Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
45. Bab 45: Bahagia yang sesungguhnya



A U T H O R P O V


____***____


"Nah gitu mas... Nay juga minta maaf ya waktu itu udah nampar kamu, cuekin kamu, bahkan aku udah hampir buat kamu drop,"


Nay mengusap rahang suaminya dengan lembut lalu tangan satunya merapikan rambut Radit.


"Harusnya saya yang menyelesaikan masalah ini," Radit mencium kening istrinya dengan lama.


"Mas, Tau kan Nay lakuin ini juga bukan hanya untuk kebaikkan rumah tangga kita tapi juga untuk kebahagian Tiara, Tiara itu adik Nay satu-satunya," ujar Nay.


Nay berjinjit kedua tanganya sudah mengalung ditengkuk leher sang suami. Perempuan itu memiringkan kepalanya mencium bibir Radit dengan lembut.


Radit yang mendapatkan itu langsung menutup matanya menikmati ciuman Nay.


"Ekhemm... Ini tempat umum," suara deheman seseorang mampu menghentikan adegan panas itu.


Nay langsung memendamkan wajahnya didada bidang Radit merasa malu karena terpergok.


"Winda, Ganggu aja," cetus Radit membuat Winda langsung tertawa renyah.


Nay yang mendengar nama Winda langsung menoleh kearah wanita bercadar itu.


"Winda? Kapan kesini?"tanya Nay mencoba menetralkan degupan jantungnya.


"Baru aja datang Mbak, Aku kesini mau kasih undangan pernikahaan aku sama Mas Rama," Winda menyondorkan undangan cantik kearah Nay.


Nay mengambil undangan itu. "Rama?"


"Hhmmm, kakaknya Bang Radit yang nomor dua,"


Nay menoleh kearah Radit yang masih nampak tenang dan santai mendengar nama kakaknya akan menikah.


"Datang ya mbak, Bang Radit Winda mohon datang ya," Radit hanya mengangguk kecil membuat senyum Winda merekah.


"Makasih, kalau gitu Winda mau pamit dulu sama pengantin nya," ucap Winda.


"Ini beneran?" tanya Nay kepada Radit saat Winda sudah pergi.


"Apanya?"


"Kamu beneran mau datang? Inikan pernikahannya Rama?"


"Beneran sayang... Asal ada kamu saya pasti baik-baik saja. Mereka sudah berubah,"


Nay hanya manggut-manggut saja karena merasa tak yakin. Dia takut jika hal buruk terjadi kepada suaminya jika datang ke pesta itu apalagi disana banyak keluarga Radit.


____***____


Tiara cukup mengerti saat mendengat cerita dari Fauzan tadi dan wanita berjanji apapun yang terjadi dia akan tetap menemani Fauzan. Seperti janji yang pernah Nay katakan kepada Allah bahwa akan selalu menerima apa adanya kepada bukan ada apanya.


Tiara menautkan alisnya saat melihat Fauzan memijat pangkal hidungnya. "Kak Fau..."


Fauzan menoleh lalu tersenyum. Bukan senyum jail atau tengil yang biasa pria itu perlihatkan namum seulas sanyum menenangkan.


"Aku enggak pa-pa cuman pening dikit aja,"


"Tapi wajah kakak pucet banget,"


"Mungkin cuman capek doang,"


"Ya udah istirahat dikamar Ara aja yuk,"


Fauzan hanya mengangguk lalu berdiri diikuti Tiara yang sigap membantu Fauzan.


Pengantin baru itu berjalan berdampingan menuju kamar Tiara.


"Enggak sabaran kali ya?" tanya Nay kepada Radit diringi kekehan.


"Hmmm, Ikutin yuk,"


"Ngapain, enggak ada kerjaan ngintipin mereka,"


Radit menjitak gemas kepala istrinya. "Maksudnya ke kamar yuk,"


"Ngapain?"


"Saya udah puasa 3 minggu lebih loh Nay,"


Nay terkekeh saat mendengar itu wajah suaminya tampak lucu saat menahan kesalnya.


"Enga— mass... turunin malu ihk,"pekik Nay saat Radit tiba-tiba mengendongnya ala bridal style.


"Tidak, saya harus menghukum kamu,"


Nay hanya tertawa saat mendengar itu. Dia bahagia kali ini karena semua masalah tentang rumah tangganya sudah selesai. Inilah bahagia yang sesungguhnya, bahagia bisa dikelilingi dengan orang yanh Nay sayangi.


It's not hard to be happy karena sejatinya melihat orang yang kita sayang bahagia kita akan ikut bahagia.


*


B E R S A M B U N G . . . .