Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
Membingungkan



Radit merebahkan tubuhnya diatas sofa ruangannya, kedua bola matanya menatap kosong kearah langit-langit ruangan yang sekarang ia pakai untuk tidur.


Sudah hampir satu bulan--setelah pertengkarannya dengan Nay waktu itu Radit jarang pulang kerumah mertuanya itu. Sekalinya pulang Radit hanya menyalurkan nafsunya saja kepada Nay, ya walau istrinya itu hanya diam tak membalas.


Sungguh. Radit rindu dengan keharmonisan yang dulu tercipta sebelum datangnya Veronika.


Radit sendiri bingung mengapa dia seperti ini. Kenapa rasa cintanya kepada Veronika bisa kembali hadir padahal jelas-jelas dia sudah merasa sangat mencintai Nay.


Apa yang salah dengan dirinya?


Radit menegakkan tubuhnya saat merasa sesuatu mengalir dari hidungnya .


Darah.


Radit menghela nafasnya dengan pelan, akhir-akhir ini Radit seringkali militan atau pening secara tiba-tiba. Pria itu tidak memeriksanya ke dokter atau meminta Nay yang memeriksanya , Radit takut jika malah setelah diperiksa malah membuat dirinya drop.


"Pak Radit, pak Wendy menyuruh anda untuk pulang,"


Radit mengelap dengan kasar darahnya.


Kepalanya mengangguk pelan menyauti ucapan seketarisnya.


"Kalau begitu saya permisi," Doni--seketaris baru Radit merunduk hormat lalu berjalan keluar meninggalkan Radit yang masih merunduk menatap kedua sepatu pentompelnya.


*****


Nay melipat mukenanya. Kakinya melangkah kearah balkon kamarnya. Semilir angin sore terasa begitu dingin bagi Nay, biasanya Radit selalu menemani Nay--mereka selalu menghabiskan waktu sore sebelum maghrib itu memandang langit atau sekedar berbincang hangat, namun sekarang sudah berubah semenjak kehadiran Veronika.


Apa salah jika Nay ingin menyerah?


"Nay ...." suara lembut milik Prita membuat Nay langsung menoleh menatap Ibunya dengan lamat.


Detik selanjutnya air mata Nay langsung turun. Mungkin hanya Prita yang bisa mengerti Nay saat ini, curhat kepada Tiara pun adiknya itu sudah banyak masalah terlebih lagi Fauzan sedang masa ritmen ketatnya .


"Bun, mas Radit jahat hiks.... ," isak Nay memeluk tubuh ibunya dengan erat. Hatinya sesak saat tau Radit malah memihak Veronika ketimbang dirinya.


Jujur Nay sudah lelah untuk berpura-pura kuat didepan siapapun bahkan Nay selalu menghabiskan waktunya dirumah sakit saat Radit tidak pulang kerumah entah kemana suaminya jika tidak pulang ke rumah.


"Bunda ngerti sayang, Tiara dan Fauzan sudah cerita. Maaf Bunda baru datang," Prita membalas pelukan anak sulungnya. Akhir-akhir ini dia sibuk mengurus mertuanya yang sedang sakit-sakitan sampai dia tidak tau masalah yang dialami oleh Nay.


"Bun, mas Radit malah pihak sama Veronika bahkan mas Radit selalu belain Veronika saat kita lagi debat," adunya, Nay masih menangis sesegukkan memendam wajahnya dibahu Prita.


Prita melepaskan pelukannya. "jangan pernah mengikuti apa kata logika mu jika kamu tidak mau menyesal dikemudian hari, ikuti kata hati kamu Nay," ujar Prita mengusap air mata Nay dengan lembut.


"maksud bunda?" tanya Nay.


Prita tersenyum lalu mengarahkan wajah Nay kearah halaman bawah. "suamimu sudah pulang, sana kamu sambut jika kamu tidak ingin menyesal dikemudian hari,"


Nay menautkan alisnya dengan heran, dia masih mencerna ucapan Prita. Dibawah sana memang ada Radit yang baru saja turun dari mobilnya , wajah pria itu seperti sangat lelah. Nay dapat melihatnya.


"Bun... Nay enggak ngerti,"


"Nanti kamu mengerti jika emosi kamu sudah mereda,"