Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Ramalan dan Rayen



Laki-laki itu unik, dia sendiri bilang kalau dia enggak suka lihat perempuan nangis tapi dia sendiri yang suka bikin perempuan nangis tanpa sebab.


*******


"Ayo mbak, cepet." Tiara menarik tangan Nay. Hari ini Tiara kedatangan teman lamanya yang katanya teman Tiara itu bisa meramal, konyol bukan.


Tiara ingin tau ramalan masa depan kakaknya, walau Tiara sendiri tidak begitu mempercayai prihal ramalan itu karena sejatinya semua takdir umat manusia hanya Allah yang tau dan hanya Allah yang bisa mengaturnya.


"Apaan sih Ra... Mbak enggak mau, musyrik tau percaya sama yang kaya begituan," Nay terus meronta agar Tiara melepaskan tangannya. Sungguh Nay tidak mau diramal atau apa lah itu.


"Mbak ayo, ini cuman sebentar."


"Ra... Mbak enggak mau,"


"Ayolah mbak, ini kemauan baby nya Ara, Ara lagi ngidam,"


Jika sudah membahas ngidam Nay hanya bisa pasrah saja apalagi Tiara dulu yang menemani hari-harinya saat hamil muda.


Tiara tersenyum puas karena berhasil membujuk kakaknya. Nay tidak akan menolak jika iming-iming ngidam.


"Nah sekarang mbak duduk disini. Han, aku mau kamu ramal kakak," ucap Tiara kepada temannya yang bernama Hani.


Hani mengangguk pelan lalu dia menarik tangan Nay, dijabatnya tangan yang terasa dingin itu.


Nay menatap khawatir kepada Hani, apalagi saat melihat perubahan raut wajah Hani. Wajah Hani berubah menjadi tegang.


Hani tiba-tiba melepaskan tangan menjauh dari Nay. "Saya melihat. Darah, tangisan dan api. Saya juga melihat seorang laki-laki diikat oleh rantai besi yang sudah berkarat, laki-laki itu sangat lemah. Saya melihat mbak menangis memeluk seorang laki-laki yang sudah terkujur kaku, disana juga ada dua orang anak kecil dan seorang anak remaja berusia 14 tahun sama seperti mbak menangis ..... Dan mereka memanggil laki-laki itu dengan sebutan ...... Daddy," jelas Hani.


Tubuh Tiara langsung meremang, dia tau apa yang dimaksud oleh Hani. Kaki Tiara mundur beberapa langkah dan beberapa saat kemudian wanita itu berlari mencari suaminya.


Feeling atau ramalan Hani tidak pernah salah, apa yang diucapkan Hani pasti akan terjadi. Ramalan Hani tidak akan pernah meleset.


Nay menatap Hani dengan heran, dia tidak mengerti apa yang dimaksud Hani. Bukannya tidak mengerti sih tapi Nay lebih ke tidak percaya saja.


"Saya tidak percaya,"


"Tapi mbak saya, saya juga melihat sebuah tebing disana ada mbak, seorang laki-laki paruh baya, ada seorang wanita muda berpakaian sangat sexy dan ada seorang anak kecil yang akan dilempar kebawah tebing," ujar Hani mencoba meyakinkan Nay namun tetap saja Nay tidak percaya


Nay mengangkat bahunya dengan tak acuh. Dia seperti bodoamat atau tidak peduli.


"Saya mohon percaya mbak, mbak harus waspada. Akan ada badai yang menerjang kehidupan mbak sebelum kebahagiaan menghampiri mbak dan keluarga. Beberapa hari lagi akan ada sepasang suami istri datang kerumah ini memberikan kabar buruk kepada mbak. Jika ucapan saya benar mbak bisa datang kerumah saya," ucap Hani sebelum dia pamit untuk pulang. Sebenarnya Hani juga rada takut Feeling nya meleset.


Nay menatap punggung Hani yang mulai menjauh dari pandangannya, sepertinya perempuan itu tersinggung karena Nay tidak mempercayai ucapannya.


Sedangkan diwaktu bersamaan, tepatnya digubuk tua ditengah-tengah hutan. Radit mencoba membangun kan Rayen yang sedang tertidur dilantai tak jauh dari tubuhnya.


"Ray, Rayen."sebisa mungkin Radit tidak membuat anak buah Reka terbangun dari tidur nya juga.


Radit ingin Rayen pergi dari gubuk ini mencari kebebasan, sebelum Veronika membawa Rayen pergi atau menjual Rayen ke sebuah club gay.


Masa depan Rayen masih panjang Rayen masih harus mengejar mimpinya.


Rayen yang merasa namanya terpanggil dia langsung bangun mengucek matanya. Wajahnya nampak jelas kelelahan.


"Ray, Daddy mau kamu pergi dari sini, hidup kamu panjang. Kamu kerja mimpi kamu," ucap Radit sedikit berbisik.


Rayen mengeleng. Dia tidak mau meninggalkan Daddy nya sendiri dengan kondisi yang memprihatinkan apalagi Rayen tau jika Daddy nya sedang sakit keras.


"Ray, enggak mau, Ray mau sama Daddy aja," Rayen memeluk Radit dengan erat. Tubuh Daddy nya semakin kurus, dia tidak tega jika harus meninggalkan Radit disini.


Radit membalas pelukan Rayen dengan pelan tangannya masih terikat rantai jika sedikit saja dia menimbulkan suara pasti anak buah Reka akan langsung terbangun.


"Ray, Kamu datang kerumahnya Om Pian. Kamu jangan mengatakan apapun kepada dia, katakan saja jika Daddy sedang sibuk.. Jangan menyusahkan orang lain selagi kamu mampu,"


"Dad, Ray enggak mau," Rayen menangis.


Rayen tau jika Radit tidak kan bisa keluar dari gubuk ini, dulu Radit pernah membawa Rayen pergi dari gubuk ini namun baru saja pertengahan perjalanan tubuh Radit sudah mulai kesakitan, tubuh Radit sangat lemah dan banyak mengeluarkan darah. Reka menyiksa Radit habis-habisan jika Radit mencoba kabur.


Dan Rayen tidak mau itu terjadi lagi, jika dia kabur sendiri pasti Radit akan disiksa oleh Reka lebih dari sebelumnya. Bukan oleh tenaga namun oleh benda musyrik yang Rayen sendiri tidak tau apa itu.


Radit melepaskan sebuah cincin emas yang melingkar di jari manisnya, Radit memberikan cincin itu kepada Rayen. "Kamu jual ini untuk ongkos,"


Cincin itu adalah cincin pernikahannya dengan Nay. Radit harus melakukan ini untuk menyelamatkan hidup Rayen.


"Dad--"


"Kamu mau lihat Daddy bebas dari sini?" Rayen mengangguk kecil menghapus air mata nya dengan kasar.


"Kamu harus pergi dari sini duluan nanti kalau tuhan mengizinkan Daddy nyusul," ujar Radit membuat Rayen mengangguk.


Benar kata Daddy nya Rayen harus pergi dari sini, biarlah Rayen melanggar apa yang dilarang oleh Daddy nya yang penting Daddy nya bebas.


Rayen berdiri menganggam erat cincin milik Radit, Rayen berjanji akan datang kembali dengan membawa orang dan menyelamatkan Daddy nya dari Reka dan Veronika.


Kaki Rayen melangkah menjauh dari Radit, Rayen menoleh sebentar dia melihat Radit tersenyum sembari mengangguk kan kepala seolah berkata semuanya akan baik-baik saja namun dalam hati Rayen masih ada yang menganjal.


'Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan, walau bukan dari saya tapi kamu harus meraih cita-cita kamu. Saya yakin kamu akan kembali,' ucap Radit dalam hati. Sembari terus menatap Rayen yang sudah hilang dari pandangan nya. Sepertinya anak buah Reka lupa mengunci pintu hingga Rayen bisa keluar dengan gampang. Semoga Ray selamat sampai tujuan dan semoga anak buah Reka yang lainnya tidak menyadari jika Rayen pergi mengendap-gendap. Pikir Radit.


.


.


..


.


.


.


.


.


Tinggalkan jejak ya.....