Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
PERTIKAIAN



Nay dapat melihat seringai iblis dari bibir wanita cantik itu. Hatinya tiba-tiba tak enak, memikirkan hal-hal yang tidak-tidak .


"owh salam kenal aku Naysilla." Nay memaksakan untuk tersenyum tulus kepada Veronika.


Veronika yang merasa tidak ada tanda-tanda kemarahan dalam diri Nay langsung mengepalkan tangannya. Rencana ingin membuat Nay malu, gagal namun bukan Veronika namanya jika tidak memiliki rencana licik lainnya.


"Kamu pasti sudah mendengar tentang aku dari Fauzan, kan?" Veronika memainkan ujung rambutnya, wajah wanita itu terlihat sangat angkuh dan siapa saja yang melihatnya pasti merasa gendek .


Nay hanya bergeming menatap Rayen yang sedang tertawa lepas bersama keempat temannya.


Veronika mengepalkan tangannya karena Nay tidak marah. Bila begini Veronika harus memutar otaknya agar lebih memikirkan hal yang membuat Nay marah.


"Mau taruhan?"


"saya tidak tertarik dengan yang namanya taruhan," ujar Nay dengan santai.


Veronika tersenyum sinis. "tidak tertarik atau takut kalah?"


"saya lebih baik mengikuti skenario Allah daripada mengikuti taruhan kamu," cetus Nay.


Tak lama dari itu Rayen datang dengan membawa dua cup ice cream . Anak laki-laki itu mengecup singkat pipi Nay.


"Mom, Ray bawa ice cream buat Mommy," Rayen menyondorkan salah satu ice creamnya.


Nay menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih,"


Rayen mendudukkan tubuhnya dipangkuan Nay. "Mommy. Ray mendapatkan banyak teman baru,"


"Serius?"


Rayen mengangguk pelan. "ehm , Mereka anak-anak yang asyik,"


"Kamu juga harus terbiasa okey, Mommy tadi melihat mu seperti tidak nyaman berkerumun dengan kelima temanmu itu," ujar Nay mengusap puncak kepala Rayen dengan lembut.


Veronika berdecak sebal karena melihat itu, dulu Rayen sangat dekat dengannya namun sekarang posisi Veronika tersingkirkan oleh Nay.


"Hai, Ray. Apa kamu masih ingat Aunty?" tanyanya membuat perhatian Nay dan Rayen teralih .


Rayen menatap Nay menanyakan apa yang dimaksud oleh Veronika. "Mom , dia siapa?"


"Tanya sendiri,"


Rayen mengangguk. "Aunty siapa? Ray enggak kenal sama Aunty,"


"Serius? Kamu benar-benar tidak mengingat Aunty," Rayen mengeleng.


"Kalau begitu kenalkan nama Aunty, Veronika Ylona La-gue ,"


"Enggak nanya. "ucap Rayen dengan ketus.


Veronika mengumpat pelan sangat pelan hanya dia yang mendengar saja. Nay yang melihat itu hanya terlebih, benar kata suaminya jika Rayen tidak mudah berinteraksi dengan orang asing.


"Ray, jangan begitu. Dia adalah rekan bisnis Daddy" ujar Nay namun dalam hatinya dia seperti terbahak .


"Jika kamu ingin memiliki madu aku siap jadi madu kamu. Aku tahu jika kamu itu sulit memiliki anak, kandungan kamu sangat lemah sulit untuk memiliki anak."


******


Tepat pukul tengah malam Radit mengajak Nay dan Rayen untuk pulang. Rayen sudah tertidur.


Mobil hitam milik Radit berjalan menuju rumah besar milik keluarga Nay. Suasana sangat hening, Radit fokus kejalanan raya sedangkan Nay fokus ke ponselnya.


"Kenapa?"


Nay mengalihkan pandangannya menatap Radit. "Apanya yang kenapa?"


"Kamu kenapa, saya perhatikan kamu seperti memikirkan sesuatu,"


Nay terdiam. Dia juga bingung mengapa diam terus sadari tadi ralat mungkin sejak Nay bertemu dengan Veronika.


"Nay ....."


"Veronika cantik, ya?" Nay mengalihkan pandangannya keluar.


Radit mengeratkan genggamannya pada stang mobil. Kenapa Nay tiba-tiba membahas Veronika? Apa Nay bertemu dengan Veronika.


"Tadi Nay ketemu sama Veronika. Dia bilang siap untuk jadi madunya Nay dia tau kalau Nay enggak akan bisa hamil lagi," ujar Nay.


"Veronika tidak mungkin seperti itu saya sudah mengenalnya jauh sebelum kamu,"ketus Radit membuat Nay langsung menoleh menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


"Mas, enggak percaya sama Nay,"


"Enggak,"


"Mas, egois" lirih Nay.


"Kamu yang egois, saya sudah lama mengenal dia. Jangan menilai orang dari luar," tegasnya membuat air mata Nay tiba-tiba luruh .


"Nay ngomongin fakta," ucap Nay tak kalah tegas.


"Nay, tau jika mas masih mencintai Veronika, kan?" tanya Nay dengan lirih. Air matanya terus meluncur bebas beriringan dengan isak tangis yang tertahan.


"Okey, saya mengaku. Sampai sekarang saya masih mencintai Veronika sampai saat ini tapi saya sudah berusaha melupakan Veronika .... " ujar Radit.


"Dengan semua yang Nay lakukan selama ini berarti enggak ada apa-apanya?"


"Enggak,"


Nay memejamkan matanya sebentar, wanita berhijab itu mencoba tidak tersulut emosi. Ego dan hatinya saling berontak untuk mundur saja namun Nay ingin pernikahannya terus awet hingga maut yang memisahkan bukan seperti ini.


Radit yang menyadari bahwa dia telah menyakiti hati istrinya hanya bisa diam karena Radit sendiri bingung harus melakukan apa, didalam hatinya dia merutuki atas kebodohannya.


"Nay ..."


"Lupain aja mas, Nay capek .... Capek makan hati terus,"