Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Membingungkan




Membingungkan



..."Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian (taqdir) dari Allah dengan senang hati."(Ali bin Husein)...


*****


Entah pukul berapa Nay baru sampai dirumah, hari sudah gelap. Nay terlalu asyik dengan pasien-pasiennya hingga lupa bahwa dirumah ada keempat anak yang harus ia urus juga selain pasien-pasiennya.


Mungkin ini efek Nay terlalu lama merenung dan mengunci diri dari luar. Dukanya terlalu lama hingga Nay lupa bahwa masih ada kehidupan selanjutnya.


Dunia Nay sekarang seakan mati, tidak ada Radit lagi seperti 5 tahun yang lalu.


Kening itu berkerut saat melihat mobil mewah yang tampak asing.


"Assalamualaikum," salam Nay memasuki rumah mewah milik Ayahnya.


Tak ada sahutan sama sekali, namun samar-samar Nay mendengar sebuah gelak tawa anak-anaknya dan anggota keluarga Nay.


Langkah kaki Nay terhenti saat melihat orang asing dihadapannya. Wajahnya tertutup masker dan kaca mata hitam serta satu lagi orang itu memakai topi.


"Kamu siapa?" tanya Nay menunjuk orang asing itu.


"Nay, udah pulang." suara Wendy terdengar membuat Nay langsung mengalihkan pandangannya.


"Udah, Yah, ayah dia siapa?" tanya Nay.


"Asisten baru kamu," jawab Wendy.


Nay menatap ayahnya dengan aneh, kenapa Nay harus memakai asisten padahal Nay masih bisa melakukan segalanya sendiri. Namun pertanyaan itu Nay pendam. Dia memilih untuk hanya mengangguk tanpa protes.


"Kalau gitu Nay langsung keatas aja, mau bersih-bersih," ucap Nay lalu pergi meninggalkan Wendy dengan orang asing itu.


"Dia memang seperti itu akhir-akhir ini sampai seperti Yang saya ceritakan kepada kamu waktu itu," ujar Wendy mengajak orang asing itu masuk kembali.


"Hmm, tapi saya tidak yakin jika ini akan berhasil."


"Lakukan saja. Hanya beberapa hari saja Kita semua kan sedang mempersiapkan semuanya dari awal hingga akhir," ucap Wendy.


"Nay tidak akan curiga?"


"usaha kan jangan sampai curiga,"


"Ya sudah saya kembali ke apartemen, besok pagi-pagi saya kemari. Saya pamit Yah ... Titip anak-anak dan Nay,"


"Itu pasti, Kamu juga hati-hati,"


****


"Mommy," suara cempreng Melody membuat Nay yang sedang melamun langsung tersentak mendengar nya.


"Ada apa sayang?"tanya Nay.


Melody berjalan kearah Nay. Kaki dan tangan mungilnya merangkak naik keatas ranjang milik ibunya. Nay membantu Putri cantiknya naik.


"Mom, Gavin sama bang Rayen nyebelin," adunya membuat Nay terkekeh rada penat nya langsung hilang begitu saja.


Nay mengusap rambut panjang Melody dengan lembut. "ya udah kamu tidur sama Mommy aja ya? Ajak kak Nada juga gih," titah Nay.


"kak Nada udah tidur,"ucap Melody.


Nay mengiring Melody untuk merebahkan tubuhnya. Anak perempuannya ini memang sedikit manja.


"Berdoa dulu sayang,"


*****


Rayen yang sadari tadi sibuk dengan ponselnya, Reymond masih serius dengan setumpuk kampus bahasa beberapa negara dan Nada serta Melody sibuk bermain boneka. Nay hanya menemani saja dan mengawasi anak-anaknya.


Nada memang bukan anaknya bahkan Nada adalah anak dari perempuan yang telah membuat semuanya kacau balau, namun walau begitu Nay tetap akan mengurus Nada karena yang salah itu bukan Anaknya namun Ibunya yang seperti iblis.


Rumah besar ini terasa sepi karena keempat anak yang suka membuat berisik sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


"Mom, diluar kayanya ada tamu deh,"ucap Reymond.


"Masa sih? Kok Mommy enggak denger apa-apa,"


"iyah Mom, serius deh ada suara Bel," ucap Rayen ikut menimpal namun kedua bola matanya terus menatap layar ponselnya.


Nay berjalan kearah pintu depan melihat siapa yang datang.


"nyari siapa?" tanya Nay saat sudah membuka pintu.


Seorang laki-laki berdiri membelakanginya. Dari postur tubuhnya Nay merasa tidak asing, namun pikiran yang sudah menumpuk tidak mau uang tambah lagi, pikiran itu segera ia tepis...


'mungkin terlalu rindu,'


"Assalamualaikum, mbak Silla saya Aditya asisten barunya mbak," bersamaan itu laki-laki yang entah siapa namanya memutar tubuhnya.


Kedua bola mata Nay membulat sempurna saat melihat wajah laki-laki itu, kedua kaki Nay melemas. Sebuah embun mengumpul dipelopak mata Nay.


Ini enggak mungkin, enggak mungkin ini cuman kebutulan. Ya Allah kenapa saat aku akan bangkit kembali engkau menghadiri orang yang sama persis seperti dia, aku percaya yang ada dihadapan ku ini bukan dia tapi orang lain. Karena aku melihat sendiri saat tanah menutupi tubuh kakunya yang terbungkus kain.


Nay memejamkan matanya sejenak lalu membukanya dengan perlahan. "W-waalaikumssalam, Ayo masuk,hari ini saya hanya mengasuh anak-anak saja,"


Aditya masuk kedalam diikuti Nay yang masih tercenung. Jika ini sebuah kebetulan tapi kenapa bisa sama persis, Nay sudah tak mau berharap lagi bahwa Tuhan akan mengabulkan do'a nya; mengembalikan Radit kedalam keluarga kecilnya. Namun jika melihat Aditya yang mirip dengan Radit apa Nay boleh berharap lagi? Tidak-tidak Radit tetap Radit, pasti ini hanya kebetulan. Atau bahkan ini hanya mata Nay yang sedang bermasalah hingga menganggap semuanya mirip dengan Radit.


Nay memijit pelipisnya dengan pelan. Helaan nafasnya terdengar, takdir sedang mempermainkan Nay.


Hati Nay mengatakan itu Radit namun logikanya mengatakan bahwa itu hanya mirip saja bukan Radit.


Sebenarnya apa yang tidak Nay ketahui?


"Mbak Silla apa hari ini akan pergi keluar?" tanya Aditya.


Nay mengerjapkan matanya beberapa kali membuat air matanya langsung lolos, tanpa mendongkak atau menoleh Nay menjawab.


"Enggak, saya hanya ingin istirahat," ucap Nay lalu berjalan pergi kekamarnya.


Saat ini mungkin Nay butuh menenangkan diri, itu bukan Radit. Kata itu yang selalu Nay ucapkan dalam hatinya meyakinkan dirinya.


"Mommy nangis lagi," ucap Reymond yang sudah berada dibelakang tubuh Aditya membuat pria itu langsung menoleh.


"Enggak tau,"


"Mommy tangis tau.. "


*****


"Hiks, hiks .... Kenapa? Kenapa malah kaya gini," isak Nay memedamkan wajahnya dibantal.


Dia bingung dengan hatinya yang selalu mengatakan bahwa itu Radit namun logikanya yang mengatakan itu bukan Radit. Nay bingung, kenapa saat Nay ingin bangkit melupakan semuanya termasuk Radit Tuhan malah memberikan ujian lagi.


Menghadirkan Aditya yang begitu Mirip Radit, jika Nay tidak bisa mengontrol dirinya pasti saat dia melihat wajah Aditya Nay pasti akan langsung memeluk tubuh lelaki itu, menyurahkan keluh kesah Nay yang terjadi seminggu ini.


Perasaan Nay sudah terlalu dalam kepada Radit hingga membuat wanita cantik itu sering terpuruk seperti ini, seperti kejadian lima tahun yang lalu Nay sangat terpuruk saat Radit mengatakan talak kepadanya.


Tanpa Nay sadari seseorang yang sadari tadi mengikutinya, mendengar tangis Nay yang seperti tertahan karena tak ingin keempat anaknya mendengar.


"Hanya beberapa hari lagi , tolong bersabar,"