First Kiss

First Kiss
Suara Kiko



Salsa keluar dari kantor polisi dan langsung menuju ke kantor Kara. Karena tadi Kiko di bawa oleh pemuda itu setelah mengantarkannya membuat laporan. Semalam setelah menerima surat pengadilan untuk hak asuh dan sempat emosi, Salsa kembali memikirkan langkah yang harus ia ambil.


Dengan saran dan bantuan dari Kara maka Salsa memutuskan untuk melaporkan mantan suaminya bersama istrinya atas tindakan penyiksaan pada anaknya. Karena hanya jarak empat hari dari saat Kiko di bawa Kara ketempatnya. Dengan semua bukti yang di milikinya Salsa memilih melaporkan saja kedua orang itu sebelum sidang.


Di bantu Kara yang memiliki koneksi di kepolisian maka semuanya jadi mudah. Salsa malas kalau harus kembali berurusan dengan sidang hak asuh anak karena sejak awal ia sudah mendapatkannya dan bahkan sang mantan suamipun sudah mengucapkan sumpahkalau ia tidak akan pernah mengambil kembali hak asuh atas anak mereka.


Salsa memilih jalur hukum yang lebih cepat saja dan supaya mereka hancur sekalian. Kali ini Salsa ingin bertindak tegas pada kejahatan yang terjadi pada anaknya. Nikmatilah kehancuran kalian yang perlahan ini batin Salsa.


Setelah tiba di satu perusahaan Salsa langsung saja menghampiri meja resepsionisuntuk bertanya.


"Permisi mbak, ruangan bapak Kara dimana ya?" tanya Salsa.


Dua wanita di sana menatap Salsa dari atas hingga bawah. Rok panjang semata kaki dengan kemeja yang membalut tubuhnya juga sepatu putih, terkesan biasa saja namun elegan.


"Siapa ya? dan butuh apa?" tanya seorang wanita resepsionis acuh dan kembali sibuk.


"Saya Salsa, bapak Kara sudah meminta saya untuk kesini tapi tidak memberi tahu di ruangan yang mana" sahut Salsa.


"Kalau gitu tanya aja sama orangnya lagi di ruangan mana, gak usah ganggukita lagi kerja" ketus yang satu lagi.


"Ta.."


"Kemasi barang- barang kalian dan angkat kaki dari kantor ini" ucap suara dari samping dengan datar membuat ketiga wanita itu menoleh ke asal suara.


Kara berada tidak jauh dari meja resepsionis dengan menggendong Kiko yang sedang makan es krim. Kara berjalan mendekati ketiganya dengan wajah kesal dan tidak suka.


"Saya tidak akan bicara untuk yang kedua kalinya" lanjutnya datar dan tidak bersahabat.


"Maaf tuan muda, tapi apa salah kami?" tanya seorang dengan santainya tanpa merasa bersalah, bahkan ia memasang wajah sok cantiknya.


"Apa perlu rekaman barusan di tayangkan! betapa tidak beretikanya kalian dalam melayani tamu" sahut Kara menatap tajam kedua wanita itu.


"Maaf tuan muda tapi kami se..."


"Apapun alasan kalian, pekerjaan kalian di meja resepsionis bukan di bagian yang tidak bisa di ganggu siapapun, tamu yang datang dan bertanya itu hak kalian untuk menjawab dan mengarahkan, bukan bersikap tidak baik seperti tadi" marah Kara karena bukannya menyadari kesalahan malah mencari pembelaan.


"Ada Kara?" tanya suara lain yang datang mendekat.


"Mereka tidak layak dipekerjakan pa, menyalahi tugas dan tidak profesional" ucap Kara pada Banu yang datang saat melihat anaknya memarahi dua karyawan resepsionis.


Pandangan Banu beralih pada kedua resepsionis di depannya dan memandang mereka datar.


"Kali ini kaliandi ampuni, tapi sekalilagi kalian melakukan kesalahan maka tidak ada ampun" ucap Banh tegas.


Bukan tidak ingin memecat kedua karyawannya itu, tapi Banu masih memiliki beberapa pertimbangan lagi. Karena baru sekali di ketahui kesalahan itu maka kesempatanmasih bisa di berikan selama tidak merugikan perusahaan, namun jika sekali lagi terulang maka tidak akan ada kata maaf.


"Terimakasih tuan,maafkan kesalahan kami" ucap mereka berdua.


"Ingatlah! bekerja dengan baik dan jujur sebelum kata maaf dan kesempatan tidak berlaku lagi" tegas Banu lagi lalu pergi.


Kara segera menarik tangan Salsa dan membawanya menuju ruangannya di mana ia biasa bekerja. Kara juga menaiki lift karyawan agar tidak satu lift dengan papanya. Sebelum mengatakan keinginannya pada Salsa, Kara tidak ingin papanya banyak tanya dulu.


"Kamu bahagia sayang?" tanya Salsa seraya membalas pelukan anaknya.


"Egh" sahut Kiko mengangguk.


Kara tersenyum dan mengelus rambut Kiko sayang membuat anak laki-laki itu menatapnya dan beralih memeluk dirinya dengan bahagia. Bahkan senyuman Kiko yang sangat menggemaskan membuat Kara tidak tahan dan menciumi seluruh wajah Kiko gemas.


Keduanya tertawa bahagia bersama hingga akhirnya apa yang sudah di tunggu oleh Salsa beberapa hari ini terwujud.


"Papa" ucap Kiko menatap Kara senang.


Alangkah kagetnya Kara mendengar suara Kiko yang dia bisu karena sejak awal bertemu tidak bersuara. Namun kini suara lembut dan menggemaskan anak tampan itu terdengar bahkan memanggil dirinya papa.


Bahagia! tentu saja Kara bahagia, walaupun Kiko bukan anaknya tapi dia sudah terlanjur sayang pada bocah itu. Kara kembalimemeluk Kiko dengan perasaan yang sangat berbunga.


Beda Kara beda pula dengan Salsa yang tak kalah kaget dan bahagia. Putranya bukan anak yang bisu, hanya saja saat Kiko di bawa Kara ke kliniknya bocah itu sama sekali tidak bersuara hingga membuatnya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Dan hasilnya Kiko mengalami trauma batin akibat luka yang ia dapatkan saat bersama papa kandungnya. Salsa juga sudah membawa Kiko pada temannya seorang psikolog untuk memulihkan kondisi anaknya. Namun belum pernah sekalipun Kiko bersuara.


Tapi hari ini apa yang di harapkannya terwujud sudah. Segala usahanya untuk sang anak agar kembali sembuh berbuah manis.


"Sayangnya mama, Kiko" lirih Salsa yang tidak menyangka bahkan air matanya sudah terlihat mulai menetes.


"Kamu sudah pulih sayang! syukurlah tuhan terimakasih" senangnya memeluk Kiko bahagia.


Tidak ada hal lebih membuatnya bahagia selain kesembuhan anak kesayangannya ini. Kara hanya diam melihat ibu dan anak itu saling peluk. Ada sedikit rasa heran dan penasaran di diri Kara melihat reaksi Salsa kala mendengar suara anaknya.


Tapi Kara tidak ingin merusak momen pelukan keduanya yang menurut Kara terlihat mengharukan. Bahkan Kiko menghapus air mata mamanya dengan jari-jari mungilnya itu.


"Mama cayang" ucap Kiko semabari menghapus air mata Salsa yang membuat sangibu semakin menangis bahagia saja.


"Anak mama sayang, kamu udah pulih nak! kamu udah mau ngomong lagi sama mama nak!"


Kara membiarkan keduanya untuk saling berpeluk dan berkasih sayang. Sementara dirinya kembali kearah meja kerjanya dan mulai bekerja. Mungkin nanti saja ia bertanya saat sudah waktunya pikirnya.


Saat jam makan siang tiba ketiga orang itu pergi menuju restoran untuk makan siang. Kara sengaja memesan ruang khusus agar Kiko merasa nyaman karena bocah kecil itu masih merasa takit dengan orang baru dan tempat keramaian.


"Bagaimana laporannya tadi?" tanya Kara di sela-sela kegiatannya menyuapi Kiko makan.


"Semuanya berjalan lancar, teman kamu itu membantu semua prosesnya" sahut Salsa.


"Ada berita baik lagi, kita mendapatkan bukti lain yang bisa lebih memberatkan mereka berdua agar mendapat tahanan lebih lama"


"Oh ya! apa itu?" tanya Salsa penasaran menghentikan makannya dan melihat Kara yang masih santai menyuapi Kiko.


"Mereka berdua ribut di ruang pemeriksaan, dan !kebetulan temanku sedang tidak jauh dari ruangan itu, karena suara mereka yang cukup keras jadi orang diluar bisa mendengar semua ucapan mereka dan temanku merekam itu, rekamannya sudah ada padaku"


"Wah benarkah! kalo gitu ini akan semakin memudahkan prosesnya, aku yakin mereka gak bakalan bisa berkutik lagi kali ini" ucap Salsa antara senang dan geram.


"Tunggu aja masanya, mereka akan hancur dan merasakan sakit seperti apa yang pernah aku sama anakku rasakan dulu dan sekarang" marah Salsa.