
Selesai mandi Karin berbaring di ranjangnya yang empuk, pandangannya lurus kedepan menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang terus mengingat akan sikap Aldi.
"Dia tadi kenapa ya kok tiba-tiba kayak kesel gitu?" gumam Karin heran.
"Biasanya kalo ngomong sama orang datar tapi tadi kok jadi dingin benget ya! apa ada sesuatu! ah terserahlah dari awalkan memang sikapnya udah berubah-ubah gitu, namanya juga bunglon" Karin memilih memejamkan matanya saja dari pada terus memikirkan Aldi dengan sikapnya yang mudah berubah.
Sedangkan orang yang di baru dipikirkan Karin masih mengelilingi kota di jalan raya, sudah tiga kali Aldi berputar tidak karuan di jalan hanya karena hatinya yang masih terasa panas.
Apa lagi kalau mengingat ada laki-laki lain yang mencoba mendekati dan mengakrabkan diri dengan perempuan itu, semakin membuat hati Aldi serasa terbakar saja.
Akhirnya Aldi mengakhiri aksi menyusuri jalanan dan berhenti di sebuah kedai minuman. Ia butuh minuman dingin untuk mendinginkan hati juga kepalanya. Aldi duduk di salah satu kursi lalu meraih ponselnya.
Laki-laki mengetik sesuatu dan mengirimkan pesannya pada Karin, tapi lama menunggu sampai minumannya datang Karin tidak juga membalas pesannya.
"Kemana dia?" gumam Aldi.
Lagi, laki-laki itu mengirimkan pesan pada Karin hingga lima kali dengan satu huruf yang berbeda. Pesan pertamanya, P lalu H, Y, K, M, tapi tidak juga ada balasan apapun dari seberang sana.
"Apa dia gak pegang ponsel? atau lagi makan siang" Aldi berguman dan bertanya pada dirinya sendiri tanpa ada siapapun yang mendengarnya.
Sampai beberapa menit kemudian ada seseorang yang menghampiri Aldi.
"Aldi! kamu Aldi kan?" ucap seorang perempuan sembari memegang bahu Aldi.
Dengan secepat kilat Aldi menepiskan tangan itu dari bahunya lalu menepuk pelan tempat yang di pegang perempuan tadi.
"Iya kamu Aldi, apa kabar Al? udah lama ya kita gak ketemu" ucap perempuan itu lalu duduk di hadapan Aldi tanpa di suruh.
"Kamu makin ganteng aja ya, kamu sekolah dimana Al?" ucap perempuan itu lagi dengan semangatnya tapi tidak mendapat respon apapun dari Aldi.
Bahkan Aldi masih asik melihat ponselnya saja.
"Kalo di lihat sari seragam kamu, kamu pasti sekolah di tempat favorit itukan, sekolah yang nilai prestasinya tinggi itu, sekolah itukan punya orang tua kamu kan, ya pantes aja sih kalau kamu bisa sekolah disana" perempuan terkekeh sendiri dan berbicara sendiri tanpa ada yang menyahuti dan menanggapinya.
"Oh iya Al nanti kalo udah lulus kamu mau kuliah dimana? ngomong dong Al jangan diem aja" rajuk perempuan itu mulai kesal karena Aldi hanya diam saja.
"Berisik" ucap Aldi kemudian pergi meninggalkan perempuan itu begitu saja.
"Al, hey Aldi kamu mau kemana? jangan tinggalin aku dong" teriak perempuan itu mengejar Aldi.
Aldi tidak persuli dan tetap berjalan lalu menaiki motornya, suasana hatinya yang sudah mulai membaik harus kembali down akibat kedatangan perempuan pengganggu itu.
"Al tunggu aku dong, kamu kok langsung pergi sih! padahal kita baru ketemu loh" perempuan itu memegang lengan Aldi begitu saja dengan erat.
"Lepas" sentak Aldi menghempaskan pegangan perempuan itu begitu saja.
"Kamu jahat banget sih Al" cemberut perempuan itu.
"Aku nebeng ya Al sama kamu, soalnya kalo nunggu temen aku yang lagi pacaran di dalem pasti lama" rengeknya.
"Pergi atau jangan salahkan aku berbuat kasar" marah Aldi yang sudah benar-benar kesal dengan perempuan itu.
Akhirnya perempuan itu menjauh dari Aldi dengan wajahnya yang sudah di tekuk dan sangat masam akibat penolakan Aldi yang terus dia dapatkan berulang kali.
Aldi langsung tancap gas meninggalkan kedai itu dan juga perempuan pengganggu itu.
"Sopia, kamu kok disini sih udah di tungguin juga" ucap perempuan lain mendekati perempuan yang tadi mengangganggu Aldi.
"Aku ketemu Aldi" ucap perempuan yang di panggil Sopia itu.
"Aldi siapa? Aldi yang kamu kejar-kejar dulu itu sewaktu SMP!"
"Iya, dia makin ganteng tahu gak sih dan makin keren juga" ucapnya dengan wajah penuh kekaguman walau masih kesal.
"Gak kapok juga kamu udah sering di tolak"
"Gak, aku yakin pasti bisa dapetin dia" tekat Sopia.
Sampai di rumah Aldi langsung memasukkan motornya ke dalam garasi berdampingan dengan motor ayahnya. Setelah itu ia berjalan masuk ke dalam dan mendapati orang tuanya sedang duduk di ruang tengah.
"Aldi makan dulu nak" panggil Desi saat melihat Aldi lewat begitu saja.
"Gak laper bun" sahut Aldi tidak semangat.
"Makan Aldi" ucap Dudi yang membuat Aldi balik badan menuju meja makan.
Aldi meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya dan menarik kursi yang biasa ia gunakan.
"Kamu kenapa sayang kok kucel banget?" tanya Desi yang melihat wajah lesu dan tidak semangat Aldi yang tidak biasanya.
Biasanya Aldi selalu menunjukkan wajah datarnya walau di rumah. Tapi kali ini ada yang beda, bukan cuma tidak bersemangat dan lesu, Aldi juga terlihat kesal juga marah tapi entah apa sebabnya.
"Gak ada" sahut Aldi sembari mengambil makanannya.
"Gak ada apanya! di muka kamu aja lagi ada bentrokan gitu" ucap Dudi tanpa melihat anaknya.
"Mana ada di muka orang ada yang bentrokan"
"Ada tuh buktinya" Dudi mengangkat wajahnya menatap Aldi.
"Kamu kenapa? ngomong sama ayah bunda, kali aja kita bisa bantu" tawar Desi mencoba membuat anaknya buka suara akan apa yang dirasakannya.
Karena selama ini Aldi memang tidak terlalu cerita pada orang tuanya tentang apa yang dirasakannya.
"Gak ada apa-apa bunda, Aldi lagi capek aja" ucap Aldi mulai makan.
"Capek karena terus nyembunyiin perasaanmu itu? makanya jadi cowok itu jangan kaku jadi bisa mengekspresikan rasa suka" ucap Dudi menarik perhatian Aldi.
"Kamu lagi suka sama cewek nak? siapa dia?" tanya Desi penasaran.
"Gak ada bun, ngarang aja ayah tuh" elak Aldi.
"Ngelak aja terus, nanti kalo udah di ambil orang jangan nangis sama ayah" ejek Dudi.
"Ck, apa sih yah" ucap Aldi cemberut untuk yang pertama kalinya karena du bilang nangis oleh ayahnya.
"Hah, bunda berharapnya kamu itu deket sama Karin, dia itu anaknya..uhm gemesin tahu gak" ucap Desi tersenyum senang sembari mengunyah.
"Gemesinnya di mana sih bun pakek kacamata gitu" ucap Aldi.
"Gemesinnya di goncengan jok motor kamu itu" celetuk Dudi santai yang langsung membuat Aldi tersedak.
"Aduh pelan-pelan dong nak" Desi memberikan air minum pada anaknya yang langsung di habisi oleh Aldi.
"Udah?" tanya Desi yang di jawab anggukan Aldi.
"Sampe segitunya respon kamu, tadi katanya gak gemesin pakek kacamata, sekarang malah kesedak" ejek Dudi.
"Maksud ayah apa? siapa yang di bawa Aldi naik motornya?" tanya Desi penasaran.
"Tadi ayah lihat ada anak sekolah pakek seragam sekolah kita bun, yang cowok mirip sama Aldi trus ceweknya mirip Karin, tapi mungkin ayah salah lihat kali ya" kekeh Dudi geli.
"Masa sih yah, jangan-jangan itu beneran Aldi sama Karin lagi" kata Desi yang membuat Aldi cepat-cepat menyelesaikan makan siangnya.
Wajahnya sudah di buat sedatar dan sedingin mungkin supaya tidak merah karena malu, tapi meski bisa mengendalikan raut wajahnya. Jantungnya tidak bisa berbohong dan terus berdekat cepat.
Dan kalimat selanjutnya dari Desi membuat Aldi langsung menghentikan makannya.
"Kamu tahu gak Al, neneknya Karin itu tinggal satu desa sama almarhum nenek loh, bahkan tinggalnya tetanggaan sama nenek di desa"