
Tambah satu lagi
"Tidak ada wanita di belakang seorang pria hebat. Wanita itu ada di sampingnya. Ia ada bersamanya, bukan di belakangnya." (Tariq Ramadan)
****
Nay langsung membuka matanya ketika merasakan sebuah pelukan ditubuh nya. Dia melihat Rayen, Reymond dan Melody memeluk Nay dengan erat.
Senyuman bahagia mengembang dibibir Nay saat ini dia merasa bahagia karena adanya keempat anaknya.
"Mommy, are you okey?" tanya Melody mendongkak menatap wajah ibunya.
"Hmm. Mommy okey, kalian udah makan?" tanya Nay mengusap satu persatu puncak kepala ketiga anaknya.
"Udah, Mommy udah makan? Ehh, Mommy kan dari kemaren belum makan," ucap Rayen mengubah posisinya menjadi duduk disisi Melody.
"Udah kok sayang, tenang aja Mommy udah makan," ucap Nay menenangkan Rayen.
"Mom, Rey seneng karena bisa kumpul sama Mommy, bang Ray terus sama Daddy,"bisik Reymond tepat ditelinga Nay. Tangan mungilnya tetap melingkar memeluk Nay.
"Mommy, juga seneng karena bisa liat senyumnya Rey," goda Nay mengusap puncak kepala Reymond.
"Daddy nya enggak dipeluk juga," suara Radit membuat semuanya langsung menoleh.
Radit datang dengan nada yang ada digendongan nya. Dia segera bergabung bersama yang lain.
"Nada, sini sayang," Nay menrentangkan tangannya mengangkat tubuh Nada agar duduk sisinya.
"Daddy sama Mommy tadi kok lama banget," celetuk Melody.
"Lama? Enggak deh tadi cuman 60 menit doang," ucap Radit bergabung bersama anak-anak dan istrinya.
Melody mengerucut kan bibirnya dengan kesal. Kenapa semua laki-laki menyebalkan, tidak kedua kakak tidak Daddy semuanya sama-sama menyebalkan.
Nay tersenyum bahagia saat melihat semua keempat anaknya bisa tertawa lepas dengan kehadiran Radit. Apalagi Reymond yang sadari dulu sudah sangat pendiam sekarang bisa tertawa lepas.
'Tuhan itu adil, dia tidak pernah membuat hamba nya kecewa dengan janji yang pernah terucap, mungkin dulu Aku kurang bersyukur dengan kebahagiaan hingga Tuhan mengambilnya untuk beberapa saat cobaan datang silih berganti,'
****
Nay mengerjapkan matanya beberapa kali dengan pelan. Tatapan tak terbaca ia lemparkan kearah langit-langit kamarnya. Ingatan nya kembali ke beberapa menit ahk bukan satu jam lalu.
Namun beberapa saat kemudian senyum Nay mengembang dengan sempurna. Apa ini mimpi? Atau khayalan?
Nay emm ... Dan Radit baru saja melakukan hubungan suami istri lagi setelah lima tahun belakangan ini mereka terpisah.
Lagi pula mereka belum bercerai secara agama. Karena pada kenyataannya yang mengirim surat perpisahan itu bukan Radit namun Reka dan Veronika. Walau mereka resmi bercerai dinegara namun mereka belum agama jadi apa bebas melakukan hubungan suami istri?
Nay memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Radit yang sudah tertidur pulas. Wajah damai Radit mengingat Nay kenangan beberapa tahun lalu. Nay rindu Radit seperti ini.
Tangan Nay menarik selimut agar lebih menutupi tubuh mereka yang sama-sama masih tak memakai sehelai benang pun, hingga sebatas leher Nay menutup dirinya dan Radit.
Walaupun agak kesulitan untuk bergerak karena tangan Radit yang melingkar dipinggang nya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari namun Nay masih membuka matanya walau tubuhnya agak sedikit lelah namun hati dan pikirannya belum cukup lelah. Mungkin bahagia.
Kedua tangan Nay terangkat mengusap bagian inti wajah tenang dan damai milik Radit. Mulai dari alis, mata, hidung, rahang tegas Radit dan terakhir Nay memainkan jarinya dibibir suaminya.
"Nay enggak bisa tidur lagi Mas,"
"Kamu belum berdoa,"
"udah, tapi tetep aja enggak bisa tidur,"
Radit membenarkan letak tidurnya. "Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"kamu kenapa? Ada yang mengajal hati kamu?"
"Enggak ada,"
"Lalu?"
Nay mengigit daging bibir bawahnya dengan gemas. Dia malu jika harus jujur. Masa iya dia sulit tidur karena rasa bahagia yang menjalar dihatinya.
"Jangan digigit seperti itu Nay nanti terluka," ibu jari Radit melepaskan gigitan bibir bawah Nay.
"Mas,"
"Hmm?"
"Nay bahagia bisa seperti ini lagi,"
"Melakukan itu?"
Nay melotot dia tau apa yang Itu yang dimaksud oleh Radit. Dengan gemas Nay mencubit lengan Radit.
"Bukan itu. Nay bahagia bisa bersama mas lagi, bukan melakukan itu,"
Radit tertawa kecil telapak tangannya mengusap puncak kepala Nay. Radit tertawa hingga membuat Lesung di pipi kanannya.
Tanpa sadar Nay ikutan tertawa. Seakan menular tawa Radit kepada Nay mereka sama-sama tertawa kecil. Entah apa yang mereka tawakan.
Radit mengubah posisinya. Siku nya bertumpu agar tidak terlalu menindih tubuh Nay. Sekarang posisi nya, berada diatas tubuh Nay.
"Mas,"
Nay meremas sprai tidur nya. Nay tiba-tiba gugup.
"Hmm?" Radit membelai pipi Nay dengan lembut membuat tubuh Nay meremang.
"Mau ngapain?"
"melakukan itu."
"Mas .... Umur kita udah enggak muda lagi loh, udah kepala tiga,"
"lalu? Takut kamu hamil lagi? Padahal saya ingin memiliki satu anak laki-laki lagi,"
"Mas ..... "
Tanpa mendengarkan lagi protesan Nay. Radit mematikan lampu dengan cepat.
****