
"Tiara. Tiara tunggu," aku menyamakan jalanku dengan Tiara. Perempuan ini lah satu-satu nya yang bisa membuatku bertemu dengan Bunda. Aku yakin jika Tiara sangat mirip dengan Bunda.
Hari ini aku sudah mulai bertugas dan aku memutuskan untuk langsung mencari tahu tentang Bunda dari Tiara.
"Eh, iyah Dok ada apa?" Tiara memang benar sangat mirip dengan Bunda.
"Jangan panggil saya Dok, panggil saya Mbak atau Nay saja," Dirumah sakit ini orang-orang memanggilku Silla karena Nay adalah panggilan kesayang keluargaku.
"Baik, memang ada apa ya mbak manggil saya?"
"Saya hanya ingin menanyakan prihal ini," Aku menyondorkan salah satu foto Bunda kapada Tiara.
Raut wajah Tiara langsung berseri dan detik kemudian dia malah tertawa.
"Lohk ini kok Foto Bunda aku ada di mbak?" feeling ku memang benar jika Tiara anak Bunda dan mungkin dia adalah adikku. Dari cara ngomong dan tingkah sangat mirip dengan Ayah.
"Boleh saya bertemu dengan beliau?" Tiara mengangguk setuju.
"Boleh, nanti pulang tugas aku ajak mbak ketemu Bunda ya,"
________________
Rasa gugup mendera diriku. Saat ini aku sudah berada di lobby Apartemen milik Tiara. Seperti yang sudah dijanji kan Tiara mengajakku untuk bertemu Bunda.
"Mbak Ayo," Aku mengangguk lalu mengeratkan jaket milik Mas Radit yang sedang ku pakai saat ini.
Apartemen Tiara besar, bersih dan nyaman.
Tiara menyuruhku duduk disofa panjang sedangkan dia pamit untuk menganti bajunya.
"Bunda ada tamu nih... Katanya mau ketemu sama Bunda," Tiara menyimpan Tas nya sembarang lalu masuk ke dalam kamar bertulisan namanya. Dan yang membuatku menautkan alisku adalah disisi kamar Tiara ada namaku 'Naysilla.
Apa Bunda mengenaliku?
Apa Bunda akan tau aku anak nya juga?
Atau mungkin malah—
"Lohk ada Tamu?" suara lembut dan hangat itu dari arah pintu depan membuatku langsung berdiri dan memutarkan tubuhku seratus delapan puluh derajat.
Sejenak tatapan kami bertemu. Rasa gugup dan kalut ku semakin mendera saat beliau malah meneteskan air matanya dan menjatuhkan kantung kresek belanjaannya.
Aku merunduk dan memainkan ujung jariku karena gugup dan kalut apalagi saat langkah kaki Bunda semakin dekat.
"Ka–mu..." beliau menarik kedalam pelukkan nya.
"Kamu Naysilla? Yaallah Bunda enggak nyangka bisa ketemu kamu sedekat ini," Aku membalas pelukan Bunda. Ternyata Bunda mengenaliku, Bunda terisak begitupun aku.
"Bunda kenal Nay?" tanyaku melepaskan pelukan lalu mengusap air mataku.
"Jangankan Bunda, aku aja kenal sama Mbak. Mbak itu kakakku," ucap Tiara tiba-tiba datang dia sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai.
"Kok kamu enggak pernah bilang?"
"Bunda yang minta. Bunda enggak mau kalau kita Tiara bilang dia adalah adik kamu kita malah makin susah untuk melihat kamu," aku cukup mengerti dengan yang diucapkan Bunda mungkin jika saat ini Ayah tau dia akan menutup aksesku kembali untuk sekedar bertemu Bunda.
Aku mengusap jejak air mata Bunda yang masih tersisa. "Maaf Bun... Nay baru kali ini mencari Bunda,"
"Nothing sayang. Harusnya Bunda yang minta karena telah meninggal kan kamu dan.... Ayahmu," Bunda mengusap rambutku dengan lembut.
"Enggak adil ihk," celetuk Tiara membuatku dan Bunda langsung mengalihkan pandangan ke arah Tiara.
"Why sayang?" tanya Bunda.
Tiara mendudukkan dirinya disofa begitu pun aku mendudukkan diri disisi Tiara.
"Kenapa harus mbak yang lahir duluan kenapa enggak aku aja," wajah Tiara dibuat-buat kesal namun aku dan Bunda hanya saling pandang.
"Memang kenapa?"
"Tau enggak mbak, Bunda itu galak, cerewet, kalau aku deket sama cowok pasti di langsung introgasi cowok itu dengan galak, terus—"
"Terus apa?"potong Bunda dengan berkacak pinggang.
"Enggak hehehe..." Tiara cengegesan tak jelas dan aku hanya tersenyum.
"Tapi dibalik galak dan cerewetnya Bunda pasti sisi penyayangnya selalu muncul kalau udah marahin kamunya. Kalau mbak jadi kamu mbak mending tinggal sama Bunda dari apa sama Ayah,"
"Memangnya kenapa? Kata Bunda, Ayah itu baik, penyayang, pengertian, dan peka."
"Ayah itu possesive, gila kerja, sekalinya dibuat perintah enggak akan pernah bisa dibantah, peka? Iyah sih tapi dia enggak pernah ada waktu buat mbak," bukannya aku menjelekkan Ayah namun memang begitu lahk Ayah enggak pernah luangkan waktu buat aku.
"Masa sih?" aku mengangguk menjawab pertanyaan Tiara.
"Jadi ngeri dong yah.." Tiara mengidikkan bahunya aku dan Bunda hanya terkekeh.
✨✨✨✨✨✨
Fyi~ Sorry kalau makin lama makin enggak nyambung.
Otakku belum sampai bisa banyak komplik apalagi sedih dan lucu belum ini. Maklum lahk pemula.