
Kalian taukan ini adalah cerita ku yang paling panjang. Biasanya aku buat cerita cuman sampai 30 atau 31 partnya jadi aku mohon jangan lupa tinggalkan like setelah baca ya karena itu yang buat aku semangat buat nulis.
____***____
Tiara melipat mukenanya lalu mencium punggung tangan Fauzan meminta restu serta Do'a. Kali ini bukan kali pertamanya Tiara melakukan sholat berjama'ah bersama Fauzan karena dulu saat masih pacaran Fauzan mengimami sholatnya.
"Obatnya udah kak?" tanya Tiara.
"Udah, Kamu udah makan?"
"Udah kak,"
Fauzan menarik Tiara duduk diranjang. Saat ini laki-laki itu hanya ingin menghabiskan waktunya saja bersama Tiara dan calon buah hatinya. Jika tuhan mengizinkan Fauzan hidup lebih lama lagi pasti akan sangat bersyukur apalagi kanker itu sudah stadium ahkir mungkin ada harapan untuk sembuh.
"Ra, kalau kakak udah enggak ada kamu mau nikah lagi?" tanya Fauzan dengan nyeleneh membuat Tiara langsung menoleh menatap tajam kearah laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya.
"Apaan sih kak, Kita baru aja nikah malah ngomong kaya gitu. Bunda aja bisa sembuh masa kak Fau enggak," ujar Tiara sedikit marah karena pertanyaan Fauzan tadi.
Fauzan menarik Tiara kedalam pelukkannya. Untuk saat ini biarlah mereka mengikuti alur scenario Allah yang tidak pernah kita bisa terka.
*****
Suasana meja makan sangat hening tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut keenam manusia yang kini sedang asyik dengan pikirannya masing-masing.
Nay yang masih kesal dengan Radit karena prihal tadi, diranjang. Suaminya memang menagajak Nay untuk melakukan hubungan suami istri namun itu hanya satu jam tidak lebih tidak kurang. Bukannya Nay haus belaian namun Nay kesal karena setelah itu suami malah langsung bermain game oneline melupakan Nay.
Prita juga diam bukan karena apa-apa. Ibu dari dua anak itu sedang menahan marahnya karena tadi dengan terang-terangan Wendy mengajak ngobrol rekan bisnisnya yang seorang janda didepan Prita. Istri mana coba yang mau dicuekin sedang kan suaminya mengobrol dengan janda tua itu. Dasar mata keranjang. pikir Prita.
Menikah lagi? Rasanya itu hal yang paling mustahil karena melupakan Fauzan tidak akan semudah yang diucapkan nya selama ini. Mungkin Tiara harus belajar dari Prita, belajar dalam artian belajar sabar dan ikhlas.
"Ekhemmmm...." dehem Wendy, Radit dan Fauzan secara bersamaan membuat ketiga wanita yang tadi menatap tak berselera makanannya beralih kepada mereka namun itu hanya sebentar.
Fauzan sudah gatal ingin mengeluarkan kata-kata jailnya namun di tahan apalagi saat melihat wajah mertua dan kakak iparnya, garang.
"Si iem makan peyem
Kenapa pada diem," monolog Fauzan dengan pelan hingga Tiara dan Nay saja yang mendengarnya karena kedua perempuan itu duduk disisi kanan dan kirinya.
Benar kata orang kalau perempuan lebih seram ketika diam bahkan pantun nyeleneh Fauzan tidak disahutin oleh Nay atau pun Tiara padahal kedua kakak beradik itu mendengarnya.
Suara ponsel milik Wendy memecahkan keheningan yang melanda. Pria paruh baya itu segera pergi dari meja makan lalu mungkin untuk mengangkatnya.
"Dasar mata keranjang,"gerutu Prita beranjak mengikuti Wendy dari belakang.
Nay pun pergi begitu saja meninggalkan Radit yang masih termangu ditempat.
Tiara yang melihat itu pun ikutan pergi perempuan itu butuh waktu sendiri.
"Perempuan lebih seram saat diam," ucap Fauzan menyandarkan kepalanya diatas meja.
"Hmm, lebih seram dari piskopat atau anak konda," balad Radit.