Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
12. Bab 12:Hanya Mimpi



Aku meraba kesamping tak menemukan apa yang ku cari dengan cepat aku membuka mataku namun tetap tidak.


Dengan cepat kilat aku mencari Mas Radit namun tidak ada. Dikamar mandi, balkon, ruang tengah, dapur dan dimana-mana pun enggak ada.


Apa semalam itu hanya mimpi tapi kenapa begitu nyata?


"Nay?" aku membalikkan tubuhku dengan cepat berharap itu Mas Radit dan semalam itu bukan mimpi namun aku salah besar itu suara Ayah yang baru saja keluar dari kamar tamu.


"Nay, Ayah mau ngomong," Ayah mencekal tanganku saat aku memutar arah menuju kamarku lagi. Aku masih tak menyangka jika itu semua mimpi, mimpi yang indah dan seperti nyata.


"Ini soal Radit," Ayah menghela nafasnya lalu melepaskan cekalan di tanganku.


"Radit memang sudah sembuh dan normal kembali tapi altar ego Radit tidak bisa disembuhkan,"


"Altar ego? Enggak mungkin Yah... Semalem Mas Radit biasa aja," pungkasku masih tak percaya jika Mas Radit memiliki keperbadian ganda.


"Semalem? Ya Allah Nay, Radit belum menginggat kamu masa iyah semalem Radit ke sini? Mimpi kamu!" Ayah tertawa kecil namun yang dikatakan Ayah mampu membuatku langsung mencelos.


"Radit tidak akan menyakiti orang yang dia sayang atau cinta namun Radiit akan langsung membunuh orang yang berniat menyakiti orang tersayangnya tanpa segan,"


Apa ini yang dikata kan mas Radit semalam, ingin menuntaskan sesuatu?


Maksudnya menuntaskan itu masalah keluarganya yang membuat dia terpuruk selama 5 tahun ini?


"Sudah Ayah hanya ingin mengatakan ini. Ah iya, nanti siang Radit akan ke rumah kanker ingin bekerja sama dan ya harusnya Ayah pergi tapi karena ada urusan jadi kamu aja yang pergi ya..." Aku hanya mengangguk kecil. Mungkin ini waktunya aku membuktikan bahwa Mas Radit benar-benar lupa denganku atau tidak.


Dan memastikan semalam itu benar mimpi atau nyata. Sesungguhnya aku berharap jika itu nyata namun aku terlalu berharap hingga membuatku jatuh.


________________


"Bu bos tau enggak pacar saya kerja disini juga sebagai suster," aku hanya berdehem membalas ucapan Fauzan.


"Calon mertua saya juga menjadi relawan di Rumah kanker ini. Kalau ibu mau tau namanya Bu Prita dan nama pacar saya Tiara," Aku menghentikan langkahku lalu memutar arahku menatap Fauzan dengan tatapan intimidasi.


"Ulangin ucapan kamu Zan..." pintaku namun Fauzan malah nyengir tak jelas.


"Calon mertua saya juga menjadi relawan di Rumah kanker ini. Kalau ibu mau tau namanya Bu Prita nama camer saya dan nama pacar saya Tiara," Fauzan tersenyum malu.


"Sudah berapa lama kamu berpacaran dengan dia?"


"Sudah hampir 5 bulan bu. Memangnya kenapa bu bos?"


"Antarkan saya bertemu mereka," Fauzan menautkan alisnya sebelum dia bertanya aku sudah memotongnya..


Aku dan Fauzan berjalan menyelunsuri rumah kanker ini apa ini yang dinamakan takdir tuhan tapi mengapa aku tidak dari dulu menyuruh Fauzan mencari Bunda dan Tiara. Aku harap yang dimaksud oleh Fauzan itu memang benar Bunda dan adikku jika memang benar aku akan berterima kasih kepada Fauzan karena ini. Ya walau dia sering aku kerjai atau jutekin dia tetap bertahan dengan sikapku.


✨✨✨✨✨


Bersambung.....


Si Tampan Radit dan Si Cantik Naysilla.