Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Hidup baru (5 tahun kemudian)



Hidup itu berjalan. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang bahagia kadang juga sedih, kini aku hidup kembali dengan membawa sejuta teka-teki untuk mu dan untuk kalian.


*****


Disebuah rumah megah, seorang wanita cantik memakai gamis panjang berwarna navy senada dengan kerudung pasmina nya.


Wajahnya yang berseri-seri membuat siapa saja menyangka wanita itu sedang bahagia namun semuanya salah, wanita itu memendam luka yang tak akan bisa dijambarkan.


Naysilla Handoko, dokter spesialis kanker yang kini sedang sibuk-sibuknya mengurus kedua anak kembar yang sedang aktif.


Kedua anak kembar yang menghidupkan semangat Nay untuk bangkit dari keterpurukkannya saat Radit memilih untuk mentalaknya.


Melody Gabriella Handoko dan Reymond Gavin Mahendera. Kedua anak kembar berusia 4 tahun itu sekarang adalah fokus Nay selain pekerjaan yang padat dirumah sakit.


"Pagi mbak," sapa Tiara, wanita yang kini sedang hamil anak kedua itu mulai membantu Nay menyiapkan sarapan.


"Pagi Ra.... " balas Nay tak lupa dengan senyuman yang mengembang. " Faura tumben enggak ngintilin kamu Ra....."


"Tidur dia mbak, semalem dia bergadang sampe subuh sama Kak Fauzan," ujar Tiara.


"Fauzan jangan sering-sering bergadang Ra... Kamu taukan imun tubuhnya belum terlalu kuat buat lakuin hal yang Berat berat." tutur Nay, menasihati adiknya. Walau kanker itu sudah tidak bersarang lagi dikepala Fauzan tapi Nay tetap harus terus memawanti prihal kesehatan Fauzan kepada Tiara.


"Iyah, bu dokter," sahut Tiara.


"Ehk iyah, mbak soal Rayen udah ada kabar?" tanya Tiara.


Nay terdiam sebentar, dia juga tidak tau bagaimana kabar Rayen. Setelah 5 tahun yang lalu tepat dimana Radit mentalaknya, Rayen hilang begitu saja saat anak laki-laki itu sedang sekolah. Pihak sekolah mengatakan jika Rayen dijemput oleh pamannya namun tidak tau siapa itu.


"Mbak, belum tau dimana Rayen bahkan polisi pun menyerah," jawab Nay.


"Apa mbak enggak curiga sama Rama? Dia juga kan hampir nabrak Rayen waktu itu,"


"Mbak enggak mau beramsumsi,"


"Apa mbak masih mencintai mas Radit?" tanya Tiara membuat Nay menoleh menatap adiknya itu.


"Enggak," jawab Nay.


"Mulut berkata tidak tapi tatapan mbak yang enggak bohong,"


*****


Raditya Mahendra, namamu selalu ku sematkan dalam do'a disepertiga malamku. Kita mungkin bukan jodoh tapi aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku.


Nay menatap wajah putranya--Reymond Gavin Mahendera, anak laki-lakinya ini sangat mirip dengan Radit seperti pinang dibelah dua.


Mata, hidung, bibir, bentuk wajah, dan gaya bicara bahkan sikap pendiam serta anti sosial Radit turun kepada Reymond. Reymond akan bicara superlunya, bocah berusia 4 tahun itu sangat tidak suka diganggu bahkan saat saudari kembarnya mengajak dia bermain selalu akan menolak.


"Daddy..."


Tangan Nay mengusap pipi kemerahan milik Reymond, jiwa keibuannya selalu merasa sedih jika melihat anaknya sakit seperti ini.


Apalagi saat dia tidak bisa mengabulkan permintaan Reymond atau Melody ...... Bertemu Daddy-nya.


"Mom...." suara serak dan parau itu membuat Nay langsung bangkit dari rebahan nya.


"iyah, sayang. Reymond ingin apa? Biar Mommy ambilkan," ujar Nay, sejak semalam hingga pagi ini Nay tidak tidur karena menemani Reymond yang demam tinggi.


"Rey, ingin Daddy," lirih Reymond dengan suara serak dan paraunya.


Nay tersenyum lalu mengusap Ubun kepala Reymond. "Iyah, nanti kita ke kantornya Daddy, tapi kamu harus sembuh dulu okey?"



Reymond hanya mengangguk pelan.


Apa bisa Nay bertemu kembali dengan mantan suaminya itu.


Setelah 5 tahun tak ada kabar Nay harus kembali bertemu dengan Radit--laki-laki yang telah membuat dia terpuruk akan namanya cinta.


******


"Mommy,"


"Mommy, di dapur sayang," sahut Nay kepada anak perempuan nya.


Memiliki anak kembar yang mempunyai sifat dan watak serta tidak identik itu sangat sulit bagi Nay apalagi ketika salah satunya terluka maka yang satunya akan ikut merasakan.


Seperti kali ini Reymond yang demam panas dan yang manja adalah Melody. Apa-apa harus dikabulkan jika tidak; anak itu pasti akan menangis.


"Mom, Melody ingin ikut kak Faura." anak perempuan itu menarik ujung hijab Nay.


Nay merunduk kan tubuhnya agar sejajar dengan Melody. "Kamu mau pergi kemana? Bukannya kak Faura harus pergi berkemah ke hutan." ujar Nay mengusap pipi bulat anaknya.


"Tapi Mel... Ingin ikut," rengek Melody.


"Izinin aja Nay, dia perginya sama Ayah kok," ucap Wendy tiba-tiba datang dengan membawa tas Pink milik Melody.


"Yaudah, tapi kamu jangan bikin Opah susah ya... Ikutin kata Opah," ujar Nay kepada Melody.


"okey," Melody berlari keluar dengan langkah riangnya.


"kamu fokus sama Reymond aja Nay, biar ayah sama bunda yang asuh Melody. " Wendy mengusap Ubun kepala Nay dengan lembut tak lupa dia memberikan kecupan hangat kepada anak sulungnya.


Aku boleh gagal dalam berumah tangga namun aku tidak gagal untuk menjadi ibu dan seorang anak yang patuh kepada orang tua nya.


******