Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Rayen



"Orang yang kuat bukanlah dia yang tidak pernah menangis, tetapi orang yang terus istiqomah di tengah godaan."


*****


"Dek, kamu enggak papa?" Nay mendekat kearah anak laki-laki Yang sedang merunduk memengangi lutut dan sikutnya yang mungkin terluka akibat benturan tadi dengan mobil Nay.


Nay menyentuh pundak anak laki-laki itu, sepertinya anak laki-laki ini tidak asing bagi Nay.


Anak laki-laki itu mendongkak menatap Nay.


Dua pasang netra berbeda warna itu saling menatap. Nay membulatkan matanya dengan sempurna.


"Mom?" suara parau itu menyadarkan Nay, suara yang Nay rindukan.


"Ray...." Nay langsung mendekap tubuh anak laki-laki yang ia rindukan, Rayen--setelah lima tahun tidak bertemu hari ini Nay bertemu lagi dengan Rayen.


Rayen membalas dekapan Nay, hatinya terasa lega saat akhirnya Rayen bertemu dengan Nay.


" Mom, haven't you forgotten me?" tanya Rayen mendongkak menatap Nay dengan lamat.


"Mommy tidak akan pernah melupakan kamu, sayang. Mommy selalu menunggu kamu pulang, kamu tau sekarang kamu mempunyai sepasang adik kembar," ujar Nay mengusap air mata yang meluncur dipipi anak laki-lakinya ini.


Rayen memang bukan anak kandungnya namun Rayen mampu mengobati luka Nay dulu saat dia kehilangan calon anaknya.


Kehadiran Reymond dan Melody belum cukup bagi Nay sebelum Rayen juga ada disisi nya.


"Ray tau, Mommy selalu menunggu kamu pulang. Mommy selalu berharap kamu kembali kerumah namun kamu tak kunjung pulang," Nay mendekap kembali Rayen dengan erat.


Rayen membalas dekapan itu tak kalah erat, takdir tidak ada yang tau. Rayen yang sudah berhari-hari berjalan menuju jalanan kota akhirnya bertemu dengan Nay. Tanpa makan dan minum sampai saat ini Rayen masih bisa berdiri walau sudah mulai lemas, sedikit.


"Kita pulang ya, Banyak yang nunggu Ray pulang," ujar Nay.


Rayen melepaskan pelukan nya dengan pelan, dengan perlahan Rayen berdiri dibantu Nay yang memapahnya.


Sejenak Nay dapat melupakan masalah yang satu hari ini terjadi, dia terlalu bahagia bertemu dengan Rayen. Bagi Nay, Rayen sama seperti Reymond ataupun Melody sama-sama anaknya.


Rayen menatap kikuk kepada Reymond dan Melody. Kedua anak itu menatap Rayen dengan tatapan intimidasi seolah Rayen adalah musuh mereka.


Kini Rayen sudah berada rumah megah milik Wendy. Kedatangannya disambut sangat baik oleh yang lainnya, kecuali Reymond, Melody dan Faura.


Fauzan dan Tiara seperti mendapatkan titik terang begitupun dengan yang lain.


"Kamu siapa?" tanya Melody menatap Rayen dengan tatapan intimidasinya, Rayen yang melihat itu bukannya bertambah kikuk namun malah gemas melihat wajah Melody.


Benar kata Nay, Melody dan Reymond memang kembar namun mereka seperti langit dan bumi. Sangat berbeda.


"Hai, aku Rayen," kikuk Rayen.


Rayen memang sudah berganti baju namun entah mengapa dia malah sedikit yang menganjal namun Rayen lupa apa itu.


"Ray atau Rayen. Kamu bisa memanggil ku seperti itu," ujar Rayen.


"Rayen ....." Melody mengangguk-ngagguk pelan kepalanya. Anak perempuan itu menatap Rayen.


Reymond yang sadari tadi diam langsung mencubit pelan lengan Melody, lalu menarik kepangan rambut Melody agar mundur dari hadapan Rayen.


"Sakit Gavin!" renggek Melody. Mengusap lengan nya yang masih terasa sakit akibat cubitan dari saudara kembarnya.


Nay datang dengan membawa tiga gelas susu dan satu biskuit coklat, senyumnya terukir melihat Reymond yang ada sedikit kemajuan. Rayen juga sudah terlihat baik-baik saja.


"Mom, Gavin mencubit tangan Mel," adu Melody.


"Dia menyebalkan," ucap Reymond singkat lalu mendudukkan tubuhnya disisi Rayen.


Rayen menatap Reymond, jika seperti ini Rayen dapat melihat Radit dalam diri Reymond. Ini adalah sikap Radit jika kepada orang lain, namun berbeda lagi jika Radit bersama orang yang benar-benar dicintainya pasti Radit akan bersikap manis dan humor.


"Kamu tau, kamu mirip banget Daddy," ujar Rayen membuat Reymond yang sedang meminum susu langsung menoleh menatap Rayen.


Nay dan Melody ikut menoleh menunggu apa yang akan diucapkan oleh Reymond.