
"Sayang," Fauzan memeluk seorang wanita berpakaian suster. Namun yang membuatku membulatkan mata adalah saat Fauzan mencium puncuk kepala wanita itu.
"Tumben kesini biasanya kamu dateng ke rumah," suara itu. Suara yang sangat aku kenal, suara Tiara—adikku.
"Lagi ada mieting disini dan juga nemenin bos ku," Aku hanya bisa memandang mereka. Apalagi saat mereka beberapa kali menunjukkan keromantisan mereka membuatku semakim gendek. Tidak tau apa ya aku lagi berada difase LDR jauh. Jauh banget.
"Zann..." Mendengar suara ku mereka langsung melepaskan pelukkan itu lalu memutar arah mereka berdua serempak.
"Nah bu—"
"Mbakkk!!" pekik Tiara dengan lantang saat melihatku membuat Fauzan langsung menatap kami bergantian.
"Eh mau kemana kamu? Ikut mbak jelasin sejelas-jelasnya,"Aku menarik tangan Tiara menjauh dari Fauzan.
"Bu, pacar saya mau dibawa kemana?" teriak Fauzan dari belakang sana.
"Ini urusan kakak adek kamu diem aja!" balasku.
______________
"Jelasin!" cetus ku namun Tiara hanya diam.
"Tiara mbak mohon jelasin semuanya," Tiara memejamkan matanya lalu detik berikutnya dia menangis dan aku hanya langsung memeluknya.
"Hiks... Mbak, Aku enggak tau gimana jelasin tapi yang jelas aku udah tau gimana jadi anak yang engga diingin kan bahkan Ayah sendiri pun enggak percaya kalau aku anaknya," isak Tiara. Aku tak menyangka jika Ayah masih mengira jika Bunda pergi karena memilih pria yang lebih kaya dan Ayah juga tidak percaya bahwa Tiara anak nya juga.
Ayah memiliki koneksi dan bisa saja Ayah mencari tau tentang kehidupan Bunda di masalalu tapi Ayah terlalu sibuk dengan mencari materi hingga lupa mencari keluarga dan kebahagiaannya.
Aku melepaskan pelukkan ku lalu menangkupkan wajah mungil Tiara menghapus air matanya.
"Ayah memang begitu, keras. Tapi percayain semua ke mbak,"
"Tap—"
"Ya, ada apa?" tanya Tiara.
""Saya mencari ibu Silla," aku membalikkan arah dan benar saja dugaanku pria sinting ini lagi. Mengapa aku selalu bertemu dengan Mas Bayu.
"Ra, ayo pergi," aku menarik tangan Tiara menjauh dari sana.
"Silla aku enggak akan lepasin kamu gitu aja," teriak Mas Bayu.
"Mbak itu—"
"Syuttttt... Dia cuman orang sinting,"
Ini sudah kesekian kali nya mas Bayu mengangguku setelah dia tau jika suamiku, Mas Radit sedang berada di Jerman untuk pengobatan dia selalu mengangguku dia juga selalu mengirimkan aku buket bunga. Orang sintingkan?
"Mbak... Mbak, itu suami mbak?" aku memberhentikan langkahku saat mendengar itu.
"Mana?"
"Giliran suami langsung berhenti dari tadi aku nyuruh berhenti malah ditarik terus kaya anak ayam kabur aja," Tiara menghapus jejak air matanya yang masih tersisa dengan kasar.
"Ish! Kamu nih, mbak tuh lagi delima tau," aku merunduk lesu karena itu padahal niatku kesini untuk bertemu dengan Mas Radit.
"Maaf mbak kalau malah buat mbak Sedih tapi aku mau koreksi sedikit kata delima itu ganti dilema ya?" aku hanya tersenyum lalu.merangkul bahu Tiara. Biarlah untuk saat ini aku melupakan masalah rumah tanggaku sejenak tapi apa sejenak ini tidak ada ujungnya?
Aku selalu berdoa setiap sholat ku bahkan sholat sepertiga malamku agar segera diperbaiki rumah tanggaku apa tidak akan selesai-selesai?
Jika Allah memang menakdirkan aku bahagia semoga hari itu datang saat Bunda, Tiara, Ayah dan Mas Radit ada disisiku dan juga semkga semua masalah cepat berahkir.
✨✨✨✨✨
Bersambung....