Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
42. Bab 42: Kejutan macam apa ini?



Rasa bahagia kini meyelimuti Tiara dan Nay. Banyak kejutan yang diberikan oleh Wendy dan Prita kepada Tiara.


Nay bahagia karena masalah rumah tangganya telah terselesaikan, Rasanya Nay sedah mengurangi beban rumah tangganya dan kini wanita itu akat membuat senyum adiknya kembali seperti dulu kecerian Tiara akan kembali sebentar lagi.


"Nay jangan senyum-senyum sendiri nanti kamu disangka gila," tegur Prita membuat Nay langsung nyengir kuda.


"Bunda... Nay kangen Bunda tau enggakkk..." Nay mengalihkan pembicaraan Prita yang pastikan terus menanyakan atau membicarakan dirinya kenapa.


"Kamu nih, setiap hari kita bertemu,"


"Tapi bener lo Bun... Semenjak Nay hamil Nay jarang manja-manjaan sama Bunda atau Ayah,"


"Manja-manjaan sana sama suami mu,"


"Tiap malem itu mah Bun, wajib,"


Prita mencubit gemas lengan Nay. "Iyah, sampai-sampa kedenger ke kamar Bunda..."


"Terus Ayah minta jatah deh karena ngedenger de****** Nay secara kan Ayah sama Bunda pisah itu 21 tahun jadi enggak akan mudah melepaskan Rindu."


"Ngelantur kalau ngomong kamu Nay, udah ahk... Bunda mau nyamperin Ayah kamu,"


Prita berdiri lalu meninggalkan Nay yang masih tertawa.


Mata Nay beralih kepada seorang laki-laki yang sedang menatapnya dari atas lantai dua. Laki-laki terus memantau dari atas.


Nay mengangguk kepada sang Pria itu lalu pria itu turun kebawah mulai dengan rencana selanjutnya.


"Semoga berhasil,"


_____***_____


Tiara tersenyum menangapi teman barunya, Lala. Perempuan blesteran korea-indo ini adalah anak dari rekan bisnis Ayahnya.


Lala, menurut Tiara Lala cantik dan juga terlihat sekali perempuan ini adalah orang korea asli.


Kini Tiara hanya sendiri duduk menatap anak-anak kecil bersama ibunya. Ayahnya mengatakan bahwa anak kecil itu sudah tidak memiliki Papa karena telah meninggal beberapa tahun lalu dan apa dirinya dab Faura—nama calon anaknya akan seperti anak dan ibu itu karena Fauzan-nya telah pergi.


"Maafin Mama sayang karena Mama kamu harus kehilangan Papa kamu bahkan kamu belum pernah bertemu dengan dia," ucap Tiara mengusap perutnya.


Malam ini Tiara tampak cantik dengan gaun berwarna pink yang diberikan oleh Fauzan. Gaun ini mungkin kenang-kenangan dirinya dan Fauzan.


"Ehhkk..." Tiara menatap kesekeliling yang tampak gelap. Listrik ini nampak mati dan menjadi gelap gulita.


"Ayah?"


Tak ada sahutan sama sekali hanya ada suara orang berjalan namun itu bukan Ayah karena dari derap langkahnya sangat berbeda.


"Ayah, jangan bercanda Ara takut,"


"Apa kabar?"


Jantung Tiara berdegup kencang saat mendengar bisikkan itu. Bisikkan yang tepat didaun telingnya.


Suara serak dan berat yang pastinya Tiara kenali. Itu suara Fauzan, suara yang Tiara rindukan namun apa iya ini kelakukaan arwahnya Fauzan? Jika iya.... Tiara tidak akan takut tapi—


"Stop Tiara kamu harus positif think-ting." gumam Tiara lalu membuang nafasnya dengan pelan.


Tubuh Tiara semakin menegang saat ada sentuhan lembut dikedua bahunya. Sentuhan itu semakin turun ketanganya lalu mengenggam tangan Tiara.


Apa ini salah satu kejutan dari Ayahnya namun Kejutan macam apa ini?


Kejutan yang mampu membuat jantung Tiara copot karena takut yang menyentuhnya ini adalah lelaki hidung belang yang menyamar menjadi clien Ayahnya.


Bisa saja Tiara menoleh siapa yang menyentuhnya namun sekali lagi tubuh Tiara kaku bahkan bernafasnya rasanya Tiara sulit.


'Ya Allah cobaan apa ini?'