
Aku mengerutu kecil saat merasakan ranjangku bergoyang seperti ada yang menaikinya.
"Ayah, Nay baru aja tidur. Jangan ganggu Nay dulu,"
Ayah tidak beranjak pergi atau menbalas ucapanku namun Ayah malah diam ikut masuk kedalam selimut, mendekapku.
Ehh, tunggu kenapa bau parfum Ayah berbeda. Ini bukan wangi tubuh Ayah namun ini wangi maskulin dan harum nafasnya pun mint.
Atau ini bukan Ayah tapi orang sinting(mantanku) yang menyelinap masuk kedalam kamarku?
Dengan cepat aku membuka mataku melihat siapa yang mendekapku namun saat baru saja membuka mata bukan Ayah bukan orang sinting itu namun wajah orang ku rindukan dan orang yang selalu sisipkan namanya dalam setiap doa ku.
Dia tersenyum manis hingga menampakkan lesung pipinya. Senyum yang selama beberapa bulan ini ku rindukan.
Seperti ada kupu-kupu berterbangan didalam perutku aku sangat bahagia namun aku bingung untuk mengekspresikan nya bagaimana.
"Mas Radit?"
"Nay?"
Aku langsung memendamkan wajahku didada bidang Mas Radit menumpah segala gulah gulandah ku yang sudah ku pendam selam beberapa bulan ini.
"Hiks... Hiks... Nay kira mas udah bener-bener lupa sama Nay," Mas Radit hanya mengusap punggungku.
"Mana mungkin sih saya lupa dengan istri saya sendiri," aku mendengar kekehan kecil dari Mas Radit namun aku masih terisak dalam dekapannya.
"Tapi kata ayah mas Radit mengikuti mengobatan itu bakal lupa semuanya termasuk Nay, Ayah bilang waktu kalau mas lupain Nay, mas Juga selama ini enggak pernah kembali setelah pengobatan itu, terus sel—"
Cup....
"Udah yah jangan ngomong terus,"
Ini bukan frist kiss tapi rasanya dulu dan sekarang berbeda. Jika dulu aku yang seringkali mencuri ciuman disaat Mas Radit tertidur namun sekarang berbeda mas Radit lahk yang menciumku.
"Loh mukanya kok merah? Sakit?" tangan Mas Radit mengusap pipiku dengan lembut.
"Mas ihk Nay malu tauuu..," aku mencubit dengan gemas namun Mas Radit malah tertawa.
Tawa kosong dan hampa itu sudah tidak ada lagi kini yang ada hanya tawa bahagia dan hangat yang membuatku tanpa sadar menarik sudut bibirku, tersenyum.
Ehh, aku baru sadar jika tubuh mas Radit dua kali lebih besar dariku dan juga lebih emm.... tampan.
"Kamu tau jika saya memang tidak mengingat apapun saat itu namun beberapa hari setelah itu saya mengingat kamu namun saya tidak langsung mendatangi kamu. Saya ingin menuntaskan apa yang belum tuntas selama ini," Mas Radit memainkan ujung rambutku entah apa yang dia lakukan.
"Menuntaskan?"
"Kamu tidak perlu tau saya tidak ingin kamu terbawa dalam masalah ini," aku benar-benar penasaran apa yang di maksud menuntaskam oleh Mas Radit hingga membuat dia tidak langsung menandatangi ku.
"Tapi mas—"
Untuk keduan kalinya Mas Radit membuatku bungkam karena kecupannya. Aku hanya diam memandang wajah tampannya.
"Sekarang tidur lagi yahh... Saya enggak mau sakit karena kurang tidur," aku melirik jam dinda ng dan ternyata ini sudah pukul sembilan malam.
"Mas jangan pergi lagi," aku memendamkan wajahku didada bidang mas Radit lagi dan mempererat pelukanku.
"Saya tidak akan pergi," Mas Radit mencium puncuk kepalaku.
✨✨✨✨✨
Bersambung.....