
Sebulan telah berlalu sejak kejadian persidangan yang akhirnya menghukum Riki dan istrinya sudah berlalu. Dan satu tiga setelahnya kedua orang tua Riki juga di tangkap pihak kepolisian Singapura karena kasus pembunuhan dan penipuan.
Bukan hanya pada orang tua Salsa saja mereka melakukan kejahatan. Namun pada pengusaha lain yang menjadi rekan kerja juga banyak menipu dan menimbulkan kerugian. Karena permainan mereka yang cantik jadi tidak banyak yang bisa berbuat banyak untuk melaporkan keluarga itu.
Namun kini sejak berita tentang Riki yang di penjara karena menganiaya anaknya sendiri membuat akses bagi orang-orang yang pernah di rugikan bisa mencari bukti kejahatan mereka. Keluarga Riki memang menutup rapat semua kebusukan mereka dengan mempekerjakan seorang haker jahat yang handal.
Tapi entah mengapa tiba-tiba saja semuanya jadi terbuka dengan sendirinya seiring dengan beredarnya kasus tentang Riki. Bahkan kini orang tua dari Sora pun sudah mengetahui semuanya dan mengalami kerugian juga pada perusahaan mereka hampir lima puluh persen pendapatan.
Hal itu membuat orang tua Sora geram dan marah, mereka segera mengurus semuanya hingga perceraiaan anak mereka dengan Riki. Bahkan pria itu pun dipindahkan ke tahanan Singapura bersama kedua orang tuanya karena ia juga terlibat dan mendapat hukuman yang lebih berat lagi dari sebelumnya karena bertambah.
Sedangkan Kiko saat ini begitu bahagia bersama keluarga barunya. Yaitu keluarga calon papa barunya, Kara dan Salsa memang sudah sepakat untuk menikah.
Setelah sebelumnya Salsa selalu menolak dengan alasan tidak pantas untuk Kara yang masih perjaka sedangkan dirinya janda anak satu. Tapi Kara yang tidak menyerah terus saja berusaha untuk meyakinkan Salsa bahwa dia akan menerima wanita itu kembali apa adanya.
Hingga akhirnya Kara langsung membuktikan dengan membawa wanita itu ke kantor agama untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Tentu saja Salsa sangat kaget tapi juga bahagia.
Akhirnya tiga harilagi mereka akan menikah dengan pesta yang sangat meriah. Karena Salsa tinggal sendirian dan tidak ada saudaranya lagi. Maka Salsa dan Kiko di minta tinggal di rumah keluarga Kara saja, khawatir ada apa-apakata Tati.
Sekarang mereka sedang duduk bersama di ruang keluarga, kedua orang tua Aldi juga berada di sana. Walaupun akan melakukan hari sakral sebentar lagi, tapi keluarga itu terlihat sangat santai dan malah saling bersendagurau. Selama banyak yang bisa di suruh kenapa kita harus repot begitukata Banu saat menyerahkan semua urusan pada pihak penyelenggara.
"Kiko sayang, mau gak jadi anaknya anty?" tanya Karin pada Kiko yang berada di pangkuan abangnya.
"Gak! enak aja kamu dek, Kiko anaknya abang kalo kamu maupunya anak sana buat sendiri sama Aldi" ucap Kara menjauhkan Kiko dari jangkauan Karin.
"Ih abang, gitu banget sih, emaknya aja gak ngelarang kok abangpelit sih!"
"Biarin, abang papa nya" ucap Kara mendekap tubuh Kiko yang terlihat semakin gempal saja.
"Anty Iko panggil mami ya!" ucap anak kecil itu yang langsung membuat wajah Karin yang tadinya cemberut jadi cerah dan senang.
"Wah boleh banget sayang,mulai sekarang Kiko panggil anty mami ya jangan anty lagi ok"
"Ok" sahut Kiko setuju yang di balas tawa bahagia Karin.
"Kalo gitu panggil uncle ini papi ya nak!" pinta Karinlagi seraya menyentuh lengan Aldi yang memang duduk di sampingnya.
"Papi" ucap Kiko dengan senyum menggemaskannya.
"Akh kamu gemesin banget sih sayangnya mami" ucap Karin seraya meraih Kiko tapi di halangilagi oleh Kara.
"Di panggil mami boleh tapi jangan coba-coba kamu curi ya" kata Kara menjauhkan lagi Kiko dari jangkauan Karin.
"Abang pelit" ucap Karin cemberut lagi.
"Suka suka dong blleee" ejek Kara pada Karin.
Para orang tua hanya tersenyum melihat kelakuan Kara dan Karin. Di tambahlagi si kecil Kiko yang semakin menambah kebahagiaan mereka, walau bukan keturunan mereka langsung namun mereka semua sangat menyayangi Kiko layaknya cucu sendiri.
Salsa tak kalah bahagia dan terharunya saat melihat anaknya yang begitu bahagia dan dapat di terima dengan baik oleh keluarga calon suaminya. Kasih sayang keluarga yang utuh kini dapat di rasakan oleh Kiko. Selama ini hanya dirinyalah yang selalu menyayangi anaknya dan para dokter juga perawat di kliniknya yang sangat senang dengan Kiko. Berbahagialah nak, derita kita sudah berakhir batin Salsa sembari menatap anaknya dengan senyuman manisnya juga mata yang berkaca-kaca.
"Karin kapan mau di lamar nak? biar nanti bunda siapkan semuanya kamu tinggal bilang aja, mau konsep lamarannya kaya apa, dimana nanti bunda kabulin pokoknya" ucap Desi tiba-tiba dengan wajah bahagianya menatap Karin yang memang memanggilnya bunda.
Lebih tepatnya Desi yang memintanya karena dia sangat ingin juga dipanggil bunda oleh Karin. Katanya berasa punya anak perempuan sendiri.
Mendengar ucapan Desi tentu saja semuaorang kaget, apa lagi Karin dan Aldi baru saja mendaftarkan kuliah. Lah ini malah udah di tanyain kapan mau di lamar.
"Gimana mau lamaran bun kalo Didi nya aja gak jelas" ucap Karin yang membuat semua orang jadi tambah kaget dengan reaksi gadis itu.
"Gak jelas gimana nak?" tanya Desi penasaran.
"Ya gak jelas lah bun, waktu itu Didi pernah ngajakin Karin ke penghulu tapi gak jadi-jadi, kan gak jelasitu namanya" kesal Karin yang semakin cemberut menatap Aldi di sampingnya yang masih cengo.
"Tapi itukan cuma bercanda Nana, bukan beneran" ucap Aldi.
"Jadi kamu gak serius sama aku? kamu selamaini cuma main-main aja, kedekatan kita cuma candaan aja gitu iya!" cecar Karinmembuat Aldi garuk-garuk kepala bingun.
"Bukan itu mak..."
"Dasar anak keterlaluan, berani-beraninya kamu gak serius sama Karin hah!" ucap Desi seraya meraih telinga Aldi yang memang keberadaan Aldi tidak jauh darinya.
"Akh ampun bunda ampun dengerinpenjelasan Aldi dulu" teriak Aldi seraya memegangi tangan Desi yang menarik telinganya cukup kuat.
"Telus oma telus, papi ceneng" ucap Kiko yang justru bertepuk tangan mendukung Desi.
"Iya sayang papimu seneng ini oma kasih hadiah" sahut Desi.
"Sudah bun sudah" ucap Dudi melerai keributan anak dan istrinya.
Aldi mengusap telinganya yang panas akibat jeweran maut dari sang bunda. Sedakan si pelaku kembali pada mode kesalnya.
"Sekarang jelasin sejelas jelasnya" kata Desi.
"Iya bunda iya" Aldi lalu menatap Karin yang terlihat menahan tawanya menyaksikan adegan tadi.
"Nana, maksud aku waktu itu memang bercanda karena mana mungkin kamu mau nikah muda, sedangkan masa depan masih panjang, cita cita kamu juga belum tercapai, tapi kalo kamu mau jadi istri aku, yok lah kita kepenghulu" ucap Aldi langsung memegang tangan Karin untuk dia bawa pergi.
"Eh eh eh mau di bawa kemana Karin?" tanya Kara menahan tangan Karin yang satunya lagi.
"Mau di bawa ke penghulu bang, biar langsung di halalil" sahut Aldi enteng.
"Gak bisa! enak aja mau nikah duluan dari pada abang, gak ada cerita langkah melangkahi ya, tunggu abang selesai baru kalian, itupun kalo kalian udah dua puluh tahun, tunggu 3 tahun lagi" ucap Kara melarang yang sebenarnya dia masih belum rela kehilangan adik kecilnya itu.
"Kok 3 tahun sih bang! kelamaan lah" protes Karin membuat Kara menatapnya tidak percaya.
"Jadi kamu maunya kapan sayang?" tanya Tati angkat bicara di tengah kebingungannya akan kelakuan anak bungsunya ini.
"Ya sekarang ma, kalo gak boleh nikah dulu kita kawin aja dulu yuk Di!" ucap Karin polos membuat yang lainnya tercengang.
"Kamu belajar dari mana omongan gitu dek?" tanya Kara.
"Dengar dari abang semalam waktu ngajakin kak Salsa kawin dulu baru nikah" polos Karin.
Sontak saja hal itu membuat Kara tersenyum kecut, sedangkan Tati sudah berdiri dan mengambil ancang ancang untuk menjewer Kara.
"Ampun ma ampun" teriak Kara ke sakitan karena di jewer, sedangkan Kiko sudah di ambil Salsa lagi.
"Dasar anak kurang ajar kamu ya, gak sabaran, rasain nih, nikmatkan" geram Tati.
"Telus oma telus" dukung Kiko yang kembali bertepuk tangan melihat kejadian yang sama.