
Karin membuka tas yang sejak tadi di bawa Aldi. Ia mengambil beberapa snak di dalamnya juga air minum.
Tas yang mereka bawa bukan berisi pakaian tapi berisi makanan ringan untuk menemani perjalanan. Tas mereka sendiri sudah di bawa oleh pengawal Karin langsung menuju puncak di mana keduanya akan menginap.
Tadinya juga Karin tidak di ijinkan oleh Aldi untuk beli snak dan cemilan lainnya. Karena Karin yang sudah sangat ingin ngemil makanan ringan jadinya ia merayu Aldi sampai akhirnya di ijinkan.
Setelah membeli cemilan tadi Karin sempat membeli tas ransel untuk tempat cemilannya yang lumayan banyak. Karena Karin baru sembuh dari sakit, Aldi tidak mengijinkan Karin makan sembarangan cemilan.
Aldi juga ikut memilihkan cemilan dan minumannya. Hanya satu yang tidak bisa di cegah Aldi sama sekali, yaitu es krim. Karin membeli satu cup besar es krim pada cuaca sedang mendung.
"Kamu yakin mau makan ini? dingin loh ini cuaca juga dingin nanti kamu pilek gimana" ucap Aldi saat melihat Karin ingin membuka cup es krim.
Beberapa cemilan yang ingin di makan Karin tak luput pula di keluarkan. Sisanya di dalam tas dan di taruh di atas tempat tas.
Karin tidak menjawab kecuali tersenyum melihat Aldi sejenak dan kembali sibuk dengan es krim di tangannya.
"Eemh, enak" gumam Karin kembali menyendokkan es krim.
Aldi menghela napas lalu tersenyum dan mengelus rambut Karin sayang.
"Pelan-pelan makannya" ucap Aldi yang malah di sodori es krim oleh Karin.
Aldi hendak menerima suapan itu, tapi belum masuk sudah di tarik lagi oleh Karin dna masuk mulutnya. Aldi melihat Karin tersenyum manis padanya setelah mengerjainya.
"Nakal ya" Aldi menjawil hidung Karin lalu meriah sendok di tangan Karin kemudian mengambil cup es krim juga.
Karin merengut protes tapi tidak jadi karena ternyata Aldi menyuapinya. Senyum Aldi terlihat saat wajah Karin tidak jadi kembali senang dan menyandarkan kepalanya di bahu Aldi.
"Manjanya" gumam Aldi mengelus rambut Karin dan meneruskan kegiatannya menyuapi Karin es krim.
Terlihat juga Aldi yang sesekali ikut makan es krim yang di pegangnya itu.
Jalanan yang lumayan ramai membuat bus tidak bisa melaju terlalu cepat. Sepanjang perjalanan Aldi dan Karin menghabiskan waktu di bus dengan cemilan yang mereka bawa.
"Aduh panasnya" ucap seorang dari belakang dengan suara cukup keras.
Semua yang ada di dalam mobil melihat ke arah Neli yang nampak mengipasi wajahnya.
"Panas apanya sih? perasaan udah dingin" sahut perempuan di samping Neli.
"Heh denger ya! biasanya aku tuh kalo naik mobil ac nya lebih dingin dari inu tahu" ketus Neli dengan wajah soknya.
"Kaya daging mau di masak aja suhu ruangan harus dingin banget" kata yang lain.
"Tahu tuh Neli"
"Kalian aja yang kampungan, gak pernah pake ac suhu rendah yang lebih sejuk" ucap Neli bersungut.
"Kalo mau yang lebih sejuk di kutub sana"
"Kayanya memang lebih cocok Neli itu di kirim ke kutub Utara sana aja"
"Jadi beruang dong si Neli"
Semua yang ada di bus tertawa sedangkan Neli cemberut. Melihat Aldi yang berdiri meraih tas di atas membuat wajah Neli berseri.
"Aldiii aku kepanasan nih, kata mereka aku harus ke kutub" rengek Neli dengan wajah yang di buat sedih.
"Pergi aja" cuek Alldi lalu duduk lagi.
Neli kembali cemberut di iringi dengan gelak tawa yang lainnya. Karena Aldi yang tidak menanggapi Neli.
"Aku ke panasan nih, kipasin aku dong Al" tambah yang lainnya.
"Kipasin pake angin ****** beliung mau!"
HAHAHAHAH
Suara tawa terus menggema di dalam mobil mereka. Tawa yang lebih dominan dari ejekan mereka pada Neli yang di acuhkan oleh Aldi.
Sedangkan Aldi santai saja makan cemilan bersama Karin yang sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi di belakang. Karin sangat ingin melihat apa yang jadi bahan tawaan teman-temannya.
Tapi Aldi terus saja menahannya dan tidak mengijinkan Karin untuk melihat kebelakang. Aldi justru membukakan snak untuk Karin dan menyuapi gadis itu agar tetap tenang tanpa perduli dengan apa yang terjadi.
"Pak supir bisa tambahin ac nya gak biar tambah dingin!" seru Neli masih berusaha mencari perhatian Aldi yang tidak melihat sama sekali.
"Sudah" sahut teman si supir melihat kebelakang sejenak.
"Aduh! masih kurang dingin nih" ucap Neli lagi.
"Heh Neli! mau sedingin apa lagi nih bus hah!" sentak yang lainnya.
"Tahu loh, gak lihat apa jendelanya udah ngembun gitu" tunjuk yang lain pula pada jendela bus yang memang mulai basah karena suhu yang sudah sangat dingin.
"Heh Neli, kalo kamu mau dingin dinginan gabung sama beruang kutub aja sana"
"Dia memang beruang kutub kali makanya dari tadi sibuk minta lebih dingin"
"Norak kalian semua" marah Neli yang terus di salahkan teman-temannya.
"Kamu kali yang norak, demi perhatian Aldi segala hal di lakuin pada hal gak di peduliin juga" ketus perempuan di depan Neli.
"Ka.."
"Stop it Neli!" sentak bu Sari saat Neli akan bersuara lagi.
"Duduk diam atau saya benar-benar akan mengirim kamu ke kutub Selatan biar jadi makanan binatang buas di sana" kesal bu Sari yang sudah lelah mendengar semua ucapan Neli.
Neli semakin cemberut karena tidak ada satu orangpun yang membelanya.
"Kok kalian hakimin aku sih! gak adil ini namanya" protesnya.
"Ibu juga! bukannya belain aku malah semakin buat aku tersudut gini" lanjutnya menatap bu Sari kesal.
Bu Sari memutar bola matanya malas mendengar ucapan Neli. Kenapa aku harus punya siswa modelan kaya gini batin bu Sari.
"Denger ya Neli Marnuli, kamu itu berisik orang mau tenang gak bisa karena kamu terus buat ribut, coba kamu diam tenang pasti gak akan ada yang marah sama kamu, gak ada juga yang di hakimi di sini karena ini bus bukan ruang sidang" ketus bu Sari benar-benar kesal dengan satu siswanya yang kelewatan cerewetnya itu.
"Pak balikin kaya tadi aja suhunya jangan terlalu dingin" lanjut bu Sari yang di angguki teman si supir.
Neli menghembuskan napasnya panjang dan kasar. Kini Neli benar-benar diam dengan kedua tangan di sedekapkan di dadanya karena tidak ada satupun yang mau berpihak padanya.
Setelah biang keributan diam suasana kembali tenang dan damai. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing termasuk Aldi.
Ya Aldi sedang memeluk tubuh Karin yang tertidur di pelukannya dengan tenang dan damai. Karin yang sudah kenyang langsung tertidur di pelukan Aldi akibat elusan lembut yang di berikan laki-laki itu pada rambut Karin yang benar-benar membuainya.
Aldi mengecup kepala Karin dengan sayang dan masih tetap mengelus lengan serta rambut gadis itu. Aldi bersyukur Karin tidak terlalu memiliki trauma akibat kecelakaan itu saat naik kendaraan.
Tapi jika melihat adanya kecelakaan ataupun jalan yang berjurang atau tinggi maka tubuh Karin akan bereaksi. Karin akan merasakan tubuh yang bergetar hebat dan keringat dingin.
Aldi bersyukur karena kali ini Karin tertidur, jadi Aldti tidak terlalu takut Karin akan ketakutan saat melewati beberapa jalur yang bisa saja membuat rasa takut gadis itu kembali.