
Dia adalah orang yang telah membuat rumah tangga ku hancur namun aku tidak pernah membenci nya karena bagaimanapun ini sudah takdir yang tertulis oleh Allah untuk ku.
*****
Nay menatap sendu sepasang suami istri yang kini sedang duduk bermesraan dibalkon rumahnya mereka.
Dulu Nay pernah ada diposisi itu, duduk berdua dibalkon menatap indahnya matahari pagi dan menikmati sejuknya angin pagi.
Nay rindu momen itu tapi Nay tidak mau mengulang momen itu.
Kenapa harus Nay yang mengalami ini, mengalami gagalnya berumah tangga. Disaat Nay sudah berjuang mati-matian untuk memperbaiki semuanya namun dengan mudahnya Radit mengatakan talak. Sehari setelah mengatakan itu Radit tiba-tiba mengirimkan surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh pria itu, berarti sebelumnya Radit sudah merencanakan perceraiannya.
Flashback. (5 tahun yang lalu)
Saat itu, Nay menunggu Radit diluar rumah berharap laki-laki itu kembali dan mau memperbaiki semuanya tanpa ada kata perceraian.
Memang apa salah berharap, Nay hanya berharap Radit kembali dan berubah pikiran. Nay tidak mau cerai karena 'perceraian sangat dibenci Allah--Nay tau itu.
Namun yang diharapkan itu tidak datang, yang datang malah seorang kurir memberikan Nay sebuah map coklat.
Saat itu, detik itu, dan hari itu harapan Nay tentang Radit kembali langsung hancur berlebur karena tau isi map coklat itu adalah surat cerai yang sudah ditandatangani.
Raditnya benar-benar mentalak Nay. Namun Kenapa harus kurir yang mengantar surat cerai ini, kenapa bukan Radit saja--agar Nay tau apa Radit benar-benar sudah tidak mencintainya dan agar Nay sadar bahwa selama ini Radit masih mencintai Veronika bukan Nay.
Perjuangan Nay sebagai istri sudah cukup sampai disini, Radit benar-benar melepaskannya.
Semuanya Veronika.
Flashback of.
"Mom," Nay menghapus air mata yang entah kapan merebak dipipi nya. Perempuan cantik itu membalikkan tubuhnya menatap sang putra yang berdiri menatap ia dengan dingin dan kosong.
Reymond memang selalu begitu, entah apa yang terjadi kepada anak berusia empat tahun itu, sikapnya bertolak belakang dengan Melody.
Nay tersenyum lalu melangkah dengan pelan kearah Reymond. "ada apa, sayang? Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Nay mengusap rahang putranya.
Badan Reymond sudah lumayan tidak panas, dan wajahnya sudah tidak terlalu pucat seperti sebelumnya.
"Rey, ingin Daddy. Rey ingin bertemu Daddy," ujar Reymond, dia langsung masuk kedalam kamar ibunya. Sudah lama Reymond tidak masuk kedalam kamar bernuansa peach ini.
Kamar ibunya sangat rapih, banyak medali, piagam dan piala yang berjejer Disebuah lemari kaca besar.
Reymond jarang berinteraksi dengan siapapun bahkan dengan ibunya Reymond sangat jarang. Selain dia yang kurang suka berinteraksi, ibunya juga kadang sibuk dirumah sakit atau dirumah kanker--mengurusi orang yang terkena kanker.
"Mom, kenapa tidak ada foto Daddy," Reymond hanya tau jika ibu dan ayahnya masih bersatu--ayahnya sedang bekerja diluar pulau. Dia hanya tau jika ayahnya adalah seorang pesiar kapal. Reymond tidak tau jika ayah dan ibunya sudah bercerai, dan ayahnya bukan pesiar kapal seperti apa yang diceritakan oleh Ibunya dan Pamannya--Fauzan.
"Emm..." seolah tercekat oleh pertanyaan itu hanya bisa mengaruk tengkuk lehernya, bingung harus menjawab apa. Reymond bukan anak kecil yang mudah dibohongin dengan kata-kata terlebih lagi anak itu bisa membaca gerak tubuh manusia. Berbohong atau tidaknya Reymond tau.