Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
Ada apa dengan Radit?



"Dasar kalian tidak berguna!!!" teriak seorang wanita berusaha 29 tahun itu melemparkan semua barang yang ada dihadapannya.


"Vero! Kamu jangan seperti ini," tegasnya. Dia adalah Reka--Ayah Radit.


"Vero enggak mau lihat mereka bahagia,"balas Veronika.


Dira--ibu Radit menghampiri Veronika. "Tante juga enggak rela jika mereka bahagia,"


"apalagi kita," timpal Dini dan Cahya serempak.


Saat ini mereka sedang dirumah megah milik keluarga Reka. Beberapa bulan yang lalu Veronika datang kembali meminta bantuan kepada Reka untuk meminjamkan dia uang namun bukannya Reka memberikan Veronika uang, pria paruh baya itu malah menjebak Veronika.


Reka meniduri Veronika tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Dira, Reka mengancamkan akan menyebarkan video itu jika Veronika tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Reka .


Reka menyuruh Veronika menghancurkan rumah tangga Nay dan Radit serta Veronika juga harus berhasil merebut perusahaan milik Radit.


Lamban laun Veronika tertarik untuk menghancurkan rumah tangga Radit dan Nay, Veronika terobsesi kepada kekayaan yang dimiliki Radit dan juga Veronika bersedia untuk menjadi pemuas nafsu Reka .


"Kita harus pakai cara dukun lagi," usul Dira .


"Diawal kita udah pakai cara itu masa kita harus pake cara itu lagi si Ma..." ucap Veronika.


"Itukan saat kita menimbulkan rasa cinta Radit kepada Veronika lagi dan mengisi otak Fauzan agar menakuti Radit prihal Veronika," balas Cahya.


"Lalu sekarang kita harus apa?"


******


Sore ini setelah mengantar Fauzan cek up Tiara mengajak suaminya itu berkunjung kekantor Radit.


Tiara ingin bertanya prihal masalah rumah tangga kakaknya kepada Radit, bukan bermaksud ingin ikut campur namun Tiara hanya ingin membantu memecahkan permasalahan saja.


Fauzan hanya mengikuti Tiara saja, kondisi Fauzan sudah lamban laun membaik jika mereka selalu ihktiar.


'Tidak akan ada usaha yang sia-sia jika kita tidak mencobanya,' Bukannya seperti itu dan Fauzan berusaha untuk sembuh serta berharap semoga Tuhan segera mengambil penyakitnya.


"Kak .... Ara mau ke ruangan Mas Radit sendiri aja ya, kak Fau tunggu di mobil dulu," ujar Tiara menarik Fauzan dari lamunannya .


Tiara mengusap pipi Fauzan sebentar lalu mencium bibir suaminya dengan lembut, mencoba meyakinkan Fauzan bahwa dia bisa sendiri. "Ara sendiri aja kak, cuman sebentar kok,"


Fauzan menghela nafasnya lalu mengangguk. "iyah,"


Sedangkan disisi lain Radit masih belum juga beranjak dari duduknya, kepalanya masih pening dan juga darah masih terus mengalir dari hidungnya.


Entahlah dirinya kenapa namun yang jelas Radit sedang tidak mau memikirkan hal lain selain urusan rumah tangganya yang diujung tanduk.


"Sial!" umpat Radit dengan pelan karena merasa kepalanya semakin pening dan juga darah dari hidungnya masih saja mengalir.


Radit tidak mau kehilangan Nay, Radit tidak mau melepaskan cahaya hidupnya pergi, dan Radit tidak mau jika Nay meninggalkannya karena masalah ini. Radit yakin jika semua ini salah, ini bukan kemauan Radit, ini diluar kehendak Radit.


"Mas Radit?" suara Tiara mampu membuat Radit langsung mengusap hidungnya dengan kemeja putih yang sedang ia pakai secara kasar.


Dia tidak mau membuat adik Iparnya curiga.


"Mas, boleh aku ngomong empat mata?" tanya Tiara dan hanya dibalas anggukkan kecil oleh Radit.


Radit menggeser tubuhnya dengan pelan menyembunyikan bercak darah yang menempel lengan kemeja putihnya. "Ada apa Ra?"


"Ini soal hubungan Mas sama Mbak Nay, Aku lihat kalian semakin hari semakin rengang. Mas Radit juga jarang pulang bisa ke hitung mas Radit pulang kerumah. Apa masalah kalian berat banget sampe enggak bisa diomongin baik-baik," tutur Tiara saat dirinya sudah duduk di single sofa tak jauh dengan Radit.


Radit memejamkan matanya sebentar, terdengar suara helaan nafas berat milik Radit membuat Tiara refleks menatap Radit dengan curiga.


"Sebenarnya saya tidak ingin seperti ini, tapi saya selalu diluar kendali jika sedang bersama Nay, kamu hubungan saya dan Nay awalnya baik-baik saja namun tiba-tiba seperti ini kan?" Radit menyenderkan bahunya. "Saya tau saya egois malah memilih untuk tidak membicarakan secara baik-baik, saya memilih untuk lari tanpa menyelesaikan semuanya,"


Tiara paham jika sebenarnya Radit juga tidak ingin semuanya seperti ini namun apa boleh buat mungkin ini sudah garisan takdir rumah tangga yang selalu banyak lika dan liku agar tau bertahan kah sebuah hubungan itu.


"Kita lain waktu saja Ra.... Saya ada urusan," Radit berdiri membenahi jasnya. Walaupun kepalanya masih pening namun dia harus menemui Wendy, siapa tau mertuanya itu dapat membantu Radit keluar dari zona rumit ini.


Tiara mengangguk. Wanita cantik itu menatap punggung kakak Iparnya, dahinya nampak berkerut saat bercak darah menempel dilengan kemeja putih milik Radit. Bercak darahnya tidak sedikit dan juga itu seperti masih baru terlihat belum mengering.


Cara jalan Radit pun tidak normal, Radit jalan sedikit sempoyongan.


'apa mas Radit mabok Terus berantem ya? Kalau 'iya ini enggak bener dong, mas Radit luapin semuanya malah keminuman haram itu dan berantem sama orang lain,' batin Tiara dengan bingung.