
Sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan raya tampak Felicia Anggraini yang biasa disapa dengan nama Fefe sulit untuk tidur. Suara kendaraan yang melintasi jalan raya tersebut bisa terbilang sangat ramai, Fefe yang merasa kesal karena suara klakson yang selalu berbunyi dari kendaraan yang lewat membuat Fefe benar-benar ingin pergi ke rumah temannya yang bernama Lia, segera mungkin ia mengambil jaket yang bergelantung diatas hanger dan kunci montornya di atas lemari sambil berlari kearah montor secepatnya ia mengeluarkan dari garasi karena sudah tidak sabar pergi dari rumahnya.
Rumah Lia
jarak rumah Fefe dan Lia tidak jauh hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit. Kini Fefe sudah sampai dan segera memarkirkan montor kesayangannya didepan rumah Lia, Fefe yang merasa rumah yang ia kunjungi tidak ada orang, ia langsung mengetuk dan memanggil-manggil Lia.
"Assalammualaikum, Lia...yuhuuuu. Astaga Lia dimana sih gue gabut banget," sambil garuk-garuk kepalanya yang jelas tidak gatal.
tiba-tiba pintu terbuka dan Lia kini berdiri tepat di depannya, "Lo abis ngapain aja, lama bener buka pintunya," tanya Fefe dengan menjitak kepala Lia.
"his apa an sih lo Fe, salah sendiri lo ga hubungan gue dulu sebelum kesini," dengan nada sinis.
"ih kayak sama siapa aja ya elah lo lebay banget sih, biasanya gimana dateng ya tinggal dateng, gue tau kok lo juga dirumah makanya gue ga perlu susah-susah hubungin lo dulu," balas Fefe
"kok lo bisa tau kalo gue dirumah?," dengan mengeruyutkan alisnya.
"kan lo jomblo wkwkwkwk," tertawa dengan menunjuk tangannya kearah mukanya.
"Dasar ni anak ga pernah ngaca apa," dengam nada sinis dan segera masuk kedalam, di buntuti Fefe.
"Keluar yuk cari geprek," sambil merebahkan badannya ke sofa," ajak Fefe
"kuy, bentar gue ambil duit sama Hp gue dikamar," berjalan kearah kamar yang berada diatas. Rumah Lia memang bagus, dengan desaign American Style.
"Sudah rumah bagus, desaignnya pun indah, sepi, cemilan dimana-mana pantes aja tuh bocah betah dirumah", sambil melihat-lihat sekeliling rumah.
"Lo bilang apa barusan Fe betah? yakalik betah dadi mana coba, rumah gedhe tapi ga ada orang ya percuma, masih mending Lo Fe bokap sama nyokap lo ada semua, gue disini sendirian, apa-apa sendiri," dengan nada kesal.
"Yaudah ayo gue temenin makan, gausah galau lagi, siang ini makanmu tidak sendiri wkwkwk," sambil menjulurkan lidah ke Lia.
"Yaudah ayo kita makan, gue kangen nih sama geprek Al, dah lama kita ngga kesana."
"oke kuy," ajak Fefe
"Dah sampe nih," kata Fefe sambil memarkirkan montor nya. Segera mungkin Lia turun dan duduk ditempat favoritnya pojok dan kipas yang menghadap di tempat itu. "Lo pesen apa fe?," tanya Lia. "biasa aja," dengan nada tenang. "oke," sahut Lia, segera Lia menulis pesanan mereka dan memberikan kepada bapak Al.
favorit Fefe geprek lombok ijo karena Fefe ngga kuat pedas, ia lebih suka rasa gurih, sedangkan Lia ia suka sekali geprek sambel bawang.
"Gue gabut sumpah dirumah terus gimana kalo kita ke tempat adem-adem?," usul Fefe
"iyanih gue juga gabut, lo masih enakan ada keluarga, gue sendirian," dengan nada iri.
"enaknya kemana ya", tanya Fefe.
"Gimana kalo kita liat pemandangan negeri di atas awan Fe?".
" Maksud lo kita ke gunung?," dengan nada bingung. "Iya kesana gue belum pernah nih muncak," dengan nada memelas. "Oke gue bakal ngajak mantan gue karena emang mantan Fefe pecinta gunung. " ashiapp makasih Fefe," memeluk Fefe kencang-kencang. "dasar," ucap Fefe.
Setelah ditunggu beberapa menit geprek yang merrka pesan sudah diantar ke meja, segera mereka berdoa sesuai ajaran agama masing-masing, mereka berbeda agama, Fefe nasrani sedangkan Lia muslim.
"Wah gue gasabar makan ni geprek," sambil membelalakkan matanya kearah geprek sambel bawang.
"Buruan dimakan ngga cuma di pelototin aja," ujar Fefe.
Setelah makan selesai segera mereka membayar lalu pulang, setelah Fefe mengantar Lia pulang ia langsung pamit. Selama perjalanan pulang ia berfikir apakah dia yakin jika muncak mengajak Digo, apakah Digo mau menemaninya "hufft," sambil menghelai panjang. Sesampainya rumah ia langsung mandi dan lanjut tidur, karena tadi siang dia mau tidur tidak bisa.
"Akhirnya bisa tidur juga," sambil memposisikan tubuhnya dikasur agar nyaman untuk badannya.
Tiba-tiba suara langkah kaki di luar kamar terdengar.
"Fe ayo turun makan," teriak mama. "Fefe udah makan ma sama Lia, Fefe mau tidur aja ma, cape," sahut Fefe. "Dasar pemalas, suka rebahan, gamau bersih-bersih rumah," jawab mama sambil menggerutu. "hih rebahan aja belum udah di bilang pemalas", jawab dalam hati.
Segera ia mematikan lampu dan berdoa agar Tuhan memberikan jawaban apakah Digo mau diajak muncak atau tidak. Fefe sebenarnya masih mempunyai perasaan kepada mantannya itu, gimana mau moveon Fefe sering bertemu Digo karena mereka masih satu persekutuan, walau sekolah mereka berbeda tetapi perasaan tetap sama seperti dulu.