Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
Dihiraukan



Bukan kata maaf yang ku butuhkan namun pembuktian darimu yang ku butuhkan saat ini. Atau aku akan menyerah detik ini juga.


*****


Setelah perdebatan semalam Nay benar-benar menjadi bungkam tidak ada pembicaraan dengan Radit seperti biasanya namun walau begitu Nay tetap menjalankan tugasnya sebagai istri, melayani nafsu suaminya.


Mendengar perkataan Radit semalam membuat Nay mengerti tentang posisinya , Radit mengatakan itu tanpa paksaan dan Nay dapat melihat itu.


Hatinya terluka mengingat begitu gampangnya Radit mengatakan semua pengorbanannya tidak ada apa-apanya ketimbang dengan keberadaan Veronika.


Boleh Nay menyerah saja namun keberadaan Rayen membuat diri Nay bertahan sampai saat ini.


"Good morning Mommy," seperti sudah kebiasaan, Rayen memeluk Nay dengan erat lalu mencium kedua pipi Nay dengan lembut.


"Morning Sayang," balas Nay.


Rayen mengamati wajah Ibunya dengan serius Rayen merasa ada yang berbeda dalam diri Nay. Sejak tadi pagi Mommy dan Daddy-nya tidak tegur sapa bahkan Rayen tidak melihat adegan romantis yang biasa dilakukan oleh Daddy-nya kepada sang Mommy.


"Mom, apa Mommy dan Daddy sedang ada masalah?" tanya Rayen. Walau Nay mempuyai sikap manja namun pikirannya sudah cukup bisa mencerna semua keadaan yang terjadi antara Nay dan Radit.


Nay menjawil hidung Rayen dengan gemas. "Tidak sayang, Mommy hanya sedang tidak enak badan saja," tidak sepenuhnya Nay berbohong. Nay memang sedikit tidak enak badan karena tubuhnya terlalu lelah untuk beberapa waktu saat ini. Menghadapi yang tidak pernah Nay hadapi selama ini.


"Apa Mommy sakit?" Tanya Rayen, khawatir.


"Tidak sayang, Mommy hanya tidak enak badan saja," Nay menyakinkan Rayen agar tidak terlalu khawatir.


"Mom ....."


Nay menempelkan jari telunjuknya dibibir Rayen menyuruh anak laki-laki itu diam.


"Mommy tidak apa-apa sayang,"


******


Nay menikmati angin sore dibalkon kamarnya, balutan gamis berwarna merah Maros senada dengan kerudung segitiganya membuat kaum adam yang memiliki iman lemah akan terpesona kepada kecantikan yang dimiliki oleh seorang Naysilla Handoko .


Cinta pertama.


Tidak ada arti apapun.


Menyerah.


Nay memejamkan matanya kala empat kata itu mengelilingi otaknya. Nay ingin melakukan kata terakhir yaitu; menyerah. Namun Nay mencintai Radit.


Sebuah kecupan dibibir Nay membuat Nay langsung membuka matanya dengan cepat. Suaminya, Radit tersenyum manis seperti tidak ada beban apapun.


Nay masih belum merespon apapun. Diam membisu itulah yang Nay lakukan saat ini.


Radit berjongkok dihadapan Nay, tangannya meraih tangan istrinya lalu menciumnya dengan lembut.


"Maaf ...." Radit menghentikan ucapannya saat lidahnya terasa kelu. "Maaf untuk semalam, saya benar-benar diluar kendali. Banyak masalah kantor yang membuat saya di luar kendali seperti semalam," ujar Radit.


Nay hanya bergeming ditempat menatap langit dengan tatapan kosong.


Hatinya terlalu perih.


Dengan semudah itu Radit mengatakan kata; maaf, bahkan semalam saja suaminya itu seperti tidak merasakan apapun selain enteng.


"Nay," panggil Radit dengan pelan. Melihat istrinya seperti ini membuat rasa bersalah menyeruk dadanya.


Lagi-lagi Nay tak bergeming sama sekali, perempuan cantik itu hanya menatap lurus kearah langit. Entahlah apa yang membuat Nay seperti ini namun yang jelas hatinya terluka mengingat kembali perkataan Radit semalam.


"Nay ....."


Nay beranjak pergi meninggalkan Radit, wanita itu malas untuk berdebat.


Radit mengepalkan tangannya merasa tidak dianggap sama sekali oleh Nay, niatnya baik. Dia hanya ingin meminta maaf kepada istrinya namun melihat respon seperti itu membuat dirinya merasa direndahkan .