Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
15. Bab 15 : HAPPY BRITHDAY NAYSILLA



"Naysilla Handoko dokter muda berusia 25 tahun dan juga seorang CEO di Handoko group. Putri pertama dari bapak Wendy Handoko dan ibu Prita Monika Putri yang sudah bercerai 21 tahun lalu, memiliki satu saudara perempuan yang berfropesi sebagai suster atau perawat dirumah kanker. Mantan dari putra tunggal keluarga Laksmana yaitu Bayu Laksmana. Istri dari Raditya Mahendera,."


Wait, kenapa dia mengetahui segalanya tentang ku. Apa kita pernah?


Dengan cepat aku memutar tubuhku beralih kepada pria itu namun sekarang dia malah mengikutiku memutar arah.


Aku belum tau wajah dia berdiri membelangkangiku jika tadi dia duduk sekarang di malah berdiri jarak nya dengan ku hanya beberapa senti.


"Kenap—"


"Menyukai warna pink, kuning, dan biru laut.


Phobia gelap, sangat suka dengan makanan seafood, tidak bisa masak nasi dan mie, alergi sama kepiting, pengemar berat animasi Doraemon dan hello kitty."


Kenapa, kenapa dia mengetahui semuanya tentang ku. Apa Ayah yang memberitahunya?


Tapi jika benar aku tidak akan menutu an Ayah untuk urusan ini.


"Kamu siapa sih kenapa tau tentang aku?" cetusku namun dia malah mengidikan bahunya.


"Dulu saat kecil bercita-cita menjadi model namun karena melihat teman-temannya menjadi dokter jadi beralih mengikuti teman-temannya.


Memiliki tahi lalat di dada lebih tepatnya dipayu dara kiri dan memiliki tanda lahir di pinggang. Me—,"


"Ayah!!! Tamu Ayah anehh..." teriakku dengan lantang lalu berlari menuju kamar. Pria itu benar-benar aneh dia mengetahui semuanya tentangku bahkan sampai bagian tubuhku.


Terdengar suara tawa pria aneh itu namun aku.terus berlari. Aku menyesal telah pulang kesini.


Hari ini hari paling menyebalkan untuk ku. Tadi saat di Rumah kanker aku bertemu kembali dengan orang sinting ralat mas Bayu lagi dan sekarang aku bertemu orang aneh yang mengetahui segalanya tentang ku sampai bagian tubuhku juga. Dasar Aneh.


______________


Dorrrrr.....


"HAPPY BRITHDAY NAYSILLA,"


"Kalian..." aku bingung harus bilang yang jelas aku sangat bahagia. Aku tidak menginggat ulang tahun ku sendiri tapi keluarga menginggatnya.


"Selamat ulang cucu nenek. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya," nenek memelukku bergantian dengan Ayah dan kakek mereka mengucapkan doa-doa yang membuatku tanpa sadar meneteskan air mata.


"Selamat ulang tahun bu bos. Jangan keseringan marah-marah yah ntar cepet tua dan kaih restu ke saya sama Ara ya buu." Fauzan menaik turunkan alisnya cengiran usil itu membuatku tak segan langsung menoyornya.


"Kamu nih. Nama adik saya Tiara bukan Ara," Fauzan hanya tertawa kecil.


"Panggilan sayang bu.." aku hanya memutar bola mataku dengan malas.


"Adik? Tiara? Maksud kalian?" sontak aku dan Fauzan langsung saling pandang dan bungkam.


"Nay, ada yang kamu sembunyiin?"


Percuma aku menjelaskan nya kepada Ayah kalau Ayah sendiri tak percaya kalau Tiara anak Ayah juga. Ingin rasanya aku membalas pertanyaan Ayah dengan begitu namun aku tak mau acara bahagia ini menjadi tegang.


"Enggak kok Yahh.. Nay sama Fauzan cuma bercanda," Fauzan mengangguk cepat namun selesai ini aku akan menelpon Bunda dan Tiara.


"Yaudah sekarang kamu tiup lilin dulu," Nenek membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala.


Aku mengangguk lalu menutup mataku untuk berdoa. Kepada Allah.


'Ya Allah, di usia ku yang sudah menginjak 26 tahun aku berharap kebahagiaan selalu mengalir dalam kehidupanku. Selesaikan masalah-masalah yang mengelilingi keluargaku dan Ya Allah jika Ayah dan Bunda masih berjodoh satu kan kembali, aku hanya ingin memiliki orang tua yang lengkap dan untuk Mas Ra—'


Cup....


Aku menghentikan doa saat satu kecupan mendarat dibibir ku dan mampu membuat kaki ku lemas. Dengan segera aku membuka mataku.


"Ma-s...?"


✨✨✨✨✨