
"Dad, Aunty baiknya pergi,"celoteh Rayen saat melihat perempuan yang menyelamatkannya tidak ada ditempat tadi.
Radit yang mendengar itu langsung menoleh, Pria itu benar-benar lupa bahwa tadi ada istrinya bahkan dia tidak memperdulikan Nay tadi.
"Ray, ayo ikut Daddy," Radit menarik tangan Rayen masuk kedalam mobilnya meninggalkan Monika.
Monika menatap mobil Radit dengan tatapan yang sulit diartikan bahkan dibibir gadis itu tercetak senyum smirk.
"Ini baru permulaan dan ini untuk membalaskan kematian kakak ku,"
*****
Tiara mondar-mandir dengan cemas karena didalam ICU kakaknya sedang ditangani oleh tim dokter.
Tadi saat Tiara baru saja keluar dari ruang dokter yang menangani tritmen suaminya. wanita itu melihat kakaknya sedang digendong oleh seorang dokter menuju ruang ICU.
"Ra, tenangin diri kamu. Percaya sama Allah kalau Nay akan baik-baik saja," Fauzan menarik lembut tangan Tiara agar duduk disampingnya.
"Kak... Takut mbak Nay kenapa-napa. Apalagi aku liat mbak Nay pendarahaan," balas Tiara mengigit jari telunjuknya karena wanita itu benar-benar khawatir dengan keadaan kakaknya.
"Mas Radit kemana coba enggak tau apa istrinya lagi masuk ICU, diteleponi malah enggak diangkat," gerutu Tiara dan Fauzan hanya menghela nafasnya karena bagaimana pun istrinya sedang difase cemas.
Tak lama kemudian pintu ICU terbuka menampak dokter yang tadi membawa Nay kerumah sakit ini.
"Dokter Farel bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Tiara kepada dokter yang menangani kakaknya.
"Dokter Silla tidak apa-apa namun kami tidak bisa menyelamatkan janinnya. Benturan itu terlalu keras dan juga tadi tidak langsung dibawa ke rumah sakit malah dibiarkan saja." jelas dokter Farel membuat Tiara langsung membulatkan matanya.
Tiara kaget dengan penjelasan dari dokter Farel. Wanita itu tidak tau bagaimana syoknya Nay saat tau jika janinnya tidak bisa diselematkan apalagi Nay sangat menyayangi janinnya.
"Apa kita boleh melihat keadaan kakak saya, dok?"
"Boleh, tapi saya akan memindahkan dulu dokter Silla keruang rawat dan saya minta jangan bahas prihak janinnya dulu untuk saat ini,"
Tiara mengangguk sebagai jawaban.
****
Suara dentuman pendeksi jantung mengema diruang serba putih dan berbau obat. Tiara menatap nanar kearah kakaknya. Wanita cantik itu menangis karena tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Nay saat mengetahui sudah kehilangan janinnya.
"Udah jangan nangis lagi. Aku udah hubungin Radit tapi enggak diangkat juga," Fauzan mengusap penggung Tiara dengan lembut mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi kak… aku enggak tau gimana reaksi mbak Nay saat mengetahui janinnya udah enggak ada," sahut Tiara masih menangis.
"Iyah… aku ngerti tapi inget kata dokter jangan sampai buat Nay berpikir dengan berat atau itu akan menguncangkan fiskis Nay," ucap Fauzan membuat Tiara langsung mengangguk ngerti..
"Kak Fau udah kabarin Ayah sama Bunda?"
"Udah, mereka bilang akan kemari besok karena mereka lagi di bali. Lagi berkunjung kerumah Nenek dan Kakek,"