Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
49. Bab 49: Sebuah kecelakaan.



Dengan langkah gembira Rayen berjalan menuju arah stand ice cream menyebrangi jalan tanpa melihat kanan dan kiri.


TINNN.....TINNN....


****


Nay memincingkan matanya saat mengenal mobil yang akan menabrak seorang anak kecil itu mobil milik, Rama—kakak dari suaminya. Mobil sport itu melaju dengan kecepatan yang tinggi.


"DEK AWAS!!!" Nay berlari kearah anak laki-laki itu dengan susah payah. Perempuan itu sedang mengandung namun menyelamatkan sesama manusia adalah tugas yang mulia. apalagi itu adalah anak kecil.


Brukk...


"Awwssss...." ringis Nay menyentuh perutnya yang terasa sakit karena terbentuk spion mobil sport itu.


"Aunty... Aunty enggak pa-pa kan?" panik bocah itu namun tidak ada sahutan dari Nay hanya ada ringisan.


Beberapa orang langsung berdatangan menghampiri Nay berniat membantu namun Nay menolong dan terpaksa mereka semua langsung bubar.


Nay menekan perutnya saat ada darah mengalir dari paha hingga kakinya. "Sa...kit," rintih Nay.


Beberapa saat kemudian sebuah mobil hitam berhenti didepan Nay dan Bocah berusia 10 tahun. Nay tak mampu mendongkak karena perempuan cantik itu memengangi perutnya, dalam otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih karena Nay benar-benar takut jika dia kehilangan calon bayinya.


"Hiks... Hiks... Sa…kit," rintih Nay sudah menangis karena perutnya sangat sakit.


"Daddy, Bantu Aunty ini. Aunty ini udah nolongin Ray dari mobil itu," isaknya dan Nay hanya bisa diam tak mendongkak atau melihat siapa sedang mengobrol dengan anak itu.


"Mas Radit hiks... sakit..." Nay terisak sembari merundukkan kepalanya menekan perutnya yang begitu sakit..


"Daddy ayo cepat bantu Aunty baik ini," desakknya karena sang Ayah hanya diam saja.


"Ya Tuhan, Rayen... Maafkan Aunty Monika karena membiarkan kamu sendirian. Pak Radit maafkan saya karena telah lalai menjaga Rayen," Monika merunduk takut kepada arah Radit lalu memeluk Rayen memastikan tidak ada yang salah dengan anak asuhnya.


Bibir mungil milik Nay bergetar karena menahan tangisnya. Apa suaminya sudah membohongi Nay? Tapi, kali ini Nay tidak mau berdebat. Yang Nay pedulikan adalah bayinya. Radit yang baru saja sadar bahwa itu istrinya langsung hendak berjongkok ingin bertanya dan menolong namun Monika menahan tangannya.


"Pak Radit, tangan Rayen terluka," ucapnya menarik tangan Radit agar tidak berjongkok.


Radit langsung berdiri tegak kembali dan menghiraukan Nay. Sedangkan Nay yang melihat itu langsung ingin menangis namun tertahan karena perutnya malah semakin sakit.


"Mas..." lirih Nay namun tidak didengarkan sama sekali oleh Radit.


"Kamu enggak pa-pa?" tanya seorang laki-laki tiba-tiba datang langsung mengangkat tubuh Nay tanpa permisi.


"Aku—"


"Aku bawa kerumah sakit." ucap laki-laki itu.


Refleks Nay mengalungkan tangannya dileher pria asing itu. Pria bersetelan dokter itu membawa Nay pergi dari tempat itu untuk penyelamatan pertama.


Radit belum sadar jika istrinya sudah dibawa pergi karena pria itu terlalu sibuk dengan Rayen sedangkan Monika mengulum senyum jahatnya dan terus mengenggam tangan Radit.


"Lain kali hati-hati kalau jalan Ray, Daddy enggak mau kalau kamu kenapa-napa apalagi sampai terluka seperti ini," ujar Radit masih pokus ke tangan Rayen.


"Dad, aku enggak pa-pa. Yang terluka itu Au—"


"Maaf Pak Radit, ini bukan kesalahan Rayen tapi kesalahaan saya yang lalai," potong Monika saat Rayen akan membahas Nay kembali.


"Ya lupakan saja, Saya tau ini adalah sebuah kecelakaan," sahut Radit masih terus pokus kepada Rayen.


Pria bertubuh jangkung itu tidak masih tidak sadar jika Nay sudah pergi dibawa oleh seseorang. Bahkan sepertinya Radit lupa jika tadi dia melihat Nay terlihat kesakitan dan pendarahaan.