
Sebenarnya aku tidak percaya dengan ramalan itu namun saat mereka datang aku menjadi khawatir ramalan itu menjadi nyata. Aku takut jika salah satu ramalan itu terjadi.
******
"Terus Mom, bidadarinya bisa enggak mengurus kedua anak kembarnya?" tanya Melody.
Saat ini, Nay sedang menceritakan dongeng tidur untuk Melody. Karena Reymond kembali mengurung diri setelah bangun dari tidurnya. Tubuhnya lumayan sudah tidak demam lagi dan itu yang membuat Nay bisa membiarkan Reymond pergi ke kamarnya.
Melody memang sering tidur dengan Nay ketimbang tidur dikamarnya sendiri. Wendy memang menyediakan kamar Faura, Reymond dan Melody dengan terpisah namun letak kamarnya bersebelahan. Bekas kamar Rayen juga belum diubah sama sekali oleh Nay mau Wendy.
"Udah kita lanjut ceritanya besok aja, Mommy mengantuk. Kamu juga besok harus sekolah," Nay mengusap pipi bulat anak perempuannya. Melody memang sangat aktif berbeda dengan Reymond yang sangat pendiam bahkan untuk bertanya saja rasanya Reymond jarang.
"Mom,"
"Hmmm."
"Apa Gavin akan seperti itu?" Nay membuka matanya yang sudah terpejam. Dia menatap Melody dengan heran, Melody memang memanggil Reymond dengan panggilan Gavin karena katanya itu lebih mudah.
"Seperti itu? Maksudmu?" tanya Nay.
"Aku tidak pernah melihat Gavin keluar dari kamarnya bahkan dia tidak pernah mengizinkan siapapun masuk kedalam kamarnya, apa dia akan terus seperti itu?"
Nay terdiam sebentar mencerna pertanyaan anak perempuannya, dia juga bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Nay juga tidak tau sampai kapan anak laki-lakinya itu akan bersikap seperti kehilangan hidupnya.
Reymond berubah seperti itu, semenjak teman-teman bermainnya mengejek Reymond bahwa anak itu tidak mempunyai Ayah. Dan setelah itu banyak Ibu ibu kompleks yang mengatakan bahwa Reymond dan Melody adalah anak,haram.
******
Suara gesekan biola terdengar sangat merdu, tangan mungil itu sangat lincah menari diatas snar biola. Reymond selalu menghabiskan malamnya dengan bermain bola.
Tubuhnya masih sedikit lemas namun Reymond tetap menyalurkan rasa bosannya dengan bermain biola.
Netranya menatap foto yang terpajang diatas nakasnya. Reymond menatap bingkai foto ayahnya, dia tidak tau mengapa dia lebih senang diam dikamar menatap foto Ayahnya ketimbang main bersama anak-anak lain.
Reymond tidak sama seperti Melody yang bisa gampang akrab dengan siapapun.
Reymond itu introvert.
Tidak suka keramaian, tidak suka berinteraksi.
'Dad, kamu tampan. Aku menyayangimu,'
******
Pagi harinya sudah disibukkan mengurus Melody yang tiba-tiba rewel, padahal anak itu harus sekolah namun entah kenapa malah menangis terus tanpa sebab.
Seperti akan ada sesuatu saja.
"Cup..... Cup sayang, Mommy enggak akan pergi kok, sekarang kamu diam ya," buruk Nay menepuk-nepuk pantat Melody mencoba menenangkan anak perempuannya.
"Hiks.... Hiks.... Mom, Mel mau Daddy," isak Melody tiba-tiba menyebutkan Daddy nya. Melody jarang sekali membahas atau menanyakan prihal Radit tapi kenapa ini tiba-tiba?
Bahkan kemarin saja Reymond demam dan terus menanyakan Radit. Nay jadi sedikit khawatir prihal ramalannya Hani.
"Mel, enggak mau. Mel maunya Daddy," renggek Melody mengucek matanya terus menangis.
Prita dan Nay saling pandang, Melody jarang seperti ini tapi kenapa dia menjadi rewel tidak mau apa-apa.
"Sama opah aja yahh... Kita beli ice cream," buruk Wendy mengambil Melody dari gendong Nay berpindah kepadanya.
Melody mengeleng terus menangis tak hentinya, dia ingin apa-apa selain Daddy nya.
Suara derap langkah pelan membuat semuanya kontan menoleh, Reymond berjalan menunduk mendekat kearah saudari kembarnya.
Melody langsung ingin turun, dia menghampiri Reymond langsung memeluk saudara kembar yang mungkin jarang sekali ia ajak ngobrol.
Nay menghela nafasnya dengan lega,begitupun dengan Wendy dan Prita mereka sama-sama menghela nafasnya. Akhirnya Melody diam juga.
"Kamu kenapa?" tanya Reymond, kaku. Membuat Nay tersenyum. Persis seperti Radit. Batin Nay.
"Gavin, aku ingin Daddy. Aku mau Daddy," renggek Melody memeluk dengan erat Reymond. Memendamkan wajah nya dibahu Reymond.
Reymond membalas pelukannya dengan kaku juga dan itu lagi-lagi membuat Nay tersenyum, sendu. Kenapa harus semuanya harus turun kepada Reymond.
"Mau bermain? Kita bermain diluar,"tawar Reymond membuat Melody langsung mengangguk cepat menghapus jejak air matanya.
Reymond menuntun tangan Melody keluar dari rumah mereka akan bermain ditaman belakang.
Nay menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dia mengusap wajahnya dengan kasar, apa dia gagal menjadi seorang ibu?
"Kamu istirahat gih, Melody mumpung anteng," titah Wendy.
"Enggak Yah.... Nay pengen disini aja," tolak Nay.
Suara kebisingan diluar membuat Nay langsung berdiri. Wendy dan Prita yang hendak pergi ke kamar mereka langsung memutar arah.Fauzan dan Tiara menuruni tangga dengan terbesar.
"Bun, Yah, mbak. Diluar ada Rama sama Winda."
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak.