First Kiss

First Kiss
Keributan yang masih berlanjut



"Lihat adek gak ma?" tanya Kara saat ia sampai di dapur tapi hanya melihat mamanya yang masih sibuk menatap makan malam bersama beberapa pelayan.


"Gak, kenapa?" Tati yang memang baru dari belakang tidak melihat anak bungsunya di dapur. Lain dengan salah seorang pelayan yang sudah paruh baya di sana. Pelayan itu masih sibuk dengan gelas-gelas yang di pegangnya sembari menahan tawanya di wajah tuanya itu.


"Huh! kemana anak nakal satu ini?" gerutu Kara kesal karena tidak mendapati adiknya di dapur.


"Kenapa sih bang? memangnya adek kamu ngapaian lagi sampe kamu marah-marah gitu? trus itu kenapa belum mandi? mana bawa-bawa sendal adek lagi" gerutu Tati lebih panjang lagi sambil mendikte penampilan Kara yang memang belum sempat mandi karena kejadian penimpukan tadi.


Tanpa di ketahui oleh dua orang yang sedang tanya jawab itu kalau si pelaku sedang sembunyi di bawah kolong meja. Dengan pelan Karin mendekati kaki Kara untuk melancarkan aksi keduanya.


"Ini juga gara-gara adek ma, masa abang di timpuk pake sendal" ucap Kara seraya menunjukkan sendal Karin di tangannya.


"Memangnya kamu apakan dia sampe nimpuk kamu?"


"Gak di apa-apain, malah Kara gak tahu dia dimana dan dari mana tahu-tahu waktu Kara mau buka pintu kamar udah ada sendal mendarat di kepala" adu Kara.


Tati hanya mampu gelleng kepala saja mendengar gerutuan dari anak sulungnya yang terkadang tidak mau kalah dengan Karin kalau sudah mulai ribut. Pada hal keduanya sudah sama-sama besar tapi keributan seperti ini seakan menjadi permainan yang malah mendekatkan mereka.


"Makanya kamu itu ka..."


AAHHH


Ucapan Tati terputus karena teriakan Kara yang cukup keras di sertai dengan kakinya yang di angkat. Kara mengelus kakinya yang terasa sakit dan panas akibat bulu kakinya yang di tarik Karin.


"Dua kosong, blee" ejek Karin kembali berlari menjauhi dapur untuk menghindari amukan Kara.


"Karina" teriak Kara lagi langsung berlari mengejar adiknya yang sangat jahil itu.


Tati menghembuskan napasnya dengan geleng kepala kemudian melanjutkan kegiatannya menyiapkan makan malam.


Karin berlari keruangan keluarga dimana sang papa berada di sana. Dengan manjanya Kara menhampiri Banu dan memeluk papanya itu erat mencari perlindungan.


"Papa" teriak Karin.


Banu dengan senang hati memeluk anak gadisnya yang menhampiri dan memeluknya erat. Karin juga menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang papa untuk bersembunyi.


Tanpa bertanya Banu sudah tahu jurus terakhir anak gadisnya itu yang pasti akan selalu berlari padanya lalu bersembunyi dari kejaran atau kemarahan Kara yang sudah di jahilinya.


"Karin sini kamu!" kesal Kara menghampiri adiknya yang sudah bersembunyi pada sang papa.


"Ayo sini lawan abang kaya tadi, jangan bisanya sembunyi sama papa aja ya kamu" ucap Kara yang sudah tiba di ruang keluarga dan langsung mencoba menarik tubuh Karin.


"Lawan dulu papa kalo berani" ucap Karin sedikit teredam karena ia sangat erat memeluk Banu.


"Ayo sini kuta satu lawan satu, jadi jadikan papa tameng kamu" ucap Kara masih berusaha menarik Kara dari pelukan eratnya pada sang papa.


Banu yang ada di tengah-tengah keduanya mencoba melerai agar tidak semakin terjadi keributan yang akan tiada akhirnya.


"Sayang papa sesak nih" ucap Banu karena pelukan erat Karin.


Repleks Karin merenggangkan pelukannya dan melihat sang papa yang menarik napas banyak-banyak.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Kara langsung menarik Karin dan menggelitik adiknya begitu saja hingga kegelian.


"Ahahaha ampun bang ampun geli" ucap Karin kegelian akibat ulah Kara.


"Rasakan pembalasan abang hm, hahaha ayo ketawa terus" ucap Kara dengan senyum evilnya terus menggelitik Karin.


"Ampun bang, papa tolong" ucap Karin lagi di sela tawanya.


Melihat wajah Karin yang mulai memerah Banu pun akhirnya angkat suara juga agar Kara menghentikan aksinya itu.


"Udah bang, kasihan adek mukanya udah merah itu" ucap Banu.


Kara menghentikan aksinya lalu duduk dan mengatur pernapasannya yang terengah akibat menggelitik Karin tadi.


Karin juga mengatur napasnya yang tersengal karena tawanya. Hingga Tati menghampiri ruang keluarga di mana suami dan anak-anaknya sedang bersama.


Karin yang rebahan dengan kepala di paha sang papa dan kakinya di paha Kara yang sedang merentangkan tangannya di sopa dengan pandangan kosong ke arah langit-langit ruang tamu.


"Kenapa kalian diem-dieman gitu?" tanya Tati heran.


Karena baru sekitar 5 menit yang lalu ia masih mendengar suara tawa dari kedua anaknya dan suara sang suami yang mencoba melerai. Sekarang keadaan sudah sunyi senyap hanya suara tv yang sedang di tonton oleh Banu saja yang terdengar.


Mendengar intruksi dari Tati, Banu menolehkan kepalanya begitupun dengan Karin. Hanya Kara saja yang masih tenang diam dengan pemikirannya.


"Kenapa ma?" tanya Banu.


"Makan malam udah siap" sahut Tati lalu mengalihkan pandangannya kearah putranya yang masih termenung.


"Kamu kenapa belum mandi bang? malah ngelamun pula" seru Tati yang masih belum mendapat tanggapan juga dari Kara.


Karin yang melihat itu langsung saja dengan jahilnya mengangkat kakinya sedikit dan menjatuhkannya sedikit menekan di atas paha Kara. Namun naas karena posisi duduk Kara kakinya terbuka, alhasil tumit kaki Karin mengenai masa depan Kara.


ARGH


Jerit Kara langsung memegangi selakangannya saat Karin sudah menarik kakinya karena kaget dengan teriakan Kara. Begitupun dengan Banu dan Tati yang menatap Kara kesal karena suka sekali teriak-teriak di dalam rumah, mana malam-malam lagi.


"Kamu kenapa sih bang? teriak-teriak terus dari tadi, ini ruamh bukan hutan ya" kesal Tati seraya mengusap dadanya akibat kaget tadi.


"Masa depan Kara di hantam kaki adek ma" rintih Kara dengan suara lirihnya akibat menahan sakit.


Pandangan mata Tati berpindah pada Karin yang memeluk Banu dengan kaki yang di tekuk sembari menahan tawanya. Begitu pula dengan Banu yang menatap kearah lain pura-pura tidak tahu dengan kejadian di sampingnya dari pada kena marah sang istri juga.


"Kamu kok jahilnya kelewatan sih dek! itu masa depan abang kamu, kamu apain sampe abang teriak gitu? kalo masa depan abang kamu pecah gimana hah? bisa-bisa masa depan abang kamu suram gara-gara impoten" gerutu Tati bertolak pinggang memarahi anak bungsunya yang masih saja bersembunyi di pelukan sang papa.


"Tahu tuh ma, sakit banget lagi nih" adu Kara pada mamanya karena merasa mendapat pembelaan.


"Sudah-sudah ayo sekarang kita makan malam dulu, habis itu nanti kamu mandi ya bang, awas aja kalo gak mandi mama pindahin kamar kamu ke garasi tidur sana sama mobil" ucap Tati yang masih saja mengomel panjang.


Sewajarnya ibu-ibu yang kalau sudah marah maka akan ada saja sambungannya. Begitu pula dengan Tati yang malam ini emosinya benar-benar di uji dengan kelakuan anak?anaknya yang sudah dewasa rapi masih suka bikin ribut.