Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Something




Something



"Tidak ada wanita di belakang seorang pria hebat. Wanita itu ada di sampingnya. Ia ada bersamanya, bukan di belakangnya." (Tariq Ramadan)


*****


...Untuk kamu, Naysilla Handoko....


...Aku meminta maaf untuk sebesar-besarnya karena telah menghancurkan rumah tangga kamu, aku juga udah ikut andil menyiksa dan mengurung Radit serta Rayen....


...Nay, Aku mau minta tolong, tolong urus Nada. Anakku....


...Sekali lagi aku minta maaf sama kamu Nay, karena aku, kamu dan Radit menjadi seperti ini. Aku mengaku salah atas semua ini. Tapi tolong urus dan asuh Nada seperti anak kamu sendiri....


...Sejak dia bayi aku tidak mengurusnya, Aku selalu menelantarkan anak itu. Aku titip Nada sama kamu, satu hal yang harus kamu tau salah satu Ginjal Nada aku jual....


...Tertanda; Veronika....


*****


Nay menatap iba kearah Nada, anak perempuan itu sangat cantik dan imut. Sangat mirip dengan Veronika.


Kenapa harus Nay? Kenapa tidak orang lain saja?jujur Nay masih ada marah kepada Veronika. Namun apa bisa Nay berbuat tega kepada anak yang tak berdosa dan tak tau apa-apa seperti nada?


Bahkan Veronika dapat kejam kepada nada dengan menjual salah satu Ginjal anak perempuan itu.


*****


Nay mengelung rambut panjang dengan asal. Kaki telanjangnya berjalan kearah meja riasnya, wanita dengan balutan kimono mandi itu tampak menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Saatnya memulai hidup baru, jangan terlalut dalam duka," gumam Nay menghela nafasnya, Nay mulai memoles wajahnya dengan make up tidak terlalu tebal namun tidak terlalu natural juga.


"Mom," suara pintu terbuka bersamaan dengan suara Reymond membuat Nay langsung menoleh.


"Hmm?"


Reymond mendudukkan tubuhnya diatas ranjang milik Ibunya. "Mom, Are you okey?"


"Hmm, seperti yang kamu liat," memutar tubuhnya menatap Reymond.


"Mom, kenapa Mommy nerima dia?"


Reymond mengangguk pelan. "Iyah,"


"Dia siapa sayang?" tanya Nay mendekat kearah anak laki-laki nya.


"Nada, dia kan anak nya tante jahat," ucap Reymond dengan tatapan tajam.


"Kamu tau?"


"Iyah, beberapa hari lalu aku sama Om Fau dan opah pergi ke pemakaman tante jahat buat mastiin dan aku liat dia nangis diatas kuburannya tante jahat," jelas Reymond.


Nay menatap Reymond. Reymond sudah bisa menangkap setiap kejadian yang terjadi selama ini diotaknya, pikiran Reymond terlalu dewasa, untuk ukuran seperti anak Reymond terbilang cukup langka. Usianya yang akan menginjak 5 tahun Reymond sudah memiliki IQ yang cukup dewasa.


Tangan Nay mengusap puncak kepala Reymond. "Nada tidak tau apa-apa dengan apa yang dilakukan Ibunya, Mommy yakin Nada dan Ibunya itu sangat berbeda."


"Mom, opah bilang buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya," ujar Reymond tak main-main.


"Tapi, enggak semua itu pepatah itu terjadi. Coba kamu liat diri kamu, apa kamu sama seperti Mommy? Apa watak, sifat, dan sikap ada yang seperti Mommy, " Nay terus mengusap puncak kepala Reymond dengan lembut. Anak laki-lakinya lebih berwarna akhir-akhir ini tapi kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat Reymond seperti menemukan dunia barunya.


"Watak, sikap, dan sifat aku memang enggak ada yang sama seperti Mommy tapi ketiga kata itu Daddy yang nurunin ke Aku, Semuanya menurun ke aku, bukan? Aku sama Daddy banyak kesamaan, dan kalau Melody itu sebaliknya dari aku dia menuruni semua watak, sikap dan sifat Mommy, itu kata Daddy,"ucap Reymond.


Nay mengerutkan keningnya. "Daddy? Kapan Daddy cerita? Bukannya waktu kita dirumah sakit kamu sama Daddy cuman ceruta-cerita tentang 5 tahun belakangan ini?" cerca Nay menatap Reymond dengan curiga.


Reymond seperti menutupi sesuatu dan Nay tau itu. Hatinya berkata ada sesuatu namun Nay malah menepis insting itu.


"Sudah lah lupakan. Yang jelas kamu Harus menerima Nada seperti kamu menerima bang Rayen,"ucap Nay.


Reymond terpaksa mengangguk demi menghilangkan kecurigaan Nay.


"InsyaAllah,"


*****


Nay sudah siap dengan gamis berwarna tosca begitupun dengan hijabnya yang senada. Sepatu high hiels yang tidak terlalu tinggi menambah kesan cantik dalam diri Nay.


"Nay, mau kemana?" tanya Prita lembut, dia memperhatikan anak perempuannya dengan detail.


"Mau ke rumah sakit," ucap Nay mengecup punggung tangan ibunya.


"Nay pamit ya Bun, nitip anak-anak juga,"pamitnya membuat Prita mengangguk kecil.


"Titip Nada juga Bun,"


******