
Radit memandang wajah sembab istrinya dengan lamat. Nay sudah menangis berjam-jam karena masalah tadi perempuan itu tetap keukeh tidak ingin mendatangani surat itu. Benar kata Ayah mertuanya jika Nay—istrinya ini tidak akan gegabah mengambil segala keputusan jika tidak memikirkannya dengan matang.
Mungkin Nay benar jika melupakan tidak semudah memaafkan buktinya sampai sekarang kejadian-kejadian itu masih membekas dibenaknya.
Radit tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sabarnya Nay mengurusi dia yang saat itu masih keadaan jauh dari kata normal atau Gila. Nay bisa membagi waktu mengurus perusahaan, dirumah sakit, mengurus dirinya dan rumah.
Lelah mungkin 'iyah namun Nay tidak pernah menyerah.
Radit ingat saat keadaannya mulai pulih Nay sempat mengatakan bahwa masih mencintai Bayu namun saat dirinya mengatakan kata-kata itu terlihat jelas jika Nay sangat menyesal.
"Saya beruntung memiliki kamu, Nay.
Kamu adalah penyemangat saya, saya tidak tau bagaimana jadinya jika kamu tidak ada Nay. Mungkin saya sudah terbuang dirumah sakit jiwa dan juga saya tidak mungkin bisa seperti ini," Radit mengusap pipi Nay dengan lembut tak ingin menganggu tidur pulas istrinya ini.
"Kamu tau saat kita terjebak didalam toilet saat itu juga saya sudah jatuh cinta sama kamu, Nay,"
"***Pengep banget disini pengen keluar tapi perampoknya belum keluar. Kamu punya ide enggak aku pengen keluar dari sini," keluhnya terus menerus mengintip keadaan diluar.
Radit saat itu hanya diam tak membalas atau pun mengidahkan keluhan wanita yang ada dihadapannya tapi diam-diam dia mengangumi kecantikkan wanita ini.
"Isshh.... malah diem aja, ngomong dong garing banger tau," cetusnya menatap Radit dengan galak.
"Kalau diem aja berarti—"
Dorr....
"AYAH!!!" teriaknya dengan refleks memeluk Radit karena kaget suara tembakkan itu.
"Bisa lepas? bukan mahrom," Radit sebenarnya ingin lebih lama seperti ini namun pria itu ingat dia dan perempuan ini bukan mahrom.
"Ehh maaf aku tuh kaget jadi refleks," dia hanya nyengir kuda lalu membenarkan kembali posisinya.
"hmm,"
"Ck! pelit banget ngomong,"decaknya.
"Mungkin kamu tidak akan mengingat tapi saya selalu menginggatnya karena bagi saya itu singkat namun terkesan," Radit menyelipkan anak rambut Nay yang menghalangi wajah cantik Nay.
"Kamu tau cinta itu selalu datang tanpa kita sadari. Saya sudah mencari tau siapa kamu sebenarnya namun saat saya tau kamu adalah kekasih dari putra tunggal Leksmana itu yang membuat saya mundur kembali namun tiba-tiba Ayah kamu datang saat saya sedang terpuruk dan keadaan saya sudah benar-benar down saat itu juga." Radit menjeda ucapanya menghirup oksigen karena merasakan sesak saat mengingat kembali masa lalu nya.
"Sampai saat ini saya masih tidak menyangka jika sekarang milik saya. Kamu dan Bayu saat itu sedang baik-baik saja namun kareka kehadiran saya kalian menjadi berahkir, Terima kasih telah hadir dihidup saya," Radit mengecup kening, mata, hidung, pipi dan terahkir bibir ranum yang selalu membuat dia candu.
"Kamu yang terbaik,"
____***____
"Bunda..." Tiara mengedarkan pandangannya dikamar yang ditempati oleh Prita namun Bundanya itu tidak ada.
"Hahahahahaha...." Langkah Tiara terhenti didepan pintu bercat hitam. Itu suara Bundanya namun kenapa ada dikamar ini.
Dengan perlahan Tiara menempelkan telinganya di pintu.
"Udah ahk capek," ucap Prita membuat pikiran Tiara melayang kemana-mana.
"Kamu tau Mas selalu rindu saat berdua seperti ini,"
"Iyah, andai dulu aku enggak pergi kita enggak mungkin ada problem dan anak enggak akan jadi korbannya,"
"Lanjutin ya?"
"Hmm.."
Tiara menutup mulutnya saat mendengar suara yang pernah ia dengar di film dewasa. Suara erangan dan suara decitan ranjang yang perempuan itu dengar saat ini.
'Mbak!!! Ara enggak mau punya adik lagi,' batin Tiara lalu berlari kearah kamar Nay dan Radit.
✨✨✨✨✨
Bersambung.....