
"Ma-s...?"
Nafasku memburu saat melihat siapa yang kini ada dihadapanku. Tuhan semoga ini bukan mimpi lagi.
Kaki ku benar-benar lemas saat ini. Ayah dan yang lainnya sudah tidak ada disini hanya ada Mas Radit yang sedeng tersenyum sembari memengam kue. Lilin itu masih menyala.
"Loh malah bengong?"
Aku tak mengubris pertanyaan Mas Radit. Aku langsung memeluknya tak menghiraukan kue itu lagi yang jelas aku kali ini benar-benar bahagia. Mungkin jawaban setiap doa ku.
"Nay, kok malah nangis," aku hanya diam tak menjawab ucapan Mas Radit. Aku menangis bukan karena lebay namun aku menangis karena bahagia. Bahagia karena Allah telah mengabulkan doa ku.
Dan orang aneh yang tadi membuatku Kesal adalah suamiku sendiri.
"Jangan tinggalin Nay lagi," aku masih terisak dalam pelukan Mas Radit.
"Iyah, Saya janji. Sekarang tiup lilinnya," Aku melepaskan pelukkanku lalu meniup lilin itu.
Semoga semua doa ku yang lainnya juga terkabul Ya Allah.
__________________
"Selamat ulang tahun mbak semoga panjang umur, sehat selalu, bahagia selalu," ucap Tiara dari sebrang telepon sana.
Ya, setelah meniup lilin Mas Radit mengajakku ke taman belakang dan ternyata Ayah dan yang lainnya berada disini.
Dan kini aku sedang video call bersama Tiara dan Bunda.
"Makasih, Jangan lupa kadonya Ra..." Aku berjalan sembari membawa ponsel. Duduk diantara Mas Radit dan Ayah.
Aku sudah tak peduli lagi jika Ayah melarang ku berhubungan dengan Bunda atau Tiara yang jelas hari ini aku benar-benar bahagia.
"Kadonya doa aja ya, Sayang," suara Bunda terdengar serak dari sebrang telepon.
"Iyh, Bun..." Wajah Bunda yang masih terlihat fresh tak ada kerutan walau usianya sudah kepala empat muncul dilayar ponsel.
"Ouh, kenapa kamu tau ulang tahun mbak?"
"Dari Bunda, mbak tau enggak Bunda rajutin sweter buat mbak," Aku hanya tersenyum saat melihat Ayah diam-diam melirik ke arah ponsel.
"Bunda masih cinta enggak sama Ayah?" ku lihat Ayah yang tersedak karena minumannya.
"Nay..." aku hanya nyengir saat Mas Radit menegurku.
"Cinta? Ya Allah Nay. Jangan ngawur deh, 21 tahun ini kaya enggak cukup aja buat Bunda lupain Ayah kamu. Saat Ayah kamu menjatuhkan Talak disaat itu pula Bunda melupakan Ayah kamu," Tiara dan aku kompak terkekeh saat mendengar jawaban Bunda yang begitu sewot. Entah tau atau tidak kalau ayah ada disisiku Bunda menjawabnya dengan sewot seperti itu.
"Om Hermawan gimana Bun?" Aku dan Tiara tertawa kembali saat Bunda melototi kami.
"Om Hermawan itu temen Bunda doang. Dia juga udah punya anak dan Istri kok, Om Hermawan itu dokternya Bunda waktu itu sampai sekarang juga masih,"
Rasanya aku ingin tertawa lepas karena melihat wajah Ayah yang uhh... Cemburu.
"Mbak udahan dulu kayanya Om Yuda udah datang tuh..."
"Om Yuda siapa?"
"Calon Ayah buar Tiara,"
Sebelum menutup sambungan telepon aku sempat melihat Tiara yang dijewer oleh Bunda dan Tiara bukannya kesakitan tapi.malah tertawa.
"Pacarnya Fauzan Ya?" Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mas Radit.
Benar kata Ayah dulu jika Mas Radit normal itu cenderung pendiam tidak seperti Mas Radit pertama kali aku kenal. Manja, banyak sekali bicara dan tingkah.
"Mas Tau?"
"Saya sama Fauzan sahabat dan pasti saya tau kalau Ara itu pacarnya Fauzan," Mas Radit menyenderkan kepalanya dibahu ku. Dia terlihat sangat lelah.
"Mas,"
"Hmmm?" Pertanyaan ini yang selalu menumpuk dikepala ku. Prihal dua hari lalu Mas Radit datang kedalam mimpi ku yang terasa nyata.
"Dua hari—"
"Dua hari lalu kamu mimpi tapi terasa nyata?" aku menoleh menatap Mas Radit yang sedang memejamkan matanya dengan kepala yang masih menyender dibahuku.
"Mas cenayang ya?"
Mas Radit langsung melek lalu menjawil hidungku dengan gemas.
""Kalau ngomong itu enggak pernah disaring," gemasnya lalu melingkarkan tangannya dipingangku menarik agar lebih dekat.
"Ya abisnya Mas kok tau isi pikiran Nay," kini giliran aku yang menyandarkan kepalaku dibahu Mas Radit.
"Karena itu nyata bukan mimpi, Sayang. Saya memang ada pada malam itu namun saat kamu tertidur pulas saya pergi."
"Pantes aja kenapa mimpi tapi serasa nyata,"
"Saat itu saya masih menuntaskan sesuatu dan suatu saat kamu pasti tahu..."
Aku hanya mengangguk seolah mengerti. Semoga hari ini adalah hari bahagia ku dan semoga hari esok saat aku membuka mata kebahagian mengalir untuk ku, Mas Radit dan keluargaku.
✨✨✨✨✨
Bersambung....