
"Awas aja nanti aku pasti bisa masuk ke vila itu sama Aldi, aku harus tinggal di vila yang sama kaya Aldi cuma aku yang pantes deket Aldi bukan si cupu itu" geram Neli membuka kopernya dengan kasar lalu mengeluarkan baju-bajunya.
Beberapa menit yang lalu...
Neli mendekati vila yang di masuki Aldi dan dengan PD nya Neli berjalan tidak menghiraukan penjaga yang sudah berdiri tegap di dekat pintu.
"Maaf nona, anda mau kemana?" tanya salah satu penjaga yang ada di paling depan.
"Minggir! aku mau masuk" ketus Neli tidak suka di halangi.
"Maaf sekali lagi, anda tidak di ijinkan masuk" ucap penjaga itu membuat Neli menatapnya kesal.
"Heh denger ya! aku ini calon istri bos kalian tahu! mau kalian aku aduin ke bos kalian supaya di pecat kalian semua" kata Neli dengan bangganya.
Keenam pria itu saling pandang dengan wajah bingung. Bagaimana tidak bingung kalau gadis remaja di depan mereka mengaku calon istri majikan mereka yang di ketahui sudah tua dan beristri.
Bahkan anak bos mereka ada di dalam dan terluhat seumuran dengan remaja di depan mereka itu.
"Jangan ngarang ya kamu, bos kita udah punya keluarga jadi gak mungkin mau sama kamu yang abg ingusan" ucap pengawal yang berdiri tepat di depan pintu.
"Kalo mau mengkhayal jangan di sini, pergi sana jauh-jauh" usirnya lagi.
Neli semakin kesal dan marah mendapat perlakuan seperti itu.
"Dasar kalian bodoh! justru aku ini calon istrinya dan tentu dia punya keluarga memangnya dia bisa keluar dari kertas apa makanya gak lunya keluarga" ketus Neli.
Para pengawal itu memasang wajah malas mereka walau masih tetap terlihat datar.
Kok ada ya perempuan kaya gini batin mereka.
"Lebih baik pergi nona sebelum kami menyeret anda keluar"
"Berani kalian melakukan itu maka aku akan memecat kalian nanti kalo calon suamiku datang" tantang Neli masih dengan wajah PD dan sombongnya.
"Kalau begitu cari saja di tempat lain calon suami anda itu, jangan bikin ribut di sini"
Salah satu penjaga mengisyaratkan temannya untuk bergerak. Dua orang maju dan menarik paksa Neli agar pergi meninggalkan halaman vila itu supaya tidak semakin ribut. Apa lagi ucapan Neli yang gagal di pahami mereka benar-benar membuat pusing.
Yang di maksud Neli siapa dan yang mereka tangkap siapa. Neli mengira pria-pria kekar itu anak buah Aldi makanya ia berkata demikian, sedangkan pria-pria itu yang anak buah Banu alias papanya Karin mengira Neli salah alamat dan gadis kurang waras karena berani mengatakan bos mereka calon suaminya.
Kembali pada Neli yang sudah masuk kamar mandi dengan perasaan marah dan kesalnya tidak bisa bersama Aldi. Setelah di seret pakaa tadi, mau tidak mau Neli harus satu vila dengan beberapa temannya di vila biasa.
"Aku gak terima, aku pastikan kalo Aldi sendiri yang akan bawa aku masuk ke vila mewah itu" gerutu Neli.
"Dasar pria-pria nyebelin, lihat aja nanti bakalan aku pecat mereka semua kalo Aldi datengin aku nanti" lanjutnya terus menggerutu.
Selesai makan siang yang sudah di siapkan oleh pelayan tadi, Karin mengajak Aldi untuk keluar keliling. Tentu saja Aldi tidak akan menolak ajakan gadis cantik di dekatnya itu.
Karin dan Aldi sama-sama memakai sepatu kets putih, Aldi juga sudah mengganti bajunya dengan kaos warna hitam juga yang sempat ia beli bersama kaos yang di pakai Karin.
Mereka terlihat sangat serasi hanya dengan kaos sederhana saja dan sepatu yang sama. Saat keluar vila mereka melihat beberapa teman yang keluar untuk makan siang.
"Al kita mau makan siang, kalian ikut gak!" ucap seorang laki-laki menawari Aldi, kali saja mau pikir mereka.
"Kami udah makan" sahut Aldi datar.
"Boleh" ucap Karin membuat Aldi langsung menoleh pada gadis itu.
Kening Aldi mengkerut menatap Karin heran. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum manis saja.
"Mau makan di mana?" tanya Karin yang juga menarik tangan Aldi pelan mendekati beberapa teman mereka.
"Ayo, tapi kalian jalan duluan tunjukin jalannya kami ngikutin" ucap Karin ramah.
Mereka mulai melangkah bersama menuju tempat yang di maksud.
"Kamu yakin mau makan lagi? bukannya tadi baru makan ya, nanti begah perutnya kalo di isi lagi" bisik Aldi pelan pada Karin.
"Kita lihat-lihat aja, atau kita cari makanan yang gak terlalu bikin kenyang supaya gak begah, lagian makan sedikit juga gak akan kekenyangan" ucap Karin santai.
Aldi menghela napas saja dan memilih mengikuti kemana langkah Karin. Aldi tidak ingin membatasi langkah Karin karena ia tahu kalau gadis itu sangat senang dengan kakinya yang sudah sembuh.
"Kita mau makan apa?" ucap mereka saling pandang.
"Aku pengen makan itu deh" tunjuk yang lain pada pedagang di sana.
"Tapi aku mau yang itu" tunjuk yang lain pula pada pegangan lainnya.
"Yah jangan beda-beda dong makannya, nanti kita pisah gimana" seru seorang laki-laki.
"Kalian cari apa yang kalian mau aja, 30 menit lagi kita kumpul di sini" seru Aldi memberi solusi.
"Boleh lah kalo gitu, lagian selera kuta beda-beda susah kalo mau harus di paksain buat sama"
"Iya, ya udah nanti kita kumpul di sini lagi"
Mereka berpencar mencari makanan yang mereka inginkan sendiri. Karin dan Aldi juga melangkah ketempat yang berbeda pula.
"Kamu mau makan apa memangnya?" tanya Aldi yang menggandeng Karin.
"Hehehe gak mau makan apapun, mau jalan jalan aja deh, aku lupa bawa uang soalnya" cengir Karin menatap malu Aldi.
Aldi tersenyum melihat cengiran Karin yang begitu menggemaskan baginya.
"Kesana yuk" ajak Aldi menunjuk tempat duduk di bawah pohon yang terlihat sejuk.
"Ayo" Karin mengikuti langkah Aldi yang mulai bergerak.
Lebih dulu Aldi berhenti di salah satu tempat penjual jajanan khas puncak. Setelahnya keduanya kembali berjalan menuju tempat yang di maksud Aldi.
Mereka duduk bersama di kursi itu, dengan pemandangan indah serba hijau yang menyejukkan mata. Udara yang segar karena banyak pepohonan di sana benar-benar membuat Karin betah berlama-lama di sana.
"Jadi pengen ke desa" gumam Karin pelan di tengah kunyahannya pada jajan yang tadi di beli Aldi.
"Kenapa?" tanya Aldi yang mendengar gumaman Karin tadi.
"Di desa pasti sejuk kaya gini jadi bagus untuk yang masa pemulihan kaya aku kan, udara yang sejuk buat kita semakin sehat juga karena gak banyak polusi"
Aldi mengangguk paham maksud Karin.
"Kalo kamu mau, aku bisa bangunkan rumah mewah buat kamu di salah satu tempat yang paling sejuk dan gak ada polusinya" ucap Aldi membuat Karin menoleh cepat pada laki-laki di sampingnya.
"Memangnya ada daerah yang ada polusinya sama sekali?" tanya Karin heran.
"Ada dong, kalo kamu mau nanti aku buatin kamu rumah di sana"
"Memangnya kamu punya uang? jangan bilang kalo minta sama om Dudi ya!" kekeh Karin di ikuti Aldi juga.
"Ya gak dong, nanti kalo aku udah sukses aku pasti bakalan wujudkan impian itu, kamu bakalan aku bawa ke tempat yang aku maksud, kamu pasti bakalan suka"
Karin hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi hal itu. Baginya saat ini Aldi hanya bercanda saja, masih ada perasaan takut kehilangan di hati Karin bila ia terlalu berharap lebih.