
Pagi ini di ruang makan keluarga Banu terdapat saru orang laki-laki lagi. Bahkan laki-laki itu sudah duduk manis di kursi dekat tempat biasanya Karin duduk.
"Bang! panggil adek, kok belum turun-turun juga ya" ucap Tati seraya tangannya sibuk menuang air pada setìap gelas yang akan di gunakan di atas meja.
"Abang masih sibuk Ma, ntar juga dia turun" ucap Kara yang memang sednag mengetik sesuatu di laptopnya seperti Banu.
"Ya udah mama aja deh yang lihat kalo gitu" ucap Tati ingin beranjak.
"Maaf tante, kalo boleh Aldi aja yang naik" ucap Aldi sedikit grogi pasalnya ia meminta ijin untuk ke kamar seorang perempuan.
Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini, apa lagi di rumahnya tidak ada perempuan selain bundanya dan beberapa pelayan. Yang pastinya Aldi tidak pernah masuk ke kamar bundanya.
"Iya udah gak papa, kamarnya yang pintunya warna putih ya gak jauh dari tangga" ucap Tati tersenyum manis pada Aldi.
"Aldi naik dulu" pamit Aldi di angguki Tati yang masih saja tersenyum.
Sedangkan kedua laki-laki di sana masih terlihat fokus pada layar di hadapan mereka.
Aldi melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. Sampai di atas Aldi melihat ada dua pintu di kanan, yang paling ujung berwarna hitam yang satunya berwarna putih.
Aldi menuju pintu yang berwarna putih lalu mengetuknya setelah sampai. Karin sendiri yang ada di dalam baru selesai memakai sepatunya saat mendengar ketukan di pintu.
"Tumben abang ngetuk pintu? mana sopan lagi ngetuknya, biasanya juga langsung masuk kalo gak gedor-gedor" gumam Karin yang mengira si pengetok pintu adalah Kara.
"Iya bang bentar" teriak Karin.
Karin berdiri lalu meraih ransel yang akan di bawanya.
Ceklek
Mata Karin sedikit melebar kala melihat siapa yang ada di depan pintu.Bukan abangnya seperti yang ia duga tadi.
"Aldi! kok bisa ada di sini?" tanyanya heran.
"Kan kita memang mau pergi bareng ke sekolah, lupa ya" ucap Aldi menatap Karin dengan sebelah alis yang terangkat.
Karin memegang kepalanya dengan cengirannya.
"Hehehe iya" ucap Karin.
"Ayo turun, yang lain udah nungguin di bawah buat sarapan" Aldi mengambil alih ransel di pundak Karin lalu jalan lebih dulu.
Karin mengikuti langkah Aldi menuruni tangga lalu menuju ruang makan.
"Kok lama dek? tumben!" ucap Tati saat Karin sudah duduk di kursinya.
"Iya ma, tadi agak ke siangan" sahut Karin sembari mengambil nasinya.
Walau sudah di buatkan roti selai oleh Tati tapi Karin lebih suka memakan rotinya untuk cemilan saja. Karena Karin terbiasa makan nasi bahkan ketika sarapan, Tati jadi selalu menyediakan nasi setiap pagi juga untuk putrinya. Yang biasanya sebelum ada Karin hanya akan tersedia roti selai atau roti bakar kini harus ada nasi.
Jika di tanya kenapa tidak mau sarapan pakai roti saja, maka dengan entengnya Karin akan menjawab.
"Gak kenyang kalo belum makan nasi"
Akhirnya Tati pun selalu menyediakan anak gadisnya nasi goreng atau apapun lauknya yang penting ada nasi setiap pagi untuk Karin. Kalau waktunya weekend baru Kara dan Banu akan ikut sarapan nasi juga.
Selesai sarapan Banu dan yang lainnya mengantarkan Karin juga Aldi ke depan karena Banu akan memberitahukan syaratnya tadi malam sebagai ijin untuk kepergian Karin.
"Kamu gak lupa kan dek sama syarat dari papa tadi malam?" ucap Banu mengingatkan.
"Memangnya syarat apa pa? kan papa belum ngomong apa syaratnya" ucap Karin yang memang belum tahu apa syarat dari papanya.
Banu tersenyum manis pada putrinya lalu mengelus rambut Karin sayang. Banu menepuk tangannya tiga kali dan muncullah enam pria berbadan besar dengan pakaian serba hitamnya.
Apa lagi ototnya yang besar tampak terlihat jelas karena mereka menggunakan baju kaos lengan pendek yang sedikit pres bodi. Juga kacamata hitam yang semakin membuat mereka teelihat menyeramkan.
"Wih bodinya badan!" spontan Karin saat melihat pria-pria itu muncul.
Aldi yang mendengar ucapan Karin langsung menutupi mata gadis itu dengan satu tangannya. Karena memang posisi mereka yang berdampingan di samping mobil Aldi.
"Kok mata Karin di tutupin sih Di? kan gak kelihatan!" protes Karin mencoba melepaskan tangan Aldi dari matanya.
"Anak kecil di larang ngelihat yang berbau 18+, belum waktunya" ucap Aldi santai masih menutupi mata Karin.
"Ish Karin kan udah 17 tahun, masa gak boleh sih, lagian bukan lihat yang aneh-aneh juga"
Aldi menghela napas panjang lalu menurunkan tanngannya. Memang tidak ada yang aneh di sana, hanya saja saat mendengar gadis yang di sukai mengagumi laki-laki lain seperti ada perasaan tidak suka.
"Lihat merekanya biasa aja tapi" ketus Aldi yang hanya di beri tampang cemberut Karin saja.
Ketiga orang di hadapan mereka hanya terkekeh geli saja melihat tingkah Aldi dan Karin yang lucu itu menurut mereka. Yang satu cemburuan yang satu masih terlalu polos.
"Om-om itu mau ngapain pa? kok badannya kaya atlet yang di tv-tv itu, yang suka di lihat papa" tanya Karin ingin melihat deretan enam pria itu lagi tapi di halangi Aldi dengan tangannya yang besar.
"Ih Aldi, kesel deh" gerutu Karin.
Aldi diam saja tidak perduli dengan protes daru Karin juga tatapn kesal gadis itu.
"Mereka ini bakalan jagain kamu selama di punjak, kalo kamu gak mau naik bus bisa naik mobil sama mereka, tapi kalo gak mau naik mobil mereka akan ikutin bus yang kalian naiki, jadi kalau ada apa-apa mereka bisa langsung cepat kaish pertolongan" ucap Banu serius.
Karin diam mendengar ucapan papanya, ada rasa haru karena papanya sangat memikirkan keselamatannya. Tapi asa juga perasaan seperti tidak ingin temannya tahu kalau dia di kawal dengan orang sebanyak itu.
"Tapi pa, Karin gak mungkin dong di ikutin mereka terus nanti apa yang harus Karin jawab kalo temen-temen nanyak?" ucap Karin menggaruk kepalanya bingung.
Ingin menolak tapi tidak mungkin, lanjut tapi masih ragu.
"Ya bilang aja mereka anak buah kamu gampangkan, kamu juga bisa suruh-suruh mereka" sahut Kara santai di belakang Tati sembari memeluk wanita itu.
Karin masih diam dengan tampang bingungnya.
"Mereka bakalan jaga dari jarak jauh, nanti juga mereka gak pake baju gitu supaya gak ada yang curiga kalo mereka lagi jaga tuan putrinya mama" ucap Tati angkat bicara.
"Nantikan Aldi sama kamu jadi mereka dari jauh aja sekaligus nyiapkan semua kebutuhan kalian" sambung Banu.
"Hah, terserah papa deh yang penting Karin bisa pergi jalan-jalan" pasrah Karin dengan apa yang di lakukan orang tuanya.
Karin yakin ini tidak sampai penjaga saja, si puncak nanti pasti akan ada lagi yang di lakukan oleh orang tuanya. Lihat saja nanti pikirnya.
"Kalo gitu kita pamit dulu om tante" ucap Aldi menyalami kedua orang tua Karin di ikuti Karin juga.
"Jangan nakal ya dek di sana, turutin apa yang Aldi bilang loh" ucap Kara saat Karin menyalaminya.
"Iya bang gak janji tapi" sahut Karin terkekeh yang di balas senyuman Kara sembari mengelus rambut adiknya sayang.
Setelah berpamitan Aldi dan Karin masuk ke dalam mobil Aldi yang sudah ada supirnya. Sedangkan dua mobil lagi mengikuti dari belakang yang berisikan enam orang pria yang akan menjaga Karin selama pergi jauh.