
Suasana ruang kepala sekolah terlihat cukup ramai dengan kehadiran beberapa wali murid yang datang. Merekaa adalah orang tua dari Jes dan geng juga orang tua Sisi yang di telpon langsung untuk datang oleh Sisi.
Kepala sekolah yang sudah di beritahukan oleh bu Sari masalah yang terjadi. Semua orang duduk dengan pandangan kesal karena merasa waktu mereka bekerja terganggu akibat panggilan itu.
"Jadi ada masalah apa dengan anak saya pak? sampai saya di panggil kemari?" tanya papanya Sisi.
"Benar pak kalau anak saya di skor selama dua minggu? apa salahnya pak" tanya papanya Jes pula.
Kepala sekolah berdehem sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Anak-anak bapak sudah membuat ketidak nyamanan di sekolah ini, Sisi sering membuly dan melakukan tindakan juga ucapan yang keterlaluan, lalu Jes sudah melakukan fitnah juga caci maki pada temannya" jelas kepala sekolah.
"Tidak mungkin anak saya Jes melakukan itu pak! Jes anak yang baik dan sangat lembut" ucap papa Jes membela anaknya.
"Tapi kenyataannya memang begitu pak, Jes dan teman-temannya sudah mencacimaki siswa lain, sebagai sesama pelajar tidak seharusnya Jes mengatakan hal demikian"
"Memangnya apa yang di lakukan anak kami pak?" tanya wali lainnya yang merupakan orang tua teman Jes.
"Apa yang di ucapkan anak kami sampai harus di skor? bahkan anak saya juga akan di keluarkan dari sekolah ini" marah seorang wali murid.
"Jes dan teman-temannya melakukan tindakan sewenang-wenang pada yang lain bahkan memerintah siswa lain untuk membawakan tas mereka setelah mencacinya miskin, lalu Jes dan temannya mengatakan kalau siswa yang membawa tas mereka itu telah menjual tas mahal mereka untuk biaya hidup, dan saat mereka tidak mengerjakan tugas mereka menuduh siswa itu penyebabnya" jelas kepala sekolah.
"Itu tidak mungkin pak, anak saya sangat baik, Jes itu baik pak" sangkal papa Jes.
"Kalau memang anaknya miskin kan pantas untuk di suruh kayak pembantu pak, buat apa juga di bela gak guna banget" ucap mama Jes sewot.
"Ma jaga ucapanmu" kata papa Jes mengingatkan istrinya yang malah akan membuat suasana semakin runyam nantinya.
"Memang benar begitukan pa, kalau yang di suruh bawa tas Jes itu memang orang susah jadi pantas di perlakukan begitu, dia pasti juga udah jual tas Jes dan temannya untuk hidup, benar kelakuan anak saya pak jadi anda tidak bisa menskornya itu tidak adil" cecar mama Jes dengan wajah kesal.
"Benar juga ya, anak itu pasti udah jual tas anak kami pak sampai anak kami tidak bisa mengerjakan tugas sekolahnya"
"Kalau begitu yang harusnya di skor itu anak itu pak bukan anak kami"
Kepala sekolah geleng kepala mendengar ucapan para wali murid yang seakan tidak mengerti maksudnya. Atau memang begitu cara mereka mendidik anaknya hingga membenarkan kesalahan lalu melimpahkannya pada orang miskin yang bisa di tindas sesukanya.
"Pak! tolong jelaskan apa yang anda lihat waktu itu" ucap kepala sekolah pada seorang petugas kebersihan sekolah.
"Tas anak bapak dan ibu tidak di jual dan tidak ada yang menjualnya, saya menemukan tas-tas itu di tempat sampah, saat saya periksa tas itu saya mendapati identitas kartu siswa anak bapak dan ibu di dalam jadi saya minta tolong beberapa siswa lain untuk mencari anak bapak dan ibu"
"Tapi saat anak bapak dan ibu di panggil mereka malah pergi begitu saja tanpa melihat ataupun mendengar panggilan kami" jelas si petugas kebersihan itu.
"Bisa saya lihat tas anak saya pak?" ucap papa Jes menghentikan ucapan istrinya yang akan marah-marah lagi.
Petugas kebersihan itu mengambil sesuatu di belakang sofa dan meletakkan semua tas di atas meja agar lebih terlihat.
"Ini tas yang saya dapatkan di tempat sampah pak"
"Ini tas anak saya pak, kalau begitu saya minta maaf atas kelakuan anak saya yang tidak sopan dan menyakiti yang lain pak" ucap papa Jes yang tidak ingin memperpanjang masalah.
Apa lagi memang sudah terbukti kalau anaknya yang salah.
"Tapi pa, kita harus tahu siapa yang sudah membuang tas anak kita, tas Jes mahal dia harus mengganti tas itu" marah mama Jes.
"Iya pak, saya juga mau tahu siapa anak yang sudah berani melakukan hal keji ini pada anak saya" sahut yang lain juga membuat mama Jes senang karena ada pendukungnya.
"Baiklah, bu Sari tolong panggil anak itu ke sini" yang namanya di sebut mengangguk paham dan langsung keluar meninggalkan ruang kepala sekolah.
Masalah tas yang di temukan petugas kebersihan itu memang sudah di laporkan pada kepala sekolah. Apa lagi saat petugas kebersihan itu membawa tas milik Jes dan temannya, kepala sekolah kebetulan lewat akan pulang.
Di sanalah kepala sekolah bertanya tentang tas itu dan sempat memeriksa siapa pemiliknya karena setiap siswa di sekolah itu memiliki kartu siswa. Jadi mudah bagi mereka mengetahui si pemilik tas.
Karin masuk ke dalam bersama Aldi di belakangnya, meski sempat kaget dengan banyaknya wali murid di sana tetapi Karin tetap santai dan terlihat biasa saja.
"Oh jadi kamu yang sudah buang tas anak kami ke tempat sampah!" ucap mama Jes marah langsung menatap tajam Karin.
"Kamu haris ganti rugi karena udah ngerusak tas mahal anak saya" lanjutnya melotot.
"Ma jangan buat papa malu" sentak papa Jes menarik tangan istrinya.
"Maafkan kelakuan istri saya pak, dan kalau memang anak saya yang salah di sini saya tidak masalah anak saya di hukum skor, saya akan lebih mendisiplinkan anak saya lagi kedepannya agar lebih baik, saya juga minta maaf atas segala tindakan dan ucapan Jes yang tidak baik, saya akan membawa anak saya pulang, permisi" ucap papa Jes mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah akibat merasa malu.
Sikap mama Jes yang tidak bisa menjaga ucapannya justru semakin membuat orang lain berpikir kalau mereka memang tidak mendidik Jes dengan baik. Jadi untuk mencegah pemikiran yang lain juga ucapan yang semakin liar dari istrinya papa Jes membawa istrinya pulang, begitupun dengan anaknya.
Tinggallah papa dan mamanya Sisi di ruangan kepala sekolah bersama si pemilik ruangan, bu Sari dan Karin serta Aldi. Aldi merasa harus berhadapan langsung dengan orang tua Sisi karena hukuman itu dia yang memberikannya.
"Bagaimana dengan anak saya pak? apa masalahnya sampai saya harus di panggil kesini?" ucap papa Sisi.
"Saya sudah rugi puluhan juta kalau begini caranya" sambung mama Sisi pula membuat kepala sekolah geleng kepala tidak percaya.
Bahkan ada orang tua yang merasa sangat di rugikan hanya karena mengurus masalah anaknya. Apa harta dan uang yang mereka cari lebih penting dari anaknya, pantas saja tabiat anaknya buruk pikir bu Sari tidak habis pikir dengan orang tua Sisi yang terlihat sangat arogan itu.