialah yang selalu mendapatkan senyuman manis itu dan ekspresi wajah penuh kasih itu.
Tapi kini hanya tinggal kenangan saja dan tidak perlu lagi di selali yang sudah terjadi. Yang harus di lakukan selanjutnya hanya terus bersyukur dan ikhlas menjalani masa depan dengan terus berusaha semampunya untuk kehidupan lebih baik lagi bagi keduanya.
"Duluan" ucap Kara kembali pada wajah dan suara datarnya saat melihat Salsa.
Salsa hanya bisa menghembuskan napasnya pelan dan mengangguk. Langkah kakinya menuju tempat tinggalnya di sana di ikuti oleh Kara yang menggendong Kiko di dekapannya.
Seandainya Kara suaminya pasti pemandangan indah itu akan semakin menghangatkan pikir Salsa sembari melangkah.
Kalau orang yang tidak tahu pastilah mengira mereka itu keluarga yang bahagia. Suami yang tampan dan pengertian karena menggendong anak tampannya saat sang istri yang cantik itu membawa barang belanjaan banyak di tangannya. Namun itu semua hanya pemikiran orang lain saja.
Nyatanya Salsa dan Kara bukanlah pasangan yang nyata, melainkan hanya pasangan lama yang harus terpisah karena di paksa keadaan. Bahkan status mereka juga sudah berbeda, yang satu seorang janda satu anak yang satunya masih lajang. Memangnya siapa yang mau dengan janda punya anak batin Salsa pesimis tidak ingin terlalu berharap akan ada jodohnya lagi.
Sampai di sebuah rumah sederhana yang ternyata berada di belakang klinik, namun masih dapat melihat aktivitas para perawat yang sibuk dan orang-orang lewat di klinik itu. Klinik milik Salsa memang salah satu klinik terbesar di kota itu yang merupakan klinik ibu dan anak.
Kara memasuki rumah itu setelah si pemilik mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Masih memangku Kiko, Kara duduk dengan nyamannya di sana dan melihat-lihat sekitarnya.
Terdapat beberapa foto di satu ruangan yang harus di lewati lagi jika ingin kebelakang.
"Mau minum apa?" tanya Salsa sembari mendekat hendak mengambil Kiko.
"Terserah" sahut Kara santai tapi maish dengan wajah datarnya.
Salsa hanya mengangguk dan masih berusaha mengambil Kiko dari pangkuan Kara dengan lembutnya karena anaknya itu menolak di pisahkan dari Kara.
"Ayo sayang kita kebelakang dulu ya, om nya biar duduk dulu istirahat" bujuk Salsa yang justru semakin mendapat penolakan keras dari anaknya.
Melihat Kiko yang hampir menangis dan Salsa yang masih berusaha membujuk dengan suara lembutnya. Kara akhirnya meminta Salsa untuk mengambil minum saja.
"Biar dulu Kiko sama aku, ambil minum aja sana" ucap Kara yang kembali melihay wanita itu menghela napasnya sejenak.
"Jangan nakal ya nak sama om Kara, kalo nakal mama gak akan ijinin kamu deket-deket sama om Kara lagi" ucap Salsa yang langsung di angguki cepat oleh Kiko dengan gemasnya.
Tidak tahan melihat wajah menggemaskan Kiko membuat tangan Kara dan Salsa otomatis mengelus rambut Kiko. Namun yang terjadi malah tangan keduanya saling bersentuhan dengan tangan Kara tepat di kepala Kiko dan tangan Salsa di atas tangannya Kara.