Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
25. Bab 25: Sebuah Penyesalan



Nay meremas tangan Radit saat tatapan Cahya—kakak Radit tertuju kepada mereka, tatapan yang sulit diartikan dan sulit terbaca.


Namun yang membuat Nay melongo adalah Rama, Cahya, dan Dini serempak tiba-tiba bersujud dibawah kaki Radit dan Nay.


Sama hal nya dengan Nay, Radit juga kageti melihat itu begitupun dengan Prita dan Wendy.


"Ma-af Dit.. gara-gara gue, Rama dan Dini hidup lo menderita, maaf. Karena gue udah dibutain sama iri dan harta sampai-sampai tega lakuin itu sama lo,"


Radit hanya bergeming ditempat sedangkan Nay terus mengeratkan tautan tanganya karena merasa takut dan khawatir jika mereka bertiga menyakiti suaminya lagi.


"Gue nyesel Dit... plis... Maafin, Gue capek karena terus dihantui sama penyesalan,"


Mereka betiga menangis?


Rasanya Radit ingin tertawa karena baru kali ini dia melihat kedua kakak dan adiknya terpuruk seperti ini apalagi saat ini mereka menangis hanya karena ingin mendapatkan maaf dari dirinya.


"Kalian berdiri dulu, Radit masih mempunyai hati untuk ini. Percaya saja Radit akan memaafkan kalian, mungkin," sarkas Wendy.


Mereka bertiga hanya menurut saja karena ingin mendapatkan maaf dari Radit.


Suasana tiba-tiba hening tak ada yang mengeluarkan suara atau apapun. Rama, Cahya dan Dini hanya merunduk.


Radit membenarkan posisi duduknya begitupun dengan Nay, Perempuan itu seperti tidak mau lepas dari suaminya.


Radit merangkul pinggang Nay dengan possesive tangan satunya mengusap tangan Nay mencoba meyakini istrinya ini, "Jujur saya sudah melupakan itu. Saya juga sudah tidak mau mengungkitnya lagi. Prihal surat itu bukan saya atau Ayah yang pengajukan itu namun Istri saya ini jadi semua keputusan ada ditangan istri saya," ucap Radit formal dan penuh wibawa hingga tanpa sadar membuat Wendy mengulum senyumnya.


Nay menautkan alisnya dia tidak mengerti surat itu apa namun dia hanya mengikuti alurnya saja.


"Rasa sesal memang selalu datang diahkir. Sebuah penyelasan memang selalu di sadari saat kita benar-benar kehilangannya atau saat kita sudah melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Saya pernah merasakan sebuah penyesalan yang teramat dalam. Kata maaf memang mudah terucap namun untuk melupakan rasa sangat sulit. Jika seandanya Mas Radit memang sudah memaafkan setiap kejadian yang terjadi namun apakah melupakan akan segampang memaafkan?


Mungkin untuk Mas Radit 'Iyah' namun untuk saya akan sulit," Nay menjeda ucapannya karena menghirup oksigen dulu.


"Saya belum bisa melupakan semuanya apalagi saat kalian dengan teganya bermain hal musyrik tanpa memikirkan bagaimana imbas atau sakitnya. Kalian pernah berpikir bagaimana menderitanya Mas Radit saat kalian dengan enaknya membuat Mas Radit sakit sampai harus mengeluarkan darah atau sampai harus keluar masuk rumah sakit karena siksaan kalian?


Memang dulu saya tidak percaya dengan itu namun saat Ayah mengatakan pelakunya siapa dan saya sudah melihat langsung bagaimana kejam kemusyrikkan itu bahkan entah kenapa semakim di lawan semakin membuat Mas Radit kesakitan dan hampir kehilangan nyawanya," ujarnya mencoba mengumpulkan pazzle-pazzle itu. Ingatan sudah terkumpul semua saat dimana suaminya kesakitan karena guna-guna itu.


Hatinya tiba-tiba berdenyut karena menginggat itu pelopak matanya pun sudah berumbun karena ingin menangis namun Nau menahannya dengan sekuat tenaga.


Radit mengecup puncuk kepala Nay dengan lembut memberikan ketenangan dan meredam emosi Nay, "Tenang," bisik Radit tepat di telinga Nay lalu memeluk istrinya menyandarkan kepala Nay dibahunya dan detik itu juga tangis perempuan yang begitu sabar dengan dirinya itu pecah.


" Don't burden your mind just because of this. I don't want you to get sick because of this," Bisik Radit lalu mencium keninh Nay cukup lama.


Semuanya hanya diam menatap Nay dan Radit. Pasangan yang sempurna untuk saling melengkapi serta menyempurna kan satu sama lain.


✨✨✨✨✨


Bersambung……