Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Tentang anak-anak




Tentang anak-anak



Pagi harinya. Setelah sholat subuh Nay tidak langsung tertidur kembali seperti Radit. Sekarang dia tidak memiliki dua tanggung jawab saja namun Nay memiliki lima tanggung jawab. Seperti hari sebelumnya Nay dan Tiara memasak untuk sarapan - Wendy selalu menyuruh anggota keluarganya sarapan yang mengenyangkan tidak hanya roti dan susu namun harus makan berat- maka dari itu setiap hari Nay dan Tiara memasak. Walau Tiara tengah berbadan dua namun itu semua tidak menghambat ibu muda itu untuk beraktivitas.


Kini kedua kakak beradik itu sedang mengobrol ringan memecahkan suasana hening yang terjadi, walau di sini ada asisten rumah tangga namun untuk bagian dapur mereka selalu turun tangan. Keahlian memasak Prita turun kepada Nay dan Tiara.


"Mbak,"


"Hmm? Apa Ra?"


"Gimana semalem aman?" tanya Tiara dengan wajah menyebalkan.


Nay yang tidak paham dengan apa ayang dimaksud oleh Tiara langsung menatap adiknya dengan heran.


"Aman maksudnya?"


"Iya. Kan mbak semalem sama mas Radit pasti itu " ucap Tiara menekan kata itu.


Seketika wajah Nay memerah. Perasaan hangat menjalar hatinya.


"Itu? Itu apa?" gugup Nay. Entah kenapa menjadi seperti ini. Yang jelas dia sedikit malu.


"Masa iya mbak enggak ngerti, semalem mbak kan sama mas Radit melakukan--"


"Ra ...."


"Enggak papa kali mbak. Kalian kan udah lama enggak ketemu, jadi boleh dong kalau lama-lama jadi melakukan itu nya,"


"Kamu nguping? "


Tiara terkekeh. Ibu muda itu sangat suka jika menggoda Nay, setelah lima tahun lebih mereka jarang bercanda atau sekedar mengobrol panjang pun mereka jarang hanya sesekali dalam waktu senggang dan juga biasanya jika mereka sedang memasak pun mereka tidak pernah mengobrol, mau sibuk dengan pikirannya Tiara sibuk dengan masakannya.


"Enggak mbak, Ara cuman denger waktu mas Radit minta anak lagi dan waktu mbak nge--"


"Tiara ... Udah ahk. Sana urus dulu Faura dari tadi manggil kamu tuh," ucap Nay tak tahan dengan godaan Tiara.


"Lah iya gitu? Kok aku enggak denger? Ehh tapi mbak kalau mbak bener hamil lagi terus kembar sepasang atau dua-duanya laki-laki kita tukeran yuk. Anakku cewek lagi," ujar Tiara dengan nada nyeleneh membuat Nay gemas kepada adiknya.


"Andini Tiara Handoko sana pergi ahk. Jangan recokin mbak terus,"ucap Nay mendorong kecil tubuh Tiara agar pergi.


"MBAK NANTI KALAU BENER MBAK HAMIL LAGI TERUS COWOK DUA-DUANYA AKU MINTA TIPS NYA YA!!"


Nay berdecak kesal. Adiknya itu memang sangat menyebalkan. Mana ada tips membuat anak kembar. Jika ada Prita pasti Tiara sudah terkena omelan karena membicarakan hal itu. Bagaimana jika tiba-tiba anak-anak masuk dan mendengarkan semuanya pasti otak polos mereka akan tercemar oleh Tiara.


Fauzan dan Tiara memang satu frekuensi. Sama-sama menyebalkan, semoga Faura dan jabang bayi yang kini sedang Tiara kandung tidak mengikuti sikap ayah dan ibunya.


Nay menoleh saat merasakan sebuah tangan kekar melingkar dipinggang rampingnya, senyum mengembang saat tau siapa pelakunya, Radit. Suaminya itu masih memakai Piyama tidur sama seperti dirinya.


Mata Nay melirik kearah jam dinding. Waktu baru saja menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit tapi kenapa Radit sudah bangun. Bukanya tadi bilang akan tidur hingga siang.


"Ada alarm yang membangunkan saya," ucap Radit mempererat lingkaran tangannya dipinggang Nay agar istrinya itu lebih mendekat kearah nya.


"Oh iya Nay lupa kalau sebelumnya Nay pasang alarm jam segini," Nay terkekeh di pelan membuat Radit refleks mengusap puncak kepala Nay yang terhalang oleh hijabnya.


"Memangnya setelah sholat kamu langsung tertidur lagi?"


"Enggak, itu alarm buat bangun Melody." ucap Nay. Sebelumnya Melody memang selalu tidur bersama Nay karena anak itu tidak mau tidur sendiri apalagi Wendy menyiapkan kamar cucu-cucunya sangat luas bahkan didalam kamar Melody, Rayen, Reymond dan Faura ada sebuah ruang khusus untuk mainan, ada ruang khusus untuk belajar, ada ruangan khusus sholat dan ada walk in closet nya.


Itu semuanya katanya demi kenyamanan cucu-cucunya. Wendy juga tidak segan-segan arsitek terkenal untuk semua itu.


"Melody?"


"Iya, sebelumnya Melody emang suka tidur sama Nay, dia enggak berani buat tidur sendiri, kamarnya terlalu besar katanya," ucap Nay tangannya masih sibuk memasukkan bumbu ke dalam masakan nya.


"Lalu kalau sekarang kamu tidur bersama saya Melody sama siapa?" tanya Radit sedikit khawatir.


"Semenjak adanya Rayen Melody suka tidur sama Rayen, dia enggak berani tidur sama Reymond. Bahkan masuk kamar Reymond aja Melody enggak mau,"


"Lah? Kenapa?" banyak yang tidak Radit ketahui tentang kehidupan anak-anaknya. Bahkan mungkin tentang perkembangan kedua anaknya Radit tidak tau. Rasa bersalahnya kembali hadir karena ini dia merasa tidak becus menjadi seorang ayah dan pemimpin keluarga.


"Satu tahun lalu Melody masuk ke kamarnya Reymond tanpa sengaja Melody ngebuat lukisan punya Reymond rusak. Reymond marah bahkan dia enggak keluar kamar hampir satu bulan, tiap sarapan makan siang atau pun makan malam selalu di taruh didepan pintu setiap harinya," ujar Nay melepaskan lingkaran tangan Radit dipinggang nya menyimpan semua masakannya dimeja makan menata dengan rapi.


"Lukisan? Sangat berharga mungkin lukisannya jika Reymond sampe marah seperti itu,"


"Lukisan wajahnya mas sama Nay,"


Ya, Nay ingat betul saat Reymond mendiamkan semua orang yang ada di rumah ini. Saat itu umur Reymond masih menginjak empat tahun, anak laki-laki itu sangat sulit untuk berbaur seperti yang pernah dikatakan Wendy dan Fauzan ;


"Radit sama Reymond itu wataknya sama, sama-sama introvert, sama-sama irit bicara minus kepada orang yang benar-benar mereka sayang. Radit dan Reymond punya cara mereka sendiri untuk berbaur dengan orang baru,"


"Kaya Mas," ucap Nay membuat Radit mendongkak menatap Nay yang sibuk menata makanan.


"Apanya?"


"Iya, Reymond itu kaya kamu. Susah diajak berbaur, bosenan, enggak humoris dan satu lagi Reymond itu kaya kamu mas, memiliki. IQ yang cukup tinggi."


"Masa sih," gumam Radit dengan pelan.


"Mas, tentang Nada," ucap Nay baru ingat. Sejak awal Nay ingin membahas ini. Sebenarnya Nay hari ini ingin mengajak Radit mengurus hak asuh Nada agar nantinya tidak akan ada permasalahan yang membawa ke persidangan seperti di sinetron. Pikir Nay.


"Kita asuh dulu aja sampe dia dewasa saat dia dewasa kita beri tahu siapa keluarga kandung dan sebenarnya dia masih memiliki Ayah biologis,"


"Mas tau ayah biologis Nada, "


" Saya juga kurang tau entah itu saya atau kak Rama,"


Nay membulatkan matanya. "Mas ...."


Jujur Nay tidak akan rela jika Radit memiliki anak dari wanita lain apalagi ini Veronika. Walau Nay akan menerima anak itu namun Nay tidak mau berbicara dengan Radit.


"Saya bercanda,"