Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Veronika berbuat ulah lagi.




Veronika berbuat ulah lagi.



"Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas, dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit."


******


" Saya akan makan kalau kamu makan, saya tau kamu belum makan," ucap Radit saat sendok itu disondorkan kemulutnya.


"Nay makannya mas ntaran, mas dulu aja," balas Nay.


Radit menerima suapan itu, Nay tersenyum saat melihat itu namun siapa sangka Radit menerima suapan itu ada maksud lain.


Dengan hitungan detik Radit menarik tengkuk Nay mendekat kearah hingga bibir mereka menempel. Radit segera mendorong makan itu saat bibir Nay terbuka yang hendak protes.


"Kunyah terus telen," ucap Radit menutup mulut Nay dengan paksa, meminta makanan itu tidak dimuntahkan..


"Mas ngeselin banget sih," gerutu Nay saat makanan itu sudah ia telan.


Radit nya tidak pernah berubah.


Mungkin tidak ada kata berubah dalam diri Radit.


Kini Nay menyuapkan lagi makanan itu ke Radit lalu mundur Takut-takut Radit memaksanya makan lagi.


"Saya enggak akan maksa kamu lagi asal kamu nya makan bersama saya,"


Nay menurut makan sepiring berdua bersama Radit karena tidak mau saat Radit memaksanya lagi seperti tadi Reymond muncul atau keluar tiba-tiba kan berabe.


"Selamat lima tahun ini kamu hanya mengurus Reymond dan Melody?" tanya Radit tiba-tiba.


"Enggak juga, Nay kembali kerja mengurus beberapa orang yang memiliki kanker seperti dulu," Nay mengusap nasi yang menempel ujung bibir Radit.


"Ya, enggak lah. Dokter Farel udah pindah dinas sama dokter Nadia," ucap Nay menyingkirkan rasa cemburu Radit.


Nay tau Radit sedang cemburu karena dokter Farel.


"Selain kerja kamu melakukan hal lain,"


"Enggak ada," ucap Nay. Karena dunia Nay aja enggak ada gimana Nay bisa melakukan hal selain dua kegiatan itu; bekerja dan mengurus anak-anak. Sambung Nay dalam hati menatap wajah Radit.


Suara Nay terasa tercekat saat membandingkan Radit dulu dan sekarang. Sangat berbeda jauh sekali perubahan nya.


*****


Tengah malam, Veronika. Wanita itu datang dengan senyum licik diwajah nya. Mata hatinya sudah tertutup oleh dendam hasutan dari Reka.


Ya, malam ini Veronika akan melakukan rencana jahatnya, membuat Radit menyusul Dini dan Cahya ke alam barja. Pikir Veronika.


Dengan langkah pelan wanita itu memasuki ruang inap Radit. Senyumnya semakin mengembang kala melihat hanya ada Radit yang ada diruangan ini. Tidak ada Nay atau keluarga Handoko yang bisa menghalangi rencananya.


Suara ketukan high hiels pertanda bahwa seseorang akan datang membuat Veronika segera melakukan rencananya. Sebuah suntikan dengan serum berwarna ungu ada digenggaman tangan Veronika.


"Selamat tinggal,"ucap Veronika lalu menyuntikan serum itu selang infus Radit.


Radit membuka matanya karena merasa sesak, nafasnya seperti terhalang oleh sesuatu. Kedua bola mata Radit menatap kearah Veronika. Rasanya Radit seperti akan mati, ini pasti ulah Veronika lagi.


"Selamat jalan. Sayang." senyum licik tercetak diwajah Veronika. Tangan wanita itu mengusap dan menepuk dada bidang Radit yang sedang naik turun karena efek dari serum itu.


Ya, itu adalah serum adalah serum pelumpuh sarap tubuh bahkan bisa mematikan aliran darah dalam waktu satu menit. Umumnya orang yang akan kena atau memakai serum itu akan berkeringat dingin, jantung berhenti dalam waktu singkat dan akan meninggal juga dalam waktu hitungan detik.


Radit menatap Veronika dengan tak percaya, kedua bola mata itu berembun seolah bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Perlahan tapi pasti bola mata itu tertutup seiring dengan nafasnya yang hilang.


Apa ini akhir dari hidup Radit? Tapi kenapa harus hari ini saat dia baru saja merasakan lagi tawa dan keceriaan dari anak serta istrinya.


"VERONIKA!!"