
"Untuk semua kepedihan yang kau alami, bersabar dan bertahanlah, karena Allah tahu di mana batas kemampuanmu."
******
Nay menatap wanita tua dengan menggunakan pakaian rumah sakit jiwa, Dira menatap kosong kearah depan seolah tidak ada yang menarik lagi dihidup wanita itu. Mulutnya sesekali menyebut kata maaf, tangannya mengenggam sebuah foto.
Hati dan logika Nay tidak singkron, disatu sisi Nay ingin menghampiri Dira merangkul wanita itu, disisi lainnya Nay marah kepada Dira karena wanita paruh baya itu juga terlibat akan semua masalah yang tercipta.
Logika mengatakan jangan namun hati mengatakan rankul lah.
"Kamu pasti keluarga ibu Dira ya?"
Nay memutar tubuhnya melihat siapa yang bertanya kepadanya.
"I--ya," ucap Nay.
"Sudah hampir 3 tahun semenjak ibu Dira masuk kesini tidak ada yang menjenguk lagi, saat diantara ke sini Ibu Dira sudah keadaan hampir mati, sepertinya beliau mendapatkan siksaan batin dan fisik," ujar seorang dokter pria mungkin seumuran dengan Radit. "Beliau selalu menyebut kata maaf kepada sebuah foto laki-laki berseragam SMA, mungkin itu anak beliau,"
Nay menautkan alisnya, siapa laki-laki yang memakai seragam SMA?apa itu Cahya? Atau Rama? Atau Radit?
Ahk, Nay tidak mau ambil pusing soal itu yang jelas dia harus menanyakan kepada Dira prihal Radit dan Rayen.
"boleh saya masuk?" tanya Nay dengan ragu kepada dokter itu.
"silahkan," ujar dokter itu.
*****
"Assalamualaikum," salam Nay mendudukkan tubuhnya didekat Dira.
Dira sama sekali tak terkecoh dengan kedatangan Nay, wanita paruh baya itu terus menatap kosong kearah tembok dengan coretan nama Radit.
"Ma, aku Naysilla. Mama masih ingat aku? Aku man-- istrinya mas Radit," ujar Nay mengusap lengan Dira dengan lembut.
"Radit? Dimana Radit." Dira berdiri celingak-celinguk mencari Radit.
Nay menatap aneh kepada Dira, kenapa ibu mertuanya ini terus menyebutkan nama Radit terus menerus. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa Dira seperti sangat menyesal dan frustrasi?
"Ma, apa mama tau dimana mas Radit?" tanya Nay lembut. Dia berusaha untuk menormalkan nada bicarannya , terbesit rasa takut dalam diri Nay jika Dira melakukan hal yang tidak-tidak.
"Radit. Enggak ada, Radit diikat rantai digubuk tua tengah hutan sama bajin*an dan palac*ur itu," Dira memeluk selembar foto itu dengan erat, kristal bening meluncur dipipi Dira. "Mereka menyiksa Radit, mereka jahat... Mereka jahat, hiks...."
Nay menggigit daging bawah bibirnya dengan pelan, melihat Dira menangis sembari mengatakan itu membuat hatinya ikut teriris.
"Hiks... Mereka jahat, mereka kurung Radit. Bajin*an itu jahat sekali, dia membuat Mama jahatin Radit," isakkan Dira semakin keras membuat Nay langsung memeluk wanita paruh baya itu.
Sekarang Nay tau apa yang terjadi sebenarnya, namun Nay masih tidak tau dimana hutan itu dimana.
"Mama mau mas Radit kembali?" tanya Nay mengusap punggung Dira yang bergetar karena menangis.
Dira mengangguk cepat.
"Mama tahu dimana hutan itu berada? Mama tau dimana gubuk tua itu?"
Dira terdiam, sepertinya wanita paruh baya itu sedang berpikir. Nay masih menunggu jawaban dari Ibu mertuanya.
"Hutan itu seram, mama tidak tau," tangis Dira pecah kembali setelah mengatakan itu membuat Nay bingung dan kecewa secara bersamaan.
Dira tidak tau dimana tempat Radit disekap lalu siapa yang bisa Nay andalkan sekarang? Jika Rama mengatakan bahwa hanya Dira yang tau dimana Radit berada nyatanya pria itu salah menduga.
"Aku terlalu bersemangat dan berharap hingga aku sadar bahwa semua itu hanya ekspetasiku saja. Tentang kamu yang akan kembali kedalam hidupku,"
******