
Nay memasuki rumahnya dengan tergesa. Wanita itu tak peduli lagi jika gamis nya sudah kotor akibat lari.
Nay mendapat kan kabar dari ayah jika Radit unfal.
Perempuan sangat-sangat khawatir karna tadi saat dia pergi Radit masih baik-baik saja tidak ada yang aneh tapi kenapa suaminya itu tiba-tiba unfal.
"Mas Radit dimana, Yah?,"tanya Nay kepada Wendy yang sedang berdiri didepan kamarnya.
"Ada didalem lagi dokter periksa. Kita ngobrol dulu di sana Nay mumpung Ayah lagi free," Nay hanya mengangguk lalu mengikuti Wendy Nay berjalan berjalan sembari sesekali menyibakkan rok gamisnya yang terkena lumpur.
Dan disini lahl Wendy dan Nay berada disebuah ruangan bernuansa hitam abu-abu. Dulu saat Prita belum kembali Wendy selalu menghabiskan waktunya diruangan ini. Ruang kerja milik Ayahnya ini memang jarang Nay masukin bahkan baru kali ini dia masuk.
"Radit unfal karena terlalu strees dan banyak pikiran. Kamu tau kan jika itu dapat memicu Radit kembali ke Gila?
Ayah tau jika masalah kalian berat sekali namun Ayah mohon jangan membuat bawa strees terutama kamu, kamu sedang mengandung," Nay hanya merunduk lalu mengusap perut rata yang sebentar lagi akan membuncit.
Benar kata Ayahnya namun Nay terlalu kecewa untuk ini. Kenapa bisa-bisanya Radit melakukan itu dibelakang Nay tapi tak sempatnya juga Nay menyalahkan itu semua kepada Radit karena dia tau jika itu semua godaan setan.
"Ma__af Yah... Tapi benar-benar Nay kecewa sama Mas Radit," lirih Nay dan Wendy hanya menghelas nafasnya lalu mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Ayah tau tapi sekali lagi ayah ingatkan jangan dibawa strees," Nay hanya mengangguk sebagai jawaban. "Ya sudah sana liat suami mu dia seperti gila beneran saat tau kamu enggak ada dirumah,"
"Iya, Yah..."
_____***_____
Setelah menganti baju Nay langsung naik keatas ranjang duduk disebelah suaminya yang masih tertidur karena efek obat yang di minum.
Tangan Nay mengusap rahang tegas suaminya. Hampir saja Nay membuat suaminya kembali ke semula. Radit memang sudah sembuh namun dia bisa saja kembali ke semula jika membuat Radit strees berat.
"Maaf Mas...." lirih Nay.
"Eugghh.."
Tidur Radit mungkin terusik karena sentuhan lembut Nay dikepalanya. Kedua mata itu terbuka dengan pelan lalu mengerjap beberapa kali.
Nay yang melihat itu hanya tersenyum. Perempuan itu menginggat kembali saat dia baru pertama bertemu Radit, suaminya itu langsung memeluk dia karena bahagia, katanya. Tingkahnya yang seperti anak kecil membuat Nay iba dan kasihaan saat itu namun lama kelaman rasa itu berubah.
"Nay?" Radit langsung melingkarkan tangannya diperut ramping Nay dengan erat.
Nay yang mengerti langsung mengusap rambut suaminya dengan lembut. "Nay minta maaf, Mas... Tadi Nay malah pergi bukan selesaiin masalah kita secara dingin,"
"Enggak, seharusnya saya yang minta maaf karena membuat kamu kecewa tapi demi Allah saya tidak melakukan itu. Saya saja kaget saat mengetahui dia hamil mengaku bahwa itu darah daging saya,"
"Tapi dia udah bawa hasilnya dan itu menunjukkan positif. Ranti juga udah liatin foto itu dari postur tubuhnya itu kamu mas..."
Radit mendongkak menatap wajah Nay. "Saya harus apa agar kamu percaya?" tanya Radit.
Nay terdiam belum menjawab Radit namun tangan perempuan itu terus mengusap kepala Radit. Memikirkan apa yang harus suaminya lakukan agar dia percaya.
"Nay kasih waktu sampai 3 minggu kedepan tepat dimana pesta ulangtahun Tiara, mas harus cari bukti itu jika tidak menemukan juga ya sudah,"
"Nay ihkk... Jangan ngomong gitu,"
"Ya abisnya mas tau kan Nay orangnya gimana,"
Rasanya Nay ingin tertawa saat melihat suaminya merengek karena ucapannya. Radit semakin mengeratkan pelukannya diperut Nay.
B E R S A M B U N G . . . . . .